My Menus

Showing posts with label Makalah Aqidah Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Makalah Aqidah Akhlak. Show all posts

May 15, 2015

Makalah Keutamaan Akidah Dan akhlak Islam

MAKALAH AQIDAH AKHLAK
"KEUTAMAAN AKIDAH DAN AKHLAK ISLAM"



DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga pada akhirnya kami dapat menyelesaikan Makalah Pendidikan Kewarganegaan ini dengan baik. Dimana Makalah ini kami sajikan dalam bentuk tulisan yang sederhana. 

Adapun judul dari Makalah yang kami buat adalah sebagai berikut keutamaan akidan dan akhlak islam.Tujuan dibuat nya makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu nilai untuk mata kuliah akidah ahlak.

Sebagai bahan penulisan makalah ini, kami menggunakan metode studi pustaka dari beberapa sumber yang mendukung tema penulisan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh sekali dari sempurna, untuk itu kami mohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan di masa yang akan datang.

Akhir kata semoga penulisan makalah ini dapat berguna bagi kami khususnya dan bagi para pembaca yang berminat pada umumnya.


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Mungkin banyak diantara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlak, bahkan islam mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya. 

Aqidah secara bahasa berarti sesuatu yang mengikat. Pada keyakinan manusia adalah suatu keyakinan yang mengikat hatinya dari segala keraguan. Aqidah menurut terminologi syara' (agama) yaitu keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Para Rasul, Hari Akherat, dan keimanan kepada takdir Allah baik dan buruknya. Ini disebut Rukun Iman. Dalam syariat Islam terdiri dua pangkal utama. Pertama : Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu, letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dengan cara-cara perbuatan (ibadah). Bagian ini disebut pokok atau asas. Kedua : Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan seluruh bentuk ibadah disebut sebagai cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya atau diterima atau tidaknya bergantung yang pertama. Makanya syarat diterimanya ibadah itu ada dua, pertama : Ikhlas karena Allah SWT yaitu berdasarkan aqidah islamiyah yang benar. Kedua : Mengerjakan ibadahnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Ini disebut amal sholeh. Ibadah yang memenuhi satu syarat saja, umpamanya ikhlas saja tidak mengikuti petunjuk Rasulullah SAW tertolak atau mengikuti Rasulullah SAW saja tapi tidak ikhlas, karena faktor manusia, umpamanya, maka amal tersebut tertolak. Sampai benar-benar memenuhi dua kriteria itu. Inilah makna yang terkandung dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi 110 yang artinya : "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya."

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka penulis mencoba mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.Apa yang dimaksud akhlak?
2.Mengapa Rasul diutus untuk menyempurnakan akhlak?
3.Apakah keutamaan akhlak?
4.Apa yang dimaksud dengan aqidah islam?
5.Bagaimanakah perkembang aqidah islam?
6.Apakah keutamaan aqidah islam?

C.Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka tujuan penulisan diatas adalah:
1.Dapat mengetahui tentang akhlak
2.Dapat mengetahui diutusnya Rasul ke muka bumi
3.Dapat mengetahui keutamaan akhlak
4.Dapat mengetahui aqidah islam
5.Dapat mengetahui perkembangan aqidah islam
6.Dapat mengetahui keutamaan aqidah islam

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian akhlak
Secara terminologi akhlak berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari bahasa Arabyang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.

Dalam Encyclopedia Brittanica, akhlak disebut sebagai ilmu akhlak yang mempunyai arti sebagai studi yang sistematik tentang tabiat dari pengertian nilai baik, buruk, seharusnya benar, salah dan sebaginya tentang prinsip umum dan dapat diterapkan terhadap sesuatu, selanjutnya dapat disebut juga sebagai filsafat moral.

Berbicara tentang akhlak atau kelakuan, manusia memiliki bermacam kelakuan.nilai kelakuan atau akhlak disandarkan pada dua nilai, yaitu baik dan buruk. Bersandar pada nilai baik dan buruk tersebut, seseorang dapat dikategorikan memiliki akhlak terpuji dan akhlak buruk (tercela).

