My Menus

Apr 13, 2015

Geng Motor di Makassar

TUGAS
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
"GENG MOTOR DI MAKASSAR"




DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR

2014



Pengertian Geng Motor 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2001), geng berarti sebuah kelompok atau gerombolan remaja yang dilatarbelakangi oleh persamaan latar social, sekolah, dan sebagainya. Pelakunya dikenal dengan sebutan gengster. Sebuah kata yang berasal dari Bahasa Inggris yaitu gangster. Gangster atau bandit berarti suatu anggota dalam sebuah kelompok criminal (gerombolan) yang terorganisir dan memiliki kebiasaan urakan dan anti-aturan (Wikipedia Dictionary). Dan geng motor sendiri dilandasi oleh aktivitas kesenangan di atas motor. Geng motor adalah sekumpulan pemuda memiliki hobi bersepeda motor yang membuat kegiatan berkendara sepeda motor secara bersama baik tujuan konvoi maupun touring. Umumnya keberadaan mereka ada disetiap kota besar dan perilakunya telah menjadi penyakit social yang akut.

 Para Komentar Mahasiswa Mengenai Geng Motor

Ulfa Fauziah:“Geng Motor itu meresahkan masyarakat, rata-rata geng motor itu di kalangan pelajar. Geng motor beraksi pada malam hari di kawasan yang sepi bahkan ada juga geng motor yang beraksi di jalanan yang ramai. Yang baru-baru saya dengar di kawasan veteran telah terjadi pencurian motor yang dilakukan geng motor. Umumnya geng motor di picu oleh kurangnya perhatian orang tua kepda anaknya, akibat pergaulan,dan biasanya juga karena ingin mendapat uang dengan mencuri motor orang. Dampak negatif seseorang yang terjerumus geng motor adalah tercorengnya nama baik keluarga, dijauhi teman,di cap sebagai anak yang super nakal, dan lebih parahnya di penjara selam bertahun-tahun. Solusinya, orang tua harus memperhatikan anaknya apapun kegiatan yang dilakukan, aparat kepolisian harus bersikap tegas terhadap geng motor walaupun dia seorang pelajar, juga harus diberi sanksi yang setimpal,pilihlah teman yang baik, serta anak harus diberikan kegiatan kegiatan yang bermanfaat.”
 
Nursamsi:“Geng Motor adalah suatu gerombolan yang sedang marak di bincangkan sekarang ini. Gerombolan yang sangat meresahkan, gerombolan yang membuat masyarakat takut keluar malam. Para gangster ini hanya memikirkan kesenangan mereka sendiri. Mereka merasa hebat dengan apa yang mereka kerjakan, yang padahal tak ada gunanya. Suatu perkumpulan seharusnya dibentuk untuk memberikan dampak positif ataupun nilai guna bagi masyarakat, tetapi perkumpulan yang disebut geng motor ini hanya memberikan keresahan bagi masyarakat. Menutup jalan, mengadakan tawuran, perkelahian hingga pembegalan. Lagi-lagi dalam hal ini kurangnya nilai keagamaan pada diri generasi muda. Meskipun banyak faktor yang memicu adanya geng motor, tetapi apapun faktor itu, bukanlah suatu alasan untuk melakukan suatu tindakan kriminalitas. Karena tidaklah patut kita menjadikan faktor-faktor tersebut sebagai alasan dalam menghalalkan apa yang telah dilarang oleh-Nya. Oleh karena itu, betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini bagi penerus bangsa. Orang tua pun wajib melaksanakan kewajibannya sebagai orang yang telah melahirkan generasi muda ini, memberikan nafkah, kasih sayang, dan didikan-didikan yang tiada hentinya.”
 
Anis Marsella:“Sekarang ini para anggota geng motor kebanyakan sangat meresahkan masyarakat luas. Apalagi sekarang sudah banyak korban pembegalan motor dimana-mana yang kebanyakan dilakukan pada malam hari, tindakan inipun sangat membahayakan para pengendara. Geng motor kebanyakan juga anggotanya masih di bawa umur dan juga bahkan masih ada yang dari kalangan pelajar. Para geng motor ini kebanyakan hanya mencari kesenangan semata, karena faktor ekonomi, ingin ditakuti oleh masyarakat, dan faktor lingkungan pun sangat berpengaruh. Padahal banyak hal yang sangat bermanfaat dan hal-hal positif yang dapat dilakukan para geng motor ini. Pemerintah dan petugas kepolisian setempat pun harus bekerja ekstra dalam membasmi para geng motor yang sangat meresahkan. Perhatian orang tua pun juga harus ekstra supaya anaknya tidak terjerumus kedalam geng motor yang seperti ini.”
 
Samsul Bahri:“Geng Motor merupakan sebuah gerombolan atau kelompok orang yang memiliki hobi bersepeda motor, yang membuat kegiatan berkendara sepeda motor secara bersama-sama, baik tujuan konvoi maupun touring dengan sepeda motor. Geng motor awalnya dari sebuah kecenderungan hobi yang dengan beberapa orang, namun belakangan ini geng motor semakin menjadi-jadi dan semakin meresahkan masyarakat. Contonya saja di Makassar, baru-baru ini seorang anggota TNI Kodam VII/Wirabuana terkena busur di dada kanan dan punggung kiri. Ini merupakan salah satu tindakan geng motor, yang melanggar hukum dan merupakan tindakan yang zalim. Dimana firman Allah SWT yang artinya:
“Ingatlah, Sesungguhnya orang- orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal”.(QS. Asy Syuura:45)

Faktor penyebab geng motor yaitu: anak-anak muda yang senang berkumpul dan membentuk geng karena memiliki kesamaan hobi sehingga lambat laun akan bertambah banyak dan semakin brutal, kurangnya perhatian dari orang tua dan lambannya respon dari aparat kepolisian untuk mrncegah besarnya geng motor sehingga mereka merasa bebas melakukan apa-apa yang mereka inginkan.”
 
Syarifuddin:“Menurut saya Geng Motor sudah menjadi penyakit masyarakat. Bukan cuma meresahkan, geng motor juga menumbuhkan rasa takut, rasa resah, rasa ngeri. Rasa takut masyarakat nyaris sudah menjadi bagian dari keberadaan geng motor, karena geng motor identik dengan kekerasan, kebrutalan, terror, bahkan maut. Aksi mereka benar-benar merupakan terror karena dilakukan terencana, terorganisasi rapi, di tujuh titik dalam radius relatif luas. Mereka melakukan perusakan fasilitas umum, juga menghajar sebarang orang sampai babak belur, bahkan seorang korban kemudian tewas di rumah sakit. Geng motor ini sangatlah meresahkan masyarakat karena banyak tindakan-tindakan kejahatan yang dilakukan yang dapat merugikan bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Geng motor yang marak di kenal akhir-akhir ini telah banyak menelan korban, baik dari kalangan masyarakat maupun dari kalangan mahasiswa. Mereka tidak tanggung-tanggung untuk melukai korbannya agar apa yang diinginkan itu bisa trcapai. Para anggota geng motor ini sebagian besar adalah kalangan anak muda atau remaja yang tidak sekolah, bahkan remaja yang sementara menempuh pendidikan di tingkat SMP, SMA, maupun Mahasiswa. Sungguh sangat di sayangkan, anak muda yang harusnya belajar dengan baik dan merupakan harapan bangsa untuk masa depan,  justru berbuat hal-hal yang sangat buruk. Hal ini tidak lepas dari kurangnya pengawasan orang tua akan pergaulan anak-anaknya, pergaulan dengan teman-teman yang salah, dan juga dari segi ekonomi dimana harus memenuhi banyak kebutuhannya dengan serba kekurangan. Bahkan karena adanya solidaritas dalam geng motor itu yang berpikiran bahwa “tidak ikut berarti tidak solid”.

Geng motor ini haruslah ditumpas habis hingga ke akar-akarnya. Aparat kepolisian harus lebih tegas untuk menumpas kasus ini, dengan patrol setiap malam di tempat-tempat yang rawan. Selain itu, orang tua juga harus meningkatkan pengawasan kepada anak-anaknya dan memberi perhatian selalu; para  remaja harus bergaul dengan yang baik; dan adanya pendekatan khusus kepada anggota-anggota geng motor dengan sosialisasi-sosialisasi tentang moral dan kultular agar pelakunya bisa insyaf dan berubah menjadi sekedar perkumpulan komunitas penggemar motor, bukan kumpulan penjahat pembobol motor.”
 