Akhlak bersumber pada agama. Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Perangai sendiri mengandung pengertian sebagai suatu sifat dan watak yang merupakan bawaan seseorang. Pembentukan perangai ke arah baik atau buruk, ditentukan oleh faktor dari dalam diri sendiri maupun dari luar, yaitu kondisi lingkungannya. Lingkungan yang paling kecil adalah keluarga, melalui keluargalah kepribadian seseorang dapat terbentuk. Para ahli seperti Al Gazali menyatakan bahwa akhlak adalah peragai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. 

Akhlak yang mulia, menurut Imam Ghazali ada 4 perkara; yaitu bijaksana, memelihara diri dari sesuatu yang tidak baik, keberanian (menundukkan kekuatan hawa nafsu) dan bersifat adil. Jelasnya, ia merangkumi sifat-sifat seperti berbakti pada keluarga dan negara, hidup bermasyarakat dan bersilaturahim, berani mempertahankan agama, senantiasa bersyukur dan berterima kasih, sabar dan rida dengan kesengsaraan, berbicara benar dan sebagainya. Masyarakat dan bangsa yang memiliki akhlak mulia adalah penggerak ke arah pembinaan tamadun dan kejayaan yang diridai oleh Allah Subhanahu Wataala. Seperti kata pepatah seorang penyair Mesir, Syauqi Bei: "Hanya saja bangsa itu kekal selama berakhlak. Bila akhlaknya telah lenyap, maka lenyap pulalah bangsa itu".

Akhlak yang mulia yaitu akhlak yang diridai oleh Allah SWT , akhlak yang baik itu dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri kita kepada Allah yaitu dengan mematuhi segala perintahnya dan meninggalkan semua larangannya, mengikuti ajaran-ajaran dari sunnah Rasulullah, mencegah diri kita untuk mendekati yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar, seperti firman Allah dalam surat Al-Imran 110 :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Akhlak yang buruk itu berasal dari penyakit hati yang keji seperti iri hati, ujub, dengki, sombong, nifaq (munafik), hasud, suudzaan (berprasangka buruk), dan penyakit-penyakit hati yang lainnya, akhlak yang buruk dapat mengakibatkan berbagai macam kerusakan baik bagi orang itu sendiri, orang lain yang di sekitarnya maupun kerusakan lingkungan sekitarnya sebagai contohnya yakni kegagalan dalam membentuk masyarakat yang berakhlak mulia samalah seperti mengakibatkan kehancuran pada bumi ini, sebagai mana firman Allah Subhanahu Wataala dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 :
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

B.Rasul diutus untuk menyempurnakan akhlak
Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah. Karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4 :
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia, “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain Anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam : “Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”

C.Keutamaan Akhlak
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa suatu saat Rasulullah pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad). Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menasehati sahabatnya, beliau shalallahu ‘alahi wasallam menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadits dari abi dzar, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan, dan dishahihkan oleh syaikh Al Salim Al Hilali). Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat dari pada akhlak yang baik, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :“Sesuatu yang paling berat dalam mizan (timbangan seorang hamba) adalah akhlak yang baik” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahihkan Al Bani). Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslimah mengambil akhlak yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya.

Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai Pembuat syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Wallahu Ta’ala a’lam.

Keutamaan akhlak dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
1Pertama: Akhlak yang baik termasuk tanda kesempurnaan iman seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohihul Jami’, No. 1241)
2.Kedua: Dengan akhlak yang baik, seorang hamba akan bisa mencapai derajat orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala, sebagaimana penjelasan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau (yang artinya): “Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan qiyamul lail.” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, No. 1937)
3.Ketiga: Akhlak yang baik bisa menambah berat amal kebaikan seorang hamba di hari kiamat, sebagaimana sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): “Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika diletakkan di timbangan amal (di hari akhir) selain akhlak yang baik.” (Shahihul Jami’, No. 5602)
4.Keempat: Akhlak yang baik merupakan sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Hal ini sebagaimana disabdakan Rasulullah ketika ditanya tentang apa yang bisa memasukkan manusia ke dalam surga. Beliau menjawab (yang artinya): “Bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (Riyadhus Shalihin)

D.Pengertian Aqidah Islam
Dalam bahasa Arab aqidah berasal dari kata al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah yang berarti mengikat dengan kuat.Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya’.

Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salaf as-Shalih.

E.Perkembangan Aqidah Islam
Pada masa Rasulullah SAW, aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau. Makanya kita dapatkan keterangan para sahabat yang artinya berbunyi : "Kita diberikan keimanan sebelum Al-Qur'an".

Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman -pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-Asy'ari dan Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula kelompok dari Irak yang menolak takdir dipelopori oleh Ma'bad Al-Juhani (Riwayat ini dibawakan oleh Imam Muslim, lihat Syarh Shohih Muslim oleh Imam Nawawi) dan dibantah oleh Ibnu Umar karena terjadinya penyimpangan-penyimpangan. Para ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dengan istilah Tauhid, ushuluddin (pokok-pokok agama), As-Sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad), Al-Fiqhul Akbar (fiqih terbesar), Ahlus Sunnah wal Jamaah (mereka yang menetapi sunnah Nabi dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah ahlul hadits atau salaf yaitu mereka yang berpegang atas jalan Rasulullah SAW dari generasi abad pertama sampai generasi abad ketiga yang mendapat pujian dari Nabi SAW. Ringkasnya : Aqidah Islamiyah yang shahih bisa disebut Tauhid, fiqih akbar, dan ushuluddin. Sedangkan manhaj (metode) dan contohnya adalah ahlul hadits, ahlul sunnah dan salaf.

F.Keutamaan Aqidah Islam
Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dengan filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Makanya seorang mu'min harus yakin kebenaran Aqidah Islamiyah sebagai poros dari segala pola laku dan tindakannya yang akan menjamin kebahagiannya dunia akherat. Dan merupakan keserasian antara ruh dan jasad, antara siang dan malam, antara bumi dan langit dan antara ibadah dan adat serta antara dunia dan akherat. Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah Islamiyah adalah :
1.Membebaskan dirinya dari ubudiyah / penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya. 
2.Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu kepada Allah baik dalam keadaan suka maupun duka. 
3.Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah (outer focus of control). 
4.Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa , sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridho terhadap segala ketentuan Allah.
5.Aqidah Islamiyah adalah asas persaudaraan / ukhuwah dan persamaan. Tidak beda antara miskin dan kaya, antara pintar dan bodoh, antar pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya disisi Allah SWT.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Akhlak ataupun budipekerti memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Akhlak yang baik akan membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia yang berakhlak mulia, dapat menjaga kemuliaan dan kesucian jiwanya, dapat mengalahkan tekanan hawa nafsu syahwat syaitoniah, berpegang teguh kepada sendi-sendi keutamaan. Menghindarkan diri dari sifat-sifat kecurangan, kerakusan dan kezaliman. Manusia yang berakhlak mulia, suka tolong menolong sesama insan dan makhluk lainnya. Mereka senang berkorban untuk kepentingan ersama.Yang kecil hormat kepada yang tua,yang tua kasih kepada yang kecil.Manusia yang memiliki budi pekerti yang mulia, senang kepada kebenaran dan keadilan, toleransi, mematuhi janji, lapang dada dan tenang dalam menghadapi segala halangan dan rintangan. Akhlak yang baik akan mengangkat manusia ke darjat yang tinggi dan mulia. Akhlak yang buruk akan membinasakan seseorang insan dan juga akan membinasakan ummat manusia. Manusia yang mempunyai akhlak yang buruk senang melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Senang melakukan kekacauan, senang melakukan perbuatan yang tercela, yang akan membinasakan diri dan masyarakat seluruhnya. Nabi s.a.w.bersabda yang bermaksud: "Orang Mukmin yang paling sempurna imannya, ialah yang paling baik akhlaknya." (H.R.Ahmad). Manusia yang paling baik akhlaknya ialah junjungan kita Nabi s.a.w. sehingga budi pekerti beliau tercantum dalam al-Quran, Allah berfirman yang maksudnya: "Sesungguhnya engkau (Muhammad), benar-benar berbudi pekerti yang agung. "Sesuatu Ummat bagaimanapun hebat Kekuatan dan Kekayaan yang dimilikinya, akan tetapi jika budi pekertinya telah binasa, maka Ummat itu akan mudah binasa. Manusia yang tidak punya akhlak, mereka sanggup melakukan apa saja untuk kepentingan dirinya. Mereka sanggup berbohong, membuat fitnah, menjual marwah diri dan keluarga, malah dengan tidak segan silu lagi dia menjual Agama dan Negaranya.