Nurmadinah:"Geng motor merupakan sekumpulan  anak muda yang ingin eksis di jalan yang salah. Biasanya para anggota geng motor itu berasal dari remaja yang tidak menemuka kenyamanan di dalam rumah, mereka merasakan kebebasan dalam geng. Geng motor sangat meresahkan warga dan merusak fasilitas umum, seperti halnya minimarket di sepanjang jalan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyerang pengguna jalan. Sebenarnya kejadian ini sangat disayangkan. Keluarga merupakan pemeran utama dalam mendidik dan membina anak, khususnya orang tua. Mereka harus bisa mengontrol tindak tanduk perkembangan anak, agar perkembangan geng motor bisa dihambat.”
 
Kesimpulan Geng motor adalah suatu perkumpulan yang di dalamnya terdapat kebersamaan akan hobi berkendara motor. Akan tetapi, cenderung kehal-hal negatif seperti penganiayaan, perampokan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Dan barang tentu ini adalah suatu keresahan dalam masyarakat. Banyak faktor yang memicu adanya Geng Motor, baik faktor internal seperti kurangnya perhatian orang tua; maupun eksternal (lingkungan, pendidikan, ekonomi,dll).

Melihat faktor-faktor  yang memicu adanya geng motor maka  hal yang perlu di lakukan adalah: •Menanamkan nilai keagamaan sejak dini pada anak;
•Orang tua harus memberikan perhatian, pengawasan, dan didikan kepada anaknya secara terus-menerus;
•Pemerintah dan aparat kepolisian harus bersikap tegas dalam menindaklanjuti kasus geng motor;
•Menyediakan sarana untuk kesempatan belajar bekerja di tempat-tempat yang membangun;
•Memberikan pendekatan-pendekatan moral dan keagamaan bagi para gangster-gangster yang telah ada.

Apr 9, 2015

Tugas-tugas Perkembangan babyhood sampAi masa tua/lansia

TUGAS
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
"PERKEMBANGAN BABYHOOD SAMPAI MASA TUA"



DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014

Bismillahi rahmani rahim
Alhamdulillahi, akhirnya selesai juga mengenai tugas-tugas perkembanga baik itu dari babyhood, masa kanak-kanak, masa anak-anak, masa pubertas, masa remaja,dewasa madya, ataupun masa tua / lansia :
1.Tugas perkembangan babyhood secara umum
Adapun tugas perkembangan pada masa babyhood, antara lain:
a) Belajar makan dan mengendalikan buang air kecil dan besar
b)Memperoleh keseimbangan psikologi.
c)Belajar konsep sederhana tentang realitas sosial dan fisik.
d)Belajar menjalin hubungan emosi dan orang sekitarnya.
e)Belajar berjalan.
f)Belajar membedakan jenis kelamin dan menghargainya.
g)Belajar membedakan antara yang benar dan yang salah.
h)Belajar mengembangkan hati nurani.

2.Tugas perkembangan  masa kanak-kanak
a)Menguasai kemampuan fisik dasar untuk bermain.
b)Bisa bermain dengan teman sebaya.
c)Membentuk sikap positif terhadap diri sendiri.
d)Mempelajari peran gender yang sesuai.
e)Mengembangkan kemampuan dasar dalam membaca, menghitung, dan menulis.
f)Mengembangkan hati nurani, moralitas, dan sistem nilai.
g)Memiliki kemandirian dasar dalam kegiatan sehari-hari.
h)Mengembangkan sikap yang tepat terhadap kelompok sosial tertentu.

3.Tugas perkembangan pada masa anak-anak
Menurut Havighurst ( dalam Hurlock, 1980) tugas perkembangan pada masa anak-anak adalah sebagai berikut:
a)Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
b)Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh.
c)Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya.
d)Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat.
e)Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
f)Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan seharti-hari.
g)Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai.
h)Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga.
i)Mencapai kebebasan pribadi.

4.Tugas perkembangan masa pubertas
Semua tugas perkembangan masa pubertas berfokus pada usaha mempersiapkan diri dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa dengan cara:
a)Mencapai relasi yang lebih matang dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang berbeda.
b)Mencapai peran sosial feminim atau maskulin.
c)Menerima bentuk perubahan fisik dan menggunakannya.
d)Meminta, menerima, dan mencapai perilaku yang bertanggung jawab secara sosial.
e)Mencapai kemandirian secara emosional dari orang tua ataupun orang dewasa lainnya.
f)Mempersiapkan diri dalam penyesuaian diri pada norma-norma lingkungan sosial.

5.Tugas perkembangan masa remaja
 
Adapun tugas perkembangan pada masa remaja, antara lain :
a)Menerima keadaan jasmani yang sebenarnya dan memanfaatkan.
b)Memperoleh hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya antara dua jenis kelamin.
c)Memperoleh kebebasan emosional dari orang tua.
d)Mendapatkan perangkat nilai hidup dan filsafat hidup.
e)Memiliki citra diri yang realistis.

6.Tugas-tugas perkembangan dewasa madya
Batasan usia untuk dewasa madya adalah antara 35-45 tahun. Pada kebanyakan orang tanda dari dewasa madya ditandai dengan kemajuan pekerjaan, perkawinan, meningkatnya ekonomi, aktif untuk mengikuti kegiatan sosial, dan dorongan seks bertambah sehingga disebut masa puber kedua, mengurangi kegiatan yang banyak yang dilakukan secara fisik dan masa breakdown secara fisik seperti mulai sakit-sakitan.

Seperti halnya dengan tugas-tugas perkembangan periode lain, maka tugas-tugas perkembangan masa dewasa madya tidaklah sepenuhnya dapat dikuasai dalam waktu sama oleh setiap orang. Hanya beberapa tugas yang bisa dikuasai sepenuhnya. Kondisi ini selalu bervariasi untuk setiap individu. Kebanyakan tugas-tugas perkembangan usia dewasa madya adalah persiapan penyesuaian diri dalam mengatur dan menentukan kebahagiaannya di masa tua.

Tugas-tugas perkembangan masa dewasa madya adalah menyesuaikan diri pada perubahan dan penurunan kondisi fisik, menyesuaikan diri dalam perubahan minat, atau menyesuaikan diri kepada relasi keluarga dan pasangan hidup.

7.Tugas perkembangan di masa tua / lansia
Tugas-tugas perkembangan di masa tua menurut Havighurts:
a)Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan.
b)Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income ( penghasilan) keluarga.
c)Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup.
d)Membebntuk hubungan dengan orang-orang yang seusia.
e)Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan.
f)Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes.

DAFTAR PUSTAKA
Herri zan pieter, Dr. Namora lumongga Lubis,. Pengantar Psikologi untuk Kebidanan, Edisi Revisi.2010.Jakarta:P.T Fajar Interpratama Mandiri. KENCANA PERNADA MEDIA GROUP

Hurlock,1980,Psikologi Perkembangan ( Edisi kelima), Jakarta:Erlangga

Apr 5, 2015

Aliran Syi`ah di Indonesia

MAKALAH AQIDAH AKHLAK
"ALIRAN SYI`AH DI INDONESIA"



DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014



BAB I
 PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perkembangan umat manusia selalu mangalami perubahan taupun Revolusioner dalam khidupan, Sejalan dengan itu peradaban Umat islam berdasarkan kronologi nya mengalami berbagai masalah, rintangan, serta perubahan prilaku secara drastis. Peradaban demi peradaban terlalui maka umat islam mengalami perpecahan setelah Wafat nya baginda rasulullah saw, dikaraenakan beberapa Khalifah di bawah rasul kurang etis  dalam pelakukan proses perpolitikan di antara sesama nya, Di antara nya maalah pembaiatan Ali bin Abi thalib kemudian permassalahn tahkim yang di lakukan nya terhadap mu’awiyah bin Abu sofian sehinngga menimbulkan dua kubu atau pengikut setia di antara kedua para kalifah tersebut. Para pengikut Ali bin Abi Thaleb dapat di katakann sebagi syi’ah, maka disinilah akan sededikit kami interpretasikan tentang pengikut Ali Bin Abi thaleb tersebut.

Kata Syi’ah berarti “pengikut” atau “penolong” dan kata musyaaya’ah sepadan dengan kata musaasharah. Istilah ini dipungut dari peristiwa masa lalu yaitu khalifah ketiga, Ustman bin Affan terbunuh, yang mengakibatkan kaum muslimin terbagi menjadi dua golongan. Sebagai besar menjadi syi’ah (pengikut) Ali dan sebagian kecil menjadi syi’ah muawiyah.