DAFTAR PUSTAKA
Mubarak, Zakky, dkk. 2008. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi, Buku Ajar II, Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan masyarakat. Depok: Lembaga Penerbit FE UI.Hlm. 20-39
Robert C. Solomon. 1985. Introducing Philosophy: A Text with Reading, (third edition), New York: Hacourt Brace Jovanovich, Hlm. 65
Charles F. Andrain. Kehidupan Politik dan perubahan sosial, (Terjemahan Luqman Hakim), Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.Hlm 69
Anton Bakker. 1984. Metode-Metode Filsafat, Jakarta: Ghalia Indonesia.Hlm. 48
Lisaanul ‘Arab (IX/311:???) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) t dan Mu’jamul Wasiith (II/614:???).
Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, cet. II/ Daarul ‘Ashimah/ th. 1419 H, ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql.
Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi'ul Awwal 1420H/Juni 1999M
Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M.
Kitab Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql

Apr 5, 2015

Aliran Syi`ah di Indonesia

MAKALAH AQIDAH AKHLAK
"ALIRAN SYI`AH DI INDONESIA"



DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014



BAB I
 PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perkembangan umat manusia selalu mangalami perubahan taupun Revolusioner dalam khidupan, Sejalan dengan itu peradaban Umat islam berdasarkan kronologi nya mengalami berbagai masalah, rintangan, serta perubahan prilaku secara drastis. Peradaban demi peradaban terlalui maka umat islam mengalami perpecahan setelah Wafat nya baginda rasulullah saw, dikaraenakan beberapa Khalifah di bawah rasul kurang etis  dalam pelakukan proses perpolitikan di antara sesama nya, Di antara nya maalah pembaiatan Ali bin Abi thalib kemudian permassalahn tahkim yang di lakukan nya terhadap mu’awiyah bin Abu sofian sehinngga menimbulkan dua kubu atau pengikut setia di antara kedua para kalifah tersebut. Para pengikut Ali bin Abi Thaleb dapat di katakann sebagi syi’ah, maka disinilah akan sededikit kami interpretasikan tentang pengikut Ali Bin Abi thaleb tersebut.

Kata Syi’ah berarti “pengikut” atau “penolong” dan kata musyaaya’ah sepadan dengan kata musaasharah. Istilah ini dipungut dari peristiwa masa lalu yaitu khalifah ketiga, Ustman bin Affan terbunuh, yang mengakibatkan kaum muslimin terbagi menjadi dua golongan. Sebagai besar menjadi syi’ah (pengikut) Ali dan sebagian kecil menjadi syi’ah muawiyah.

Seiring dengn berjalannya waktu dan perkembangan zaman istilah syi’ah lebih lebih dinisbatkan kepada kelompok pengikut Ali bin Abi thalib, dan pemihakan kepada Ali berubah menjadi berubah menjadi pengutamaan Ali dan para cucunya. Sehingga lambat laun tumbuh keyakinan bahwa khalifah dan kepemimpinan ummat adalah hak mutlak bagi Ali dan keturunannnya.

Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlussunnah (Sunni) dan Syi’ah. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa dua aliran besar teologi ini kerap kali terlibat konflik kekerasan satu sama lain, sebagaimana yang kini bisa kita saksikan di negara-negara seperti Irak dan Lebanon. Terlepas dari hubungan antara keduanya yang kerap kali tidak harmonis, Syi’ah sebagai sebuah mazhab teologi menarik untuk dibahas. Diskursus mengenai Syi’ah telah banyak dituangkan dalam berbagai kesempatan dan sarana. Tak terkecuali dalam makalah kali ini. Dalam makalah ini kami akan membahas pengertian, sejarah, tokoh, ajaran, dan sekte Syi’ah. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan gambaran yang utuh, obyektif, dan valid mengenai Syi’ah, yang pada gilirannya dapat memperkaya wawasan kita sebagai seorang Muslim.

Dengan penjelasan diatas penulis bermaksud untuk membuat makalah ini dengan tujuan untuk lebih memahami kan adanya aliran syia’ah dengan pola pikir yang di gunakan sebagai landasan pemikiran golonga  syi’ah baik secara klasik maupun secar modern. Semoga dengan mengkaji teologi tentang golongan syi’ah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan bagi semua pembaca.

B.Rumusan Masalah1.Apa pengertian Syi’ah?
2.Bagaimana sejarah lahirnya Syi’ah?
3.Apa saja aliran – aliran teologi Syi’ah?
4.Bagaimana pokok pemikiran teologi Syia’h?
5.Apa kesesatan dan penyimpangan Syi’ah?

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Syi’ah
Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah Syi’i (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.  Istilah Syi’ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة  Syī`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syī`ī  شيعي. “Syi’ah” adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya “pengikut Ali”, yang berkenaan tentang Q.S. Albayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: “Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung” (ya Ali anta wa syi’atuka humulfaaizun).
Syiah secara etimologi berasal dari kata kerja dasar syaya’a yang berarti mendukung, membela, dan ,menolong. Kata  syi’ah berarti para pendukung dan pembela. 

Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat menggunakan kata Syi’ah dengan arti penolong, pengikut dan pendukung, diantaranya adalah dalam QS al-Qasas (28: 15).
Terjemahan:
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah. Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang ber- kelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya.

Syiah artinya pendukung, maksudnya pendukung Ali bin Abi Thalib. Pada akhir masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan, seorang Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba menyatakan diri masuk Islam. Sewaktu masih menganut agama Yahudi ia pernah mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun adalah seorang yang diberi wasiat oleh Nabi Musa untuk melanjutkan memimpin Bani Israil. Setelah masuk Islam, dia menghembuskan doktrin bahwa Ali telah menerima wasiat dari Nabi Muhammad sebagai khalifah sepeninggal beliau. Lebih dari itu Abdullah bin Saba mengajarkan bahwa pada diri Ali itu mengandung unsur ketuhanan.

B.Sejarah lahirnya Syi’ah
Kata Syi’ah dalam pengertian terminologi berarti para pengikut ‘Ali Bin Abi Thalib dan para pembelanya sejak zaman Nabi Muhammad saw. Keberadaan Syi’ah sebagai pengikut ‘Ali Bin Abi Thalib sudah muncul sejak nabi Muhammad saw. masih hidup. Hal ini berangkat dari beberapa riwayat tentang adanya keharusan mencintai dan menjadi pengikut keluarga Nabi saw.

Kalangan Syi’ah menegaskan bahwa keberadaan Syi’ah sebagai suatu kaum telah ada semenjak zaman Nabi Muhammad saw, sejak zaman Nibi Muhammad saw. terdapat  sekelompok pecinta Ali Bin Abi Thalib yang di sebut Syi’ah ‘Ali Bin Abi Thalib seperti salman al-Farisi, Abu Zar al-Gaffari, Miqdad ibn Aswad dan ‘Ammar ibn Yasir. Sebagaimana argumentasi yang dinyatakan Muhammad al-Husein al-Kasyif al-Gita’, bahwa Syi’ah telah ada sejak zaman Nabi saw, dan telah tercatat tidak kurang dari 300 sahabat yang menjadi Syia’ah “Ali Bin Abi Thalib termasuk Ibn Abbas, dan simpatisannya melebihi jumlah tersebut. 