Seiring dengn berjalannya waktu dan perkembangan zaman istilah syi’ah lebih lebih dinisbatkan kepada kelompok pengikut Ali bin Abi thalib, dan pemihakan kepada Ali berubah menjadi berubah menjadi pengutamaan Ali dan para cucunya. Sehingga lambat laun tumbuh keyakinan bahwa khalifah dan kepemimpinan ummat adalah hak mutlak bagi Ali dan keturunannnya.

Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlussunnah (Sunni) dan Syi’ah. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa dua aliran besar teologi ini kerap kali terlibat konflik kekerasan satu sama lain, sebagaimana yang kini bisa kita saksikan di negara-negara seperti Irak dan Lebanon. Terlepas dari hubungan antara keduanya yang kerap kali tidak harmonis, Syi’ah sebagai sebuah mazhab teologi menarik untuk dibahas. Diskursus mengenai Syi’ah telah banyak dituangkan dalam berbagai kesempatan dan sarana. Tak terkecuali dalam makalah kali ini. Dalam makalah ini kami akan membahas pengertian, sejarah, tokoh, ajaran, dan sekte Syi’ah. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan gambaran yang utuh, obyektif, dan valid mengenai Syi’ah, yang pada gilirannya dapat memperkaya wawasan kita sebagai seorang Muslim.

Dengan penjelasan diatas penulis bermaksud untuk membuat makalah ini dengan tujuan untuk lebih memahami kan adanya aliran syia’ah dengan pola pikir yang di gunakan sebagai landasan pemikiran golonga  syi’ah baik secara klasik maupun secar modern. Semoga dengan mengkaji teologi tentang golongan syi’ah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan bagi semua pembaca.

B.Rumusan Masalah1.Apa pengertian Syi’ah?
2.Bagaimana sejarah lahirnya Syi’ah?
3.Apa saja aliran – aliran teologi Syi’ah?
4.Bagaimana pokok pemikiran teologi Syia’h?
5.Apa kesesatan dan penyimpangan Syi’ah?

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Syi’ah
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah Syi’i (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.  Istilah Syi’ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة  SyÄ«`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah SyÄ«`Ä«  شيعي. “Syi’ah” adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya “pengikut Ali”, yang berkenaan tentang Q.S. Albayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: “Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung” (ya Ali anta wa syi’atuka humulfaaizun).
Syiah secara etimologi berasal dari kata kerja dasar syaya’a yang berarti mendukung, membela, dan ,menolong. Kata  syi’ah berarti para pendukung dan pembela. 

Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat menggunakan kata Syi’ah dengan arti penolong, pengikut dan pendukung, diantaranya adalah dalam QS al-Qasas (28: 15).
Terjemahan:
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah. Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya.

Syiah artinya pendukung, maksudnya pendukung Ali bin Abi Thalib. Pada akhir masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan, seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba menyatakan diri masuk Islam. Sewaktu masih menganut agama Yahudi ia pernah mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun adalah seorang yang diberi wasiat oleh Nabi Musa untuk melanjutkan memimpin Bani Israil. Setelah masuk Islam, dia menghembuskan doktrin bahwa Ali telah menerima wasiat dari Nabi Muhammad sebagai khalifah sepeninggal beliau. Lebih dari itu Abdullah bin Saba mengajarkan bahwa pada diri Ali itu mengandung unsur ketuhanan.

B.Sejarah lahirnya Syi’ah
Kata Syi’ah dalam pengertian terminologi berarti para pengikut ‘Ali Bin Abi Thalib dan para pembelanya sejak zaman Nabi Muhammad saw. Keberadaan Syi’ah sebagai pengikut ‘Ali Bin Abi Thalib sudah muncul sejak nabi Muhammad saw. masih hidup. Hal ini berangkat dari beberapa riwayat tentang adanya keharusan mencintai dan menjadi pengikut keluarga Nabi saw.

Kalangan Syi’ah menegaskan bahwa keberadaan Syi’ah sebagai suatu kaum telah ada semenjak zaman Nabi Muhammad saw, sejak zaman Nibi Muhammad saw. terdapat  sekelompok pecinta Ali Bin Abi Thalib yang di sebut Syi’ah ‘Ali Bin Abi Thalib seperti salman al-Farisi, Abu Zar al-Gaffari, Miqdad ibn Aswad dan ‘Ammar ibn Yasir. Sebagaimana argumentasi yang dinyatakan Muhammad al-Husein al-Kasyif al-Gita’, bahwa Syi’ah telah ada sejak zaman Nabi saw, dan telah tercatat tidak kurang dari 300 sahabat yang menjadi Syia’ah “Ali Bin Abi Thalib termasuk Ibn Abbas, dan simpatisannya melebihi jumlah tersebut. 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Sy’iah memang tampak jelas - jelas setelah Nabi Muhammad saw wafat, pada waktu yaum al-Saqifah. Keluarga Nabi (Ahl al-Bait) sibuk mengurus jenazah Nabi saw, sedangkan beberapa sahabat berkumpul dan menunjuk Abu Bakar sebagai Khalifah. Ketika Ahl al-Bait dan pencintanya seperti Ibn Abbas menyampaikan protes kepada ‘Umar ibn al-Khattab tentang kekhalifahan, ‘Umar ibn al-Khattab memberikan jawaban ‘Ali ibn Abi Thalib yang paling pantas menjadi khalifah, namun ia harus disingkirkan karena alasan bahwa ia masih telalu muda, Ali ibn Abi Thalib terikat keturunan ‘Abd al-Muttalib, dan orang tidak ingin kenabian dan kekhalifahan berhimpun dalam suatu keluarga. Karena protes ini maka pengikut-pengikut ‘Ali ibn Abi Thalib berpisah dan membentuk kelompok minoritas yang dikenal senabagai Syi’ah Ali.

Masalah khalifah sesudah rasul wafat, merupakan fokus perselisihan di antara golongan besar, yaitu: Golongan Ansar, Muhajirin, dan Bani Hasyim. selain itu sebenarnya masih ada kelompok terselubung yang cukup potensial dalam mewujudkan ambisinya sebagai penguasa tunggal, ialah golongan bani umayyah. sikap golongan terakhir ini, tercermin pada sikap tokoh utamanya yaitu Abu sufyang yang enggan membai’at khalifah Abu Bakar, sekembalinya dari syaqifah menuju mesjid nabawi bersama-sama dengan umat islam lain, sebagai yang dilakukan kaum bani hasyim.

Pendapat yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahran menunjukkan bahwa Syi’ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan ‘Usma ibn Affan, tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan ‘Ali ibn Abi Thalib.

Setelah Usman wafat, ali adalah calon utama untuk menduduki jabatan khalifah. pembai’atan khalifah kali ini, segera mendapat tantangan dari dua orang tokoh sahabat yang berambisi menduduki jabatan tersebut. Kedua tokoh tersebut adalah Thalhah dan Zubair yang mendapat dukungan dari A’isyah, untuk mengadakan aksi militer yang dikenal dengan perang jamal. Akhirnya kedua tokoh tersebut terbunuh, sedangkan A’isyah, oleh khalifah Ali dikembalikan ke madinah.

Pendapat al-awad yang dikutip oleh Prof. H. Abu Bakar Atjeh dalam bukunya perbandingan mahzab syi’ah, menjelaskan bahwa lahirnya syia’ah bersamaan dengan lahirnya nas (Hadis) mengenai pengangkatan Ali bin Abi bin Thalib oleh nabi sebagai khalifah sesudahnya. Nas yang dimaksud antara lain, mengenai kisah perjamuan makan dan minum yang diselenggarakan oleh Nabi di rumah pamannya Abu Thalib, yang dihadiri oleh 40 orang sanak keluarganya. Dalam perjamuan itu beliau menyatakan :’… Inilah dia (ali) saudaraku, penerima wasiat dan khalifahku untuk kalian, oleh karena itu, dengar dan taanti (perintyahnya)…”  Pernyataan ini disampaikan oleh nabi setelah ali menerima tawaran beliau sebagai khalifahnya. Nas  seperti ini jelas tidak terdapat dalam kitab shahih al-bukhari dan shahih muslim, karena itu golongan sunni menolak nas tersebut bila dijadikan dalil untuk mengklaim kekhalifahan Ali sebagaimana yang di kehendaki oleh kaum syi’ah.

Dalam sejarah tidak begitu jelas kapan istilah ini muncul, namun umumnya istilah ini merujuk kepada pendukung Ali, yang muncul setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw. Istilah ini lebih populer lagi dan mengkristal setelah terjadinya pertempuran shiffin dan peristiwa al-tahkim. Dalam peristiwa tersebut terdapat kelompok yang menentang Ali yang kemudian disebut sebagai kelompok khawarij, dan orang-orang yang masih tetap setia mendukung Ali yang disebut Syi’ah Ali.

Ada beberapa alasan mengapa kelompok ini begitu menginginkan Ali menjadi penggan Nabi. Bagi Syi’ah, Ali adalh pemegang hak kekuasaan setelah wafat nabi Muhammad saw (632M) diantara pernyataan Nabi saw pada saat itu adalah: “barang siapa yang menganggapku sebagai pemimpinnya (mawla), mulai saat ini hendaklah menganggap ali sebagai pemimpinnya”.

Perumusan pengertian Syi’ah secara sempurna memang dipandang sangat sulit karena Syi’ah telah melalui proses sejarah yang panjang dengan segala peristiwa yang ikut mempengaruhi ajarannya. Namun, secara umum Syi’ah adalah kelompok masyarakat yang menjadi pendukung ‘Ali ibn Abi Thalib, dan meyakini bahwa ‘Ali ibn Abi thalib mendapat wasiat kepemimpinan dari Nabi Muhammad saw. serta hak kepemimpinan tidak boleh keluar dari keturunannya. Sedangkan secara teminologis adalah sebagian kaum Muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad saw. Atau Ahl al-Bait. Karena poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah segala petunjuk agama (Islam) bersumber dari Ahl al-Bait Nabi Muhammad saw.

C.Aliran –aliran Teologi Syi’ah
Munculnya sekte-sekte syi’ah bermula dari masalh imamah atau kepemimpinan. Yaitu siapakah yang berhak menjadi pemimpin setelah terbunuhnya Husain, oleh karena pada saat itu belum ada di antara putera-puteranya yang mencapai dewasa. Rupanya kaum syi’ah sulit menghindari perpecahan, karena timbulnya tiga kelompok yang berbeda paham.

a.Imamiyah ( Isna ‘Asyariyah)
Syi’ah Imamiyah atau Isna ‘Asyariyah merupakan salah satu kelompok dalam Syi’ah yang terbesar. Kelompok Syi’ah ini meyakini dua belas Imam mas’um setelah Nabi Muhammad saw. Sehinhha di namakan juga Syi’ah Isna Asyariyah. Istilah Isna ‘Asyariyah memiliki arti dua belas, yang berarti Syi’ah dua belas. Oleh karena itu mereka betul-betul menolak kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Dua belas Imam dalam keyakinan Syi’ah Isna ‘Asyariyah tersebut adalah ‘Ali ibn Abi Thalib, Hasan, Husain, ‘Ali Zain al-‘Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far al-Sadiq, Musa al-Kazim, Ali al-Rida, Muhammad al-jawwad, ‘Ali al-Hadi, Hasan al-Askari, Muhammad al-Mahdi. 

b.Syi’ah Zaidiyyah
Sekte ini berdiri sesudah berselang 60 tahun setelah Husain wafat, dibawah pimpinan imam Zaid ibn Ali. sekte ini memiliki persyaratan khusus dalam memilih seorang imam yaitu seorang yang alim, zahid (sangat berhati-hati dengan urusan dunia), pemberani, pemureah dan mau berjihad di jalan Allah guna menegakkan keimanan taat pada agama baik dari putera hasan atau Husain.

Sekte ini yang paling dekat kesunni di karenakan tidak mengangkat para imam kederajat kenabian, bahkan tidak sampai mendekati derajat itu. Namun mereka memandang para imam sebagai manusia paling utama setelah Nabi Muhammad saw. Mereka pun tidak mengkafirkan para sahabat, khususnya mereka yang di bai’at ‘Ali, dan mengakui kepemimpinan mereka.

c.Syi’ah Kaisaniyah
Dilihat  dari eksistensi dan gerakannya, golongan ini dapat dikatakan sebagai sekte tertua dalam syi’ah. sekte ini mengangkat Muhammad ibn Hanafiyyah sebagai imam, sedangkan ajarannya bersumber pada ajaran ibn saba’ dan golongan saba’iyyah.
Sekte ini berpandangan bahwa setelah ‘Ali dan kedua puteranya (Hasan dan Husain) kepemimpinan diserahkan kepada puteranya ‘Ali yang lain (dari ibu lain) yang bernama Muhammad bin Hanafiyah, dan kedua putera-puteranya (mereke disebut Kaisaniyah yang dinisbahkan kepada Kaisan.

d.Syi’ah Isma’iliyah (sab’iyah)
Sekte Isma’iliyah merupakan bagian bagian dari sekte Imamiyah. Nama sekte ini dinisbatkan kepada Isma’il bin Ja’far al-Sadiq. Ia dalah imam keenam dalam aliran Imamiyah Dua belas dan imam berikutnya adalah Musa al-Kazim sebagai imam ketujuh. Namun aliran Isma’iliyah menetapkan bahwa imam ketujuh adalah anaknya yang bernama Isma’il. Mereka mengatakan bahwa hal itu berdasarkan nash dari ayahnya, Ja’far, tetapi Isma’il wafat mendahului ayahnya.

e.Syi’ah Gulat
Sekte Ghulat adalah sekte-sekte Syi’ah yang dianggap ekstrem dan sudah dianggap keluar dari Islam. Menurut Abdul Qahir bahwa sekte-sekte ini adalah golongan yang menuhankan para imam, menghalalkan yang diharamkan oleh syari’ah dan menggugurkan kewajiban fardu Syari’ah.

D.Pokok Pemikiran Teologi Syi’ah
Konsep Imamah merupakan persoalan mendasar dalam pandangan Syi’ah, karena Imamah sebagai bagian dari rukun iman mereka. Kepemimpinan Ali di akui oleh Syi’ah karena Ali memiliki hak atas kekhalifahan berdasarkan ketetapan Tuhan, dan telah menerima mandate yang istimewa tersebut dari nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, keistimewaan ali adalah dia memiliki otoritas spiritual yang melekat pada dirinya, dan kemudian beralih pada anak dab keturunannya yakni melalui Ali dan Fatimah binti Nabi Muhammad yang kemudian dikenal dengan istilah ahl al-bait.

Berbeda dengan sekte Syi’ah pada umumnya, Syi’ah Zaidiyah  berpendapat bahwa imamah itu tidak melalui nash dan wasiat dari imam yang mangkat kepada imam yang datang sesudahnya (bukan jabatan warisan). Konsep ‘Ismah juga menjadi salah satu poin penting pemikiran Syi’ah. Konsep ini sangat terkait dengan konsep imamah karena diterapkan terhadap para imam. ‘ismah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi Muhammad saw. telah di jamin oleh allah swt. Dari segala bentuk perbuatan salah atau lupa. Menariknya, Syi’ah Zaidiyah menolak prinsip tentang kesucian imam dari dosa yang besar dan dosa kecil, bagi mereka imam itu manusia biasa yang mungkin akan melakukan kesalahan. 

Syi’ah juga memiliki doktrin al-Raj’ah yaitu kembalinya imam ketengah masyarakat setelah lewat masa ghaib atau masa bersembunyi dari pandangan pengikutnya. Dalam keyakinan Syi’ah, imam al-Hasan al-‘Askari meninggalkan seorang putera yang berusia sekitar 4 atau 6 tahun, yang bergelar Imam Mahdi. Ia lari dan bersembunyi dalam lubang Sardab di rumah ayahnya di Irak setelah di nobatkan oleh ayahnya sebagai imam ke-12. Imam baru akan menampakkan diri lagi saat kiamat sudah semakin dekat.

Syi’ah Zaidiyah menolak ketidak hadiran imam, karena ahlul hal wa al-aqd hanya dapat memilih imam kalau seandainya calon imam itu ada di tengah mereka, atau menurut mereka kehadiran imam merupakan syarat umum. Oleh karena itu Zaidiyah tidak mengakui tentang keberadaan Imam Mahdi. Sebagai doktrinnya Syi’ah juga memiliki kesamaan dengan Mu’tazilah. Syi’ah dalam pandangan teologinya menolak paham bahwa Al-Qur’an itu qadim dan juga menolak paham melihat Tuhan di akhirat. Dan mengenai sifat Allah, Syi’ah meniadakan sifat dari zat Allah. Penetapan sifat menurutnya merupakan penyamaan dengan makhluk.