Ada pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Sy’iah memang tampak jelas - jelas setelah Nabi Muhammad saw wafat, pada waktu yaum al-Saqifah. Keluarga Nabi (Ahl al-Bait) sibuk mengurus jenazah Nabi saw, sedangkan beberapa sahabat berkumpul dan menunjuk Abu Bakar sebagai Khalifah. Ketika Ahl al-Bait dan pencintanya seperti Ibn Abbas menyampaikan protes kepada ‘Umar ibn al-Khattab tentang kekhalifahan, ‘Umar ibn al-Khattab memberikan jawaban ‘Ali ibn Abi Thalib yang paling pantas menjadi khalifah, namun ia harus disingkirkan karena alasan bahwa ia masih telalu muda, Ali ibn Abi Thalib terikat keturunan ‘Abd al-Muttalib, dan orang tidak ingin kenabian dan kekhalifahan berhimpun dalam suatu keluarga. Karena protes ini maka pengikut-pengikut ‘Ali ibn Abi Thalib berpisah dan membentuk kelompok minoritas yang dikenal senabagai Syi’ah Ali.

Masalah khalifah sesudah rasul wafat, merupakan fokus perselisihan di antara golongan besar, yaitu: Golongan Ansar, Muhajirin, dan Bani Hasyim. selain itu sebenarnya masih ada kelompok terselubung yang cukup potensial dalam mewujudkan ambisinya sebagai penguasa tunggal, ialah golongan bani umayyah. sikap golongan terakhir ini, tercermin pada sikap tokoh utamanya yaitu Abu sufyang yang enggan membai’at khalifah Abu Bakar, sekembalinya dari syaqifah menuju mesjid nabawi bersama-sama dengan umat islam lain, sebagai yang dilakukan kaum bani hasyim.

Pendapat yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahran menunjukkan bahwa Syi’ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan ‘Usma ibn Affan, tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan ‘Ali ibn Abi Thalib.

Setelah Usman wafat, ali adalah calon utama untuk menduduki jabatan khalifah. pembai’atan khalifah kali ini, segera mendapat tantangan dari dua orang tokoh sahabat yang berambisi menduduki jabatan tersebut. Kedua tokoh tersebut adalah Thalhah dan Zubair yang mendapat dukungan dari A’isyah, untuk mengadakan aksi militer yang dikenal dengan perang jamal. Akhirnya kedua tokoh tersebut terbunuh, sedangkan A’isyah, oleh khalifah Ali dikembalikan ke madinah.

Pendapat al-awad yang dikutip oleh Prof. H. Abu Bakar Atjeh dalam bukunya perbandingan mahzab syi’ah, menjelaskan bahwa lahirnya syia’ah bersamaan dengan lahirnya nas (Hadis) mengenai pengangkatan Ali bin Abi bin Thalib oleh nabi sebagai khalifah sesudahnya. Nas yang dimaksud antara lain, mengenai kisah perjamuan makan dan minum yang diselenggarakan oleh Nabi di rumah pamannya Abu Thalib, yang dihadiri oleh 40 orang sanak keluarganya. Dalam perjamuan itu beliau menyatakan :’… Inilah dia (ali) saudaraku, penerima wasiat dan khalifahku untuk kalian, oleh karena itu, dengar dan taanti (perintyahnya)…”  Pernyataan ini disampaikan oleh nabi setelah ali menerima tawaran beliau sebagai khalifahnya. Nas  seperti ini jelas tidak terdapat dalam kitab shahih al-bukhari dan shahih muslim, karena itu golongan sunni menolak nas tersebut bila dijadikan dalil untuk mengklaim kekhalifahan Ali sebagaimana yang di kehendaki oleh kaum syi’ah.

Dalam sejarah tidak begitu jelas kapan istilah ini muncul, namun umumnya istilah ini merujuk kepada pendukung Ali, yang muncul setelah meninggalnya Nabi Muhammad saw. Istilah ini lebih populer lagi dan mengkristal setelah terjadinya pertempuran shiffin dan peristiwa al-tahkim. Dalam peristiwa tersebut terdapat kelompok yang menentang Ali yang kemudian disebut sebagai kelompok khawarij, dan orang-orang yang masih tetap setia mendukung Ali yang disebut Syi’ah Ali.