Selain itu, Syi’ah juga menganut paham taqiyyah yaitu menyembunyikan identitas aqidah sebagai penjagaan diri dari musuh. Taqiyah ini menurut mereka merupakan salah satu prinsip utama agama yang tidak boleh ditinggalkan, bahkan mereka memandang wajib melakukan taqiyah.  
Pada umumnya bangunan teologi kaum Syi’ah, mengandung prinsip ajaran yang dikenal dengan lima rukun iman yaitu:
1.Prinsip tauhid, yaitu kepercayaan akan keesaan Tuhan.
2.Prisip al-Nubuwah, yakni percaya kepada kenabian Nabi Muhammad saw.
3.Prinsip al-Ma’ad, yakni keimanan akan hari kebangkitan.
4.Prinsip al-‘Adl, yakni keimanan akan keadilan Allah.
5.Prinsip Imamah, yaitu percaya kepada Imam. 

Dalam hal keimana ini, tampak Syi’ah tidak menyebutkan butir-butir kepercayaan kepada para malaikat, kitab, dan qada-qadar seperti yang terdapat dalam prinsip keimanan masyarakat sunni. Meski demikian, bukan berarti mereka tidak percaya kepada malaikat atau kitab-kitab, tetapi komponen itu bukan sistematika yang dirumuskan menjadi prinsip rukun iman tersebut. Perbedaan seputar rumusan rukun iman sebagai prinsip dasar aqidah dalam islam tidak mengherankan sebab bangunan rukun iman secara rinci sebagaimana diyakini selama ini dirumuskan kemudian. 

E.Kesesatan Dan Penyimpangan Syiah
Adapun kesesatan dan penyimpangan syi’ah adalah sebagai berikut :
1.Syiah memandang imam itu ma’shum (orang suci)
2.Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/ pemerintahan (imamah) adalah rukun agama.
3.Syiah menolak hadits yang diriwatkan oleh Ahlul Bait.
4.Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman.
5.Syiah menghalalkan nikahmut’ah (kawin kontrak) yang sudah dihamkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
6.Para imam dianggap ma’shu,itu bertentangan dengan islam, karena yang ma’shum hanyalah nabi. Bahkan syiah sendiri sampai kemudian membatasi kewengan imam setelah kasus imam Khomeini yang cenderung menuruti kehendak hawa nafsunya hingga akan mengakibatkan hancurnya rakyat Iran karena tetap diharuskan berperang dengan Irak, maka kemudian dibatasilah wewenang imam.
7.Syiah menggunakan senjata taqiyyah yaitu berbohonh, dengan cara menampakkan sesuat yang berbeda yang sebenarnyauntuk mengelabui.

Syiah telah terang-teranagan memporak-porandakan ajaran islam dan umat islam sejak adanya anggapan bahwa yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallamadalah Ali binAbi thalib. Anggapan itu bukan sekadar tak mengakui kekhalifahan Abu bakar Ash-shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, tetapi sampai mengkafirkan ara sahabat yang yang termasuk dijamin masuk surga oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam itu. Bahkan lebih dari itu, syiah menganggap yang menjadi khalifah Ali binAbi thalib serta keturunanya sampai 12 orang yang disebut imam dan dianggap ma’shum terpelihara dari kesalahan-hesalahan.

Menurut sesorang Ulama Syi’ah al-Mufid dalam kitab Awail al-Maqalat, menyatakan bahwa Alqur’an yang ada saat ini tidak orisinil. Alqur’an sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangn.

Penyimpangan oleh gejala kafir- mengkafirkan ini kemudian menjadi lembaran hitam sejarah Islam dan mewarnai penyebarannya ke berbagai daerah di dunia, termasuk di Indonesia. Hari ini, Syiah di Indonesia dianggap kelompok sempalan atau bid’ah (heretical), dan pengganggu keamanan. Banyak buku-buku tentang Syiah di Indonesia dilarang, dan pengikutnya dianggap sesat. Sebagian besar ulama Sunni yang banyak diikuti oleh umat Islam di Indonesia menjelaskan sembilan persoalan mengapa Syiah dilarang dan ditentang penerapannya di Indonesia; yakni pemahaman kelompok ini terhadap al Quran, Sunnah dan Hadits, ijma, Rukun Islam dan Rukun Iman, imamah, Ahlul Bait, sahabat Nabi, at Taqiyah, dan nikah Muth’ah.

Meski demikian, ada sebagian pendapat mazhab ini dipraktekan dalam kehidupan kaum Sunni di Indonesia, misalnya tidak sah talak jika tidak dipersaksikan oleh dua orang. Dalam konteks historis, tidak terlalu banyak data-data sejarah menyangkut kedatangan dan peran aliran Syiah di Indonesia. Dalam masyarakat Indonesia, Syiah merupakan salah satu dilema dalam kehidupan beragama. Di satu sisi ulama- ulama Syiah menjadi pionir bagi proses Islamisasi di berbagai daerah. Di sisi lain Syiah merupakan pemahaman keagamaan yang sulit ditelusuri dalam kehidupan keagamaan masyarakat Muslim Indonesia hari ini. Kini, warisan pemahaman Syiah, salah satunya, hanya dapat dilacak dalam tradisi masyarakat pantai barat Sumatra; masyarakat Pariaman. 

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari penjelasan yang dijelaskan pada bab pembahasan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai golongan syi’ah, yaitu antara lain sebagai berikut:
1.Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syi’ah Ali adalah pendukung atau pembela Ali.  
Syi’ah Mu’awiyah adalah pendukung Mu’awiyah. Pada zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman kata Syi’ah dalam arti nama kelompok orang Islam belum dikenal. Kalau pada waktu pemilihan kholifah ke-tiga ada yang mendukung Ali, tetapi setelah ummat Islam memutuskan memilih Utsman bin Affan, maka orang-orang yang tadinya mendukung Ali, akhirnya berbai’at kepada Utsman termasuk Ali. Jadi, belum terbentuk secara faktual kelompok ummat Islam bernama Syi’ah.

2.Pendapat mengenai awal mula lahirnya Syi’ah  yaitu:
a.Sebagian menganggap Syi’ah lahir langsung setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshar di Balai Pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Pada saat itu muncul suara dari Bani Hasyim dan sejumlah kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi ‘Ali bin Abi Thalib. Sebagian yang lain menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan atau pada masa awal kepemimpinan ‘Ali bin Abi Thalib.

b.Pendapat yang paling populer adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan Khalifah ‘Ali dengan pihak pemberontak Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Shiffin, yang lazim disebut sebagai peristiwa tahkîm atau arbitrasi. Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan ‘Ali memberontak terhadap kepemimpinannya dan keluar dari pasukan ‘Ali. Mereka ini disebut golongan Khawarij. Sebagian besar orang yang tetap setia terhadap khalifah disebut Syî’atu ‘Alî (pengikut ‘Ali).

B.Saran
Ajaran dalam Syi’ah amatlah banyak dan berbeda-beda, sehingga kita harus mencari dan mengetahui ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, dan tokoh-tokoh yang berdampak besar dalam golongan ini. Selain itu, di dalam aliran Syi’ah ini terdapat banyak  bagian-bagian dan perbedaan pendapat dalam bertahuid. Yang ditandai dengan munculnya beberapa sekte seperti Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaum Gulat.

Hal ini menuntut kita untuk selalu berhati-hati serta mengantisipasi atas adanya doktrin keras yang mungkin berkembang, atau bahkan telah begitu pesat dalam penyebarluasan ajarannya ke negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Indonesia. Salah satunya adalah menyatakan bahwa Ali Bin Abi Thalib  sangat utama di antara para Sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin. Bahkan yang lebih parah adalah yang memuja dan menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib bukan manusia biasa, melainkan jelmaan Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri.

Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita harus selalu cermat serta berhati-hati dalam meyakini dan mempelajari suatu aliran baik itu Syi’ah maupun aliran pemikiran yang lain. Selain itu, jangan sampai terlalu fanatik, karena fanatisme akan berdampak pada keburukan. Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Hartono.2010.Aliran dan Paham Sesat.Jakarta: Pustaka AL-Kautsar
Amin, Ma’ruf, dkk. 2013. Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah. Jakarta : MUI
Barsihannor MZ. 2013.Dialog Tiga Mazhab Besar Teologi Islam. Makassar: Alauddin University Press
Depertemen Agama RI. 1989. A-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Revisi. Semarang: CV. Putra Toha,
Fathoni, Muslih. 2002. paham mahdi syi’ah dan ahmadiyyah dalam perspektif.    Jakarta:PT. Raja grafindo 
persada
Ibrahim Madkour. 1995.Aliran dan Teori Filsafat Islam Cet. I; Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Kamil al-hasyimi, Muhammad. 1989. hakikat akidah syi’ah (aqidus-syi’ah fil-mizan). Jakarta:PT. bulan bintang
Muhammad Abu Zahran. 1996.Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam. Jakarta: Logos     publishing House.
http://zulfata.blogspot.com/2014/12/makalah-ilmu-kalam-aliran-syiah.html
https://anasunni.wordpress.com/2014/12/17/makalah-ilmu-kalam-tokoh-ajaran-syiah/

Apr 4, 2015

Ayam Kampus di Makassar

AYAM KAMPUS
 
Bismillah...
Alhamdulillahi rabbil alamin, setelah terkumpulnya semua komentar dari beberapa mahasiswa, mengenai fenomena ayam-ayam betina (ayam Kampus), yang telah merajalela di setiap kampus Swasta maupun Negeri di daerah Makassar dan sekitarnya.
A.Pengertian Ayam Kampus
Ayam kampus ialah Mahasiswi yang merangkap sebagai pelajar tidak ubahnya pelacur sambil kuliah. Faktor  penyebab mahasiswi dalam kehidupan ini bisa dari faktor  internal misal dari dalam diri mahasiswi yaitu perkembangan dan keadaan jiwanya. Selain itu , faktor eksternal yaitu erat hubungannya dengan lingkungan pergaulan.

B.Komentar
Menurut Syarifuddin: ayam kampus itu pekerjaan yang sangatlah tidak baik karena seperti kita ketahui bahwa ayam kampus itu adalah pekerjaan seks komersial namun bukan psk yang umum kita ketahui. Ayam kampus disini dilakukan oleh kalangan mahasiswi yang aktif diperkuliahan universitas swasta maupun negeri. Faktor  yang menyebabkan mahasiswi yang melakukan pekerjaan ini yaitu ekonomi. Dimana dia ingin hidup bermewah-mewah namun penghasilan yang kurang . selain itu faktor yang lain karena kurangnya perhatian dari orang tua dam juga pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Bahkan ada juga rela melakukan itu kepada dosennya hanya untuk mendapat nilai baik.

Menurut Samsul Bahri: Ayam kampus terdiri dari dua kata, yaitu: ayam dan kampus, ini menakankan kepada sifat ayam itu sendiri, terutama dalam hal seks. Jikalau ayam sudah ingin kawin, dia tidak peduli dengan media, waktu dan dengan siapa dia berhubungan. Yang penting hasrat tersalurkan, dia merasa puas, kebutuhannya terpenuhi, dan alhasil masalah selesai. Dan kampus merupakan lingkungan aktivitaas perkuliahan diadakan. Jadi ayam kampus ialah actor seks bebas yang mempunyai ikatan akademis disuatu lembaga pendidikan, baik itu swasta maupun negeri. factor penyebab mereka melakukan pekerjaan haram tersebut ialah: tuntutan ekonomi, pengaruh dari pacar, pengaruh dari teman dekat dll. Tapi jelas saja pekerjaan yang mereka lakukan haram, dan salah satu dari dosa-dosa besar yakni zina, dimana Zina merupakan hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang tanpa melakukan pernikahan yang sah. Sebagai mana Allah swt. Berfirman dalam surah Al-Isra` ayat 32 yang berbunyi:

32.  Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.

Perbuatan zina bias mengundang murka Allah SWT., sehingga Dia bisa menurunkan azab-Nya kepada manusia. Celakanya, azab tersebut tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi juga bisa berdampak terhadap orang lain atau masyarakat yang tidak berdosa. Sebagaimana Rasulullah SAW. Bersabda, “bila zina dan riba telah merebak disuatu kaum, sungguh mereka telah membiarkan diri mereka ditimpa azab dari Allah SWT”. Kita mungkin juga pernah menyaksikan bayi hasil hubungan gelap (akibat perbuatan zina) dibunuh atau dibuang oleh ibu kandungnya karena takut aibnya diketahui orang lain, dan kemungkinan besar pelakunya adalah Ayam Kampus. Selain itu, terjadi pula kasus pembunuhan akibat perzinaan dan orang yang mati akibat penyakit kelamin misalnya penyakit AIDS yang ditimbulkan oleh Virus HIV.

Menurut Nur madinah: Ayam kampus itu istilah bagi mahasiswa yang bekerja sebagai psk. biasanya mereka adalah orang-orang dari daerah masuk ke kota, Ayam kampus itu menodai nama kampus itu sendiri karena kampus dikenal sebagai tempat menuntut ilmu . Menjadi ayam kampus itu sangatlah merugikan bagi diri sendiri dan orang tua, pasti akan sangat malu dan tidak mengingkan itu.

Menurut Nursamsi: ayam kampus adalah suatu pekerjaan yang mungkin sudah tidak lazim lagi di telinga. Pekerjaan yang membuat keresahan dimana-mana. Begitu banyak factor maupun alasan sehinnga seseorang terjerumus dalam pekerjaan yang rendah ini tetapi tidak ada alasan yang bisa dibenarkan untuk melakukan hal yang buruk apa lagi dosa besar. Faktor ekonomi, lingkungan , maupun keluarga adalah yang mempengaruhi adanya ayam kampus. Apalagi kita alasannya hanyalah karena ingin memperoleh uang untuk tampil gaya dihadapan teman-temannya, ataukah  karena tidak mampu membayar biaya kuliah. Terlalu rendah buat kita ketika harus menjual diri hanya untuk semua itu . bukan kah kita harus menjaga kehormatan kita? Ini telah menunjukkan kurangnya iman di tengah kalangan anak muda.

Menurut Anis Marsella: Profesi sebagai ayam kampus dikalangan mahasiswa di perguruan tinggi itu menurut saya sangat buruk dan menimbulkan sangat banyak dampak negative. Masyarakat lua pasti akan meragukan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Selain itu profesi melacurkan diri seperti itu sangat diharamkan oleh agama tetapi profesi ini dijalankan atau ada karena desakan ekonomi , faktor dari lingkungan dan kurangnya perhatian orang tua . selain kebutuhan kuliah yang tinggi, keinginan untuk bermewah-mewahan juga salah satu factor utama.

Menurut Ulfa Fauziah: pekerjaan ayam kampus itu sangat tidak sesuai dengan Al-quran dan As-sunnah dikarenakan Allah berfirman “dan janganlah kamu mendekati zina” , mendekati zinah saja sudah dilarang apalagi melakukannya. Dari segi etika dan moral juga sangat tidak baik, karena dia melayani orang yang sudah memiliki istri(om om). Dan ayam kampus tersebut akan berdampak bagi dirinya sendiri seperti dikucilkan di lingkungan sosial, dijauhi teman, mendapatkan pasangan yang prilakunya kurang baik, dan bisa menimbulkan beberapa penyakit kelamin. Dan juga berdampak bagi keluarganya apa lagi kalau keluarganya berasal dari keluarga yang memiliki etika dan moral yang baik, pasti orang tuanya akan merasa malu dan kecewa terhadap anaknya. selain itu dia juga mencemarkan nama baik kampus beserta orang yang pernah mengajarinya. Seseorang melakukan pekerjaan ayam kampus disebabkan kurangnya dana yang diberikan oleh orang tuanya, tidak bisa membiayai kuliahnya, sudah lama kesepian ,mencoba-coba tetapi kelamaan menjadi hobi, dan tidak ada orang yang menegur dan menceramahi si ayam lampus itu.

C.Kesimpulan
Dapat disimpulkan menurut pendapat kami profesi sebagai ayam kampus dikalangan mahasiswi diperguruan tinggi adalah perbuat yang sangat buruk dan tidak bermoral . bahkan menimbulkan banyak dampak negative selain itu profesi melacurkan  diri layaknya psk umum yang kita kenal namun dilakukan dengan tertutup dibandingkan psk umum yang dikenal namun dilakukan dengan tertutup dibandingkan psk umum yang mempunyai tempat khusus dan terbuka adalah sangat dilarang agama. Bahkan profesi ayam kampus ini akan mencemarkan nama baik kampus sebagai tempat menuntut ilmu untuk masa depan yang lebih cerah. Begitu banyak pekerjaan lain yang bisa dilakukan , yang lebih bermanfaat , halal, dan sehat.

Kebanyakan mahasiswi melakukan hal itu karena faktor-faktor internal maupun eksternal diantaranya faktor  ekonomi, fakor lingkungan , dan kurangnya perhatian orang tua, selain itu kebutuhan kuliah yang tinggi  dan ingin hidup bermewah-mewah namun penghasilan yang tidak ada dan hanya dari orang tuua saja. Menurut kami terlalu rendah buat kita ketika harus menjual diri hanya untuk hal itu.

Melihat dari faktor yang menyebabkan hal tersebut adapun solusi yang bisa dilakukan antara lain:
1.    Meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT
2.    Memilih pola hidup sederhana dan tidak bermewah-mewah
3.    Menciptakan kreativitas agar dapat menghasilkan uang sendiri atau bekerja sebagai tenaga pengajar
4.    Memilih teman bergaul yang baik dan selalu mengingatkan kita ke hal-hal yang positif
5.    Buat pemeritah agar memberikan bantuan atau pengurangan biaya kuliah bagi mahasiswa kurang mampu
6.    Perhatian orang tua terhadap anak perlu ditingkatkan dan member pengetahuan agama pada anak.

Akhlak, Moral dan Etika

MAKALAH AQIDAH AKHLAK
"AKHLAK, MORAL DAN ETIKA"



DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014


 BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sejarah agama menunjukkan bahwa kebahagiaan yang ingin di capai dengan menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik. Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesahan Tuhan, ibadah yang dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya kebahagian tersebut .

Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadapnya adalah pangkalan yang menentukan corak hidup manusia. Akhlak, moral atau susila adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai utlak kebaikan.Hidup susila dan tiap-tiap perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah kesadaran menentang kesadaran itu. Akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah membedakan hal-hal yang haram, hak dan batil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia bisa melakukan.Itulah hal yang khusus manusiawi.Dalam dunia hewan tidak ada hal yang baik dan buruk atau patut tidak patut,karena hanya manusialah yang mengerti dirinya sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatannya itu, sebelum, selam dan sesudah pekerjaan itu dilakukan.Sehingga sebagai subjek yang mengalami perbuatannya,dia biasa dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya itu .

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok masalah dalam makalah ini yaitu:
1.Apakah pengertian akhlak, etika dan moral ?
2.Bagaimana perbedaan akhlah,etika dan moral ?
3.Bagaimana pandangan para ulama tentang akhlak,etika dan moral ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Akhlak, Moral dan Etika
1.Pengertian Akhlak
Akhlak adalah lafaz yang berasal dari bahasa arab merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, parangai, tingkah laku, atau tabi’at. Berasal dari akar kata khalaq yang berarti menciptakan, yang seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq artinya yang diciptakan, dan khalq artinya ciptaan.

Akhlak di artikan sebagai perilaku, budi pekerti, sopan santun, dan tingkah laku sehari-hari. Hal tersebut, mengisyaratkan bahwa dalam kata akhlak tercakup pengertian terwujudnya keterpaduan antara kehendak khaliq (Tuhan atau Allah) dengan perilaku makhluk (Hamba atau manusia). Dengan kata lain, perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlaq yang hakiki manakala tindakan, perilaku, dan sifat-sifat didasarkan pada kehendak al-khaliq yaitu: allah rabbul alamin.

Dari pengertian tersebut, memberi informasi bahwa akhlaq, selain merupakan tata aturan atau norma-norma perilaku tentang hubungan antara sesama manusia, juga merupakan norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhan yang maha pencipta, bahkan mengatur hubungan dengan alam sekitarnya.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
Terjemahan:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam 68 :4) 
Demikian juga hadis Nabi Muhammad SAW
Terjemahan:
“Aku diutus untuk menyempurnakan perangai (budi pekerti) yang mulia.” (H.R. Ahmad)  
Jadi, secara umum akhlak diartikan sebagai perilaku, budi pekerti, sopan santun, dan tingkah laku sehari-hari.


2.Pengertian Etika
Dari segi etimologi etika berasal dari bahasa yunani, ethos yang berarti watak, kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Sedangkan etika menurut filsafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Pada dasarnya,etika membahasa tentang tingkah laku manusia.

Etika adalah sebuah pengetahuan yang berhubungan dengan budi pekerti atau aturan-aturan yang normatif tentang tingkah laku, sifat dan perbuatan manusia yang berhubungan dengan nilai-nilai yang baik dan yang buruk atau sifat-sifat yang terpuji dan yang tercela, yang berasal dari individu dalam pergaulanya dangan masyarakat dan alam lingkungan sekitarnya. 

Etika merupakan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dari kultur atau budaya masyarakat, yang mungkin dipengaruhi oleh nilai-nilai ajaran agama yang teraplikasi dalam masyarakat itu, sehingga etika yang dikembangkan adalah yang bersumber atau berdasarkan ajaran agama. Etika tersebut menjadi etika agama. 

3.Pengertian Moral
Moral berasal dari bahasa latin yakni mores kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai susila. Moral adalah hal-hal yang sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.

Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu, tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama.

Moral terdiri atas moral agama dan moral sekunder. Moral agama adalah moral yang berorientasi pada ajaran agama yang dianut atau dipercaya. Sedangkan moral sekunder adalah moral yang tidak berdasarkan pada ajaran agama dan hanya bersifat duniawi semata, tidak mengenal kepercayaan kepada tuhan dan kehidupan akhirat. Mereka benar-benar hanya mendasarkan kehidupannya dengan nilai-nilai yang logis yang bersifat empiris. 

Iman adalah satu kekuatan yang memelihara umat manusia dari nilai-nilai rendah, dan alat yang menggerakkan manusia untuk meningkatakan nilai luhur dan moral yang bersih.Itulah sebabnya, Allah berseru kepada seseorang kepada kebajikan dan menghendaki seseorang membenci kejahatan. Dia menegaskan bahwa hal ini merupakan syarat utama bagi keimanannya.    

Rasulullah saw. Telah menerangkan dengan baik sekali, bahwa manakala keyakinan dan keimanan tertanam dengan kukuh, maka moral akan berkembang dengan subur. Dan manakala karakter moral begitu rendah, maka dengan sendirinya iman akan rendah.

Seseorang yang melakukan berbagai bentuk ibadah ( shalat ) tanpa mengetahui artinya hanyalah orang-orang yang tidak memahami makna ibadah. Sehingga, orang tersebut tidak akan mampu meningkatkan dirinya. Bahkan, anak kecil sekalipun dapat meniru gerakan-gerakan shalat dan bisa mengucapkan bacaan-bacaan selama shalat berlangsung.Kadang, seorang aktor dapat melakukan shalat dengan khusyu’ dan dapat melakukan gerakan-gerakan shalat . Tetapi, tetapi gerakan-gerakan tersebut tidak akan menguntungkan bagi keimanan atau tidak memenuhi sasarannya. Hanya satu cara melakukan shalat atau ibadah yang tidak akan memberikan akibat yang salah , yaitu karakter moral yang tinggi (akhlak).

Usamah menyatakan, “kami tengah duduk-duduk bersama rasulullah saw, begitu heningnya sehingga tak seorang pun berusa untuk membuka pembicaraan. Tidak beberapa lama, seseorang telah datang dan bertanya: diantara hamba allah, siapakah gerangan yang paling dikasihi, ya rasulullah? Rasulullah saw menjawab, “seseorang yang mempunyai watak moral (akhlak) terbaik!” (ibnu hiban)

Yang dimaksud dengan moral ialah sesuatu yang sesuai dengan ide-ide umum tentang tindakan manusia, yang baik dan wajar, sesuai dengan ukuran tindakan yang diterima umum, meliputi kesatuan sosial atau ligkungan tertentu. Dengan demikian, jelaslah persamaan antara etika dan moral. 

Posisi moralitas tidak seperti halnya kesenangan atau kemewahan. Tetapi moralitas adalah nama dari suatu prinsip hidup, dan agama harus memiliki dan menjaganya. Islam telah menyebutkan satu demi satu semua kebijakan dan prinsip-prinsip moral, disamping telah menganjurkan para pengikutnya untuk menjadikan moral sebagai bagian dari kehidupannya. 

B.Perbedaan Akhlak, Etika dan Moral
Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat jika masyarakat menganggap suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai perbuatan itu. Dengan demikian standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi. 

Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari. Inilah yang menjadi misi diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya :
“ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.” (Hadits riwayat Ahmad)
Secara umum dapat dikatakan bahwa akhlak yang baik pada dasarnya adalah akumulasi dari aqidah dan syari’at yang bersatu secara utuh dalam diri seseorang. Apabila aqidah telah mendorong pelaksanaan syari’at akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syari’at Islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah. 

Akhlak manusia memang sangat berpengaruh bagi diri kita untuk kedepanya, jika akhlak kita jelek, maka kita akan jadi orang yang jelek di masyarakat, dan sebaliknya juga, jika kita baik, maka secara otomatis kita akan di perhitungkan dan disegani di masyarakat. Istilah akhlak, etika dan moral sering digunakan dalam konotasi yang sama dalam percakapan sehari-hari, sehingga seolah-olah tak ada bedanya. Padahal ketiga istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda-beda. Hal ini dapat dimaklumi karena ketiganya mempunyai obyek yang sama, yakni baik dan buruk. Perlu dibedakan antara akhlak sebagai perilaku, yang sudah dipaparkan di atas, dan akhlak sebagai ilmu.

Akhlak sebagai ilmu dapat dianalogikan dengan etika sebagai ilmu yang pembahasannya menjadi isu filsafat. Salah satu pengertian ilmu filsafat yang cukup mewakili adalah ungkapan Ahmad Amin yang mengatakan bahwa ilmu akhlak ialah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia didalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan melakukan apa-apa yang harus diperbuat. Pengertian di atas hampir tidak ada bedanya dengan pengertian etika, sehingga kadang-kadang disamakan antara ilmu akhlak dan etika. Namun jika diteliti secara seksama, maka sebenarnya antara keduanya mempunyai segi-segi perbedaan. Sedangkan pada etika dan moral yang membedakan adalah pada tolok ukurnya. Jika dalam etika untuk menentukan nilai perbuatan manusia (baik atau buruk) dengan tolok ukur akal pikiran maka dalam pembahasan moral tolok ukurnya adalah norma-norma yang hidup dalam masyarakat, yang dapat berupa adat istiadat, agama dan aturan-aturan tertentu. 

Inti pengertian di atas adalah harus ada seperangkat nilai yang mengatur manusia untuk berbuat sesuatu untuk mencapai tujuan, yaitu kebaikan tertinggi (summon banum) yang dalam teori etika tolok ukurnya adalah akal pikiran secara universal tanpa memandang ia hidup di mana dan kapan, serta memeluk agama apa. Sedangkan dalam akhlak (dalam hal ini adalah akhlak Islam) merupakan seperangkat nilai untuk menentukan baik dan buruk tolok ukurnya adalah al-Qur’an dan al-Sunnah. Bagi umat Islam al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan way of life untuk mengatur segala perilakunya, sehingga segala perilakunya tidak boleh lepas dari keduanya. Hal ini tidak berarti manusia tidak bebas memilih yang dalam pembahasan akhlak atau etika merupakan unsur utama yang harus dipertimbangkan karena suatu perbuatan dapat dinilai itu harus ada kebebasan. 

Untuk membedakan secara tegas antara akhlak (etika islam) dengan etika filsafat, yaitu bahwa :
1.Etika islam mengajarkan dan menuntun manusia pada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.
2.Etika islam menetapkan bahwa sumber moral, ukuran baik buruknya perbuatan didasarkan kepada ajaran Allah AWT. (Al-Qur’an) dan ajaran Rasul-Nya (sunnah)
3.Etika islam bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima oleh seluruh umat manusia di segala waktu dan tempat.
4.Dengan rumus-rumus yang praktis dan tepat dengan fitrah (naluri) dan akal pikiran manusia, Etika islam dapat dijadikan peman oleh seluruh manusia.
5.Etika islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur dan meluruskan perbuatan manusia di bawah pancaran sinar petunjuk Allah AWT. Menuju keridaan-Nya, sehingga selamatlah manusia dari pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan yang keliru dan menyesatkan.

C.Pandangan Para Ulama
1.Akhlak

Menurut Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya Ulum al-Din, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Ibrahim Anis dalam kitab al-Mu’jam al-Wasith, Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya timbul bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Abdul Karim Zaidan dalam kitab Ushul al-Da’wah, Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam jiwa, dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatan baik dan buruk, untuk kemudian memilih melakukan ataupun meninggalkannya.

Menurut Ahmad Amin Akhlak ialah membiasakan kehendak. Ini berarti bahwa kehendak itu apabila dibiasakan terhadap sesuatu maka kebiasaan itu akan dapat membentuk akhlak. Contohnya, bila membiasakan kehendak untuk memberi, maka akan melahirkan akhlak dermawan ataupun kepedulian sosial. 

Menurut Ibnu Maskawaih salah seorang filosuf  Islam, akhlak adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukankegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan (sebelumnya).

2.Etika
Al- Ghozali melihat sumber kebaikan pada manusia bersumber pada kebersihan rohaninya dan rasa akrabnya (taqorrub) terhadap Tuhan. Beliau juga menganggap Tuhan adalah Pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan kebaikan bagi sekalian alam. Ini sangat bertentangan dengan anggapan filsafat klasik Yunani yang menganggap Tuhan sebagai kebaikan tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu pendekatan diri dari manusia .

Menurut beliau, bahwa manusia sebisa mungkin berusaha untuk meniru perangai dan sifat–sifat ketuhanan seperti pengasih, penyayang, pengampun, dan sifat – sifat yang disukai Tuhan, seperti sabar, jujur, taqwa, zuhud, ikhlas, beridiologi, dan sebagainya .

Didalam ihya’ beliau menjelaskan ketika seseorang beradu argument, maka harus bertujuan mencari kebenaran. Sehingga apabila kebenaran itu berada atau datang dari lawan debatnya, maka ia harus bersyukur atas apa yang telah dilakukan lawannya, yaitu memberitahu kesalahannya dalam memahami suatu ilmu, tidak boleh menggap lawan debatnya sebagai musuh bahkan dianggap sebagai orang yang telah menunjukkan dirinya dari jalan yang salah .

3.Pengertian Moral
Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah keyakinan serta sikap batin dan
bukan hanya sekedar penyesuaian dengan beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum Negara, hukum agama dan hukum-hukum istiadat .

Moral merupakan tindakan manusia yang bercorak khusus yang didasarkan kepada pengertiannya mengenai baik dan buruk. Morallah yang membedakan manusia dengan makhluk tuhan yang lainnya dan menempatkan pada posisi yang baik diatas makhluk lain .

Moral adalah realitas dari kepribadian pada umumnya bukan hasil dari perkembangan pribadi semata. Namun moral merupakan tindakan atau tingkah laku seseorang. Moral tidaklah bisa dipisahkan dari kehidupan beragama. Di dalam agama Islam perkataan moral sangat identik dengan akhlak .

Moral merupakan norma yang bersifat kesadaran atau keinsyafan terhadap suatu kewajiban melakukan sesuatu atau suatu keharusan untuk meninggalkan perbuatan – perbuatan tertentu yang dinilai masyarakat dapat melanggar norma-norma .

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Akhlak adalah lafaz yang berasal dari bahasa arab merupakan bentuk jamak
dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, parangai, tingkah laku, atau tabi’at. Berasal dari akar kata khalaq yang berarti menciptakan, yang seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq artinya yang diciptakan, dan khalq artinya ciptaan.  Akhlak di artikan sebagai perilaku, budi pekerti, sopan santun, dan tingkah laku sehari-hari.

Etika adalah sebuah pengetahuan yang berhubungan dengan budi pekerti atau aturan-aturan yang normatif tentang tingkah laku, sifat dan perbuatan manusia yang berhubungan dengan nilai-nilai yang baik dan yang buruk atau sifat-sifat yang terpuji dan yang tercela, yang berasal dari individu dalam pergaulanya dangan masyarakat dan alam lingkungan sekitarnya.

Moral berasal dari bahasa latin yakni mores kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai susila. Moral adalah hal-hal yang sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.

Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat jika masyarakat menganggap suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai perbuatan itu. Dengan demikian standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi.

Menurut Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya Ulum al-Din, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Al- Ghozali melihat sumber kebaikan pada manusia bersumber pada kebersihan rohaninya dan rasa akrabnya (taqorrub) terhadap Tuhan. Beliau juga menganggap Tuhan adalah Pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan kebaikan bagi sekalian alam. Ini sangat bertentangan dengan anggapan filsafat klasik Yunani yang menganggap Tuhan sebagai kebaikan tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu pendekatan diri dari manusia.

Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah keyakinan serta sikap batin dan
bukan hanya sekedar penyesuaian dengan beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum Negara, hukum agama dan hukum-hukum istiadat

DAFTAR PUSTAKA
Ambo Asse,Akhlak al-Kariemah,Dar al-Hikmah Wa al-Ulum:Makassar,2003
Departemen keagamaan, al-qur’an terjemahan
Komari dan sunarsih, Akhlak Anak Islam, LP3Q, Makassar, 2006
Kumaidi,dkk,Aqidah Akhlak, AKIK PUSAKA:Ciwaringin,2008
Muhammad al-ghazaliy,Karakter Muslim:Bandung,1987
Syekh Mahmud Syaltut,Akidah dan Syari’ah Islam,BINA AKSARA:Jakarta,1985
Yusuf al-Qardhawy dan al-iman wal Hayat,Iman dan Kehidupan,PT Bulan Bintang:Jakarta,1993