Ada beberapa alasan mengapa kelompok ini begitu menginginkan Ali menjadi penggan Nabi. Bagi Syi’ah, Ali adalh pemegang hak kekuasaan setelah wafat nabi Muhammad saw (632M) diantara pernyataan Nabi saw pada saat itu adalah: “barang siapa yang menganggapku sebagai pemimpinnya (mawla), mulai saat ini hendaklah menganggap ali sebagai pemimpinnya”.

Perumusan pengertian Syi’ah secara sempurna memang dipandang sangat sulit karena Syi’ah telah melalui proses sejarah yang panjang dengan segala peristiwa yang ikut mempengaruhi ajarannya. Namun, secara umum Syi’ah adalah kelompok masyarakat yang menjadi pendukung ‘Ali ibn Abi Thalib, dan meyakini bahwa ‘Ali ibn Abi thalib mendapat wasiat kepemimpinan dari Nabi Muhammad saw. serta hak kepemimpinan tidak boleh keluar dari keturunannya. Sedangkan secara teminologis adalah sebagian kaum Muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad saw. Atau Ahl al-Bait. Karena poin penting dalam doktrin Syi’ah adalah segala petunjuk agama (Islam) bersumber dari Ahl al-Bait Nabi Muhammad saw.

C.Aliran –aliran Teologi Syi’ah
Munculnya sekte-sekte syi’ah bermula dari masalh imamah atau kepemimpinan. Yaitu siapakah yang berhak menjadi pemimpin setelah terbunuhnya Husain, oleh karena pada saat itu belum ada di antara putera-puteranya yang mencapai dewasa. Rupanya kaum syi’ah sulit menghindari perpecahan, karena timbulnya tiga kelompok yang berbeda paham.

a.Imamiyah ( Isna ‘Asyariyah)
Syi’ah Imamiyah atau Isna ‘Asyariyah merupakan salah satu kelompok dalam Syi’ah yang terbesar. Kelompok Syi’ah ini meyakini dua belas Imam mas’um setelah Nabi Muhammad saw. Sehinhha di namakan juga Syi’ah Isna Asyariyah. Istilah Isna ‘Asyariyah memiliki arti dua belas, yang berarti Syi’ah dua belas. Oleh karena itu mereka betul-betul menolak kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Usman. Dua belas Imam dalam keyakinan Syi’ah Isna ‘Asyariyah tersebut adalah ‘Ali ibn Abi Thalib, Hasan, Husain, ‘Ali Zain al-‘Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far al-Sadiq, Musa al-Kazim, Ali al-Rida, Muhammad al-jawwad, ‘Ali al-Hadi, Hasan al-Askari, Muhammad al-Mahdi. 

b.Syi’ah Zaidiyyah
Sekte ini berdiri sesudah berselang 60 tahun setelah Husain wafat, dibawah pimpinan imam Zaid ibn Ali. sekte ini memiliki persyaratan khusus dalam memilih seorang imam yaitu seorang yang alim, zahid (sangat berhati-hati dengan urusan dunia), pemberani, pemureah dan mau berjihad di jalan Allah guna menegakkan keimanan taat pada agama baik dari putera hasan atau Husain.

Sekte ini yang paling dekat kesunni di karenakan tidak mengangkat para imam kederajat kenabian, bahkan tidak sampai mendekati derajat itu. Namun mereka memandang para imam sebagai manusia paling utama setelah Nabi Muhammad saw. Mereka pun tidak mengkafirkan para sahabat, khususnya mereka yang di bai’at ‘Ali, dan mengakui kepemimpinan mereka.

c.Syi’ah Kaisaniyah
Dilihat  dari eksistensi dan gerakannya, golongan ini dapat dikatakan sebagai sekte tertua dalam syi’ah. sekte ini mengangkat Muhammad ibn Hanafiyyah sebagai imam, sedangkan ajarannya bersumber pada ajaran ibn saba’ dan golongan saba’iyyah.
Sekte ini berpandangan bahwa setelah ‘Ali dan kedua puteranya (Hasan dan Husain) kepemimpinan diserahkan kepada puteranya ‘Ali yang lain (dari ibu lain) yang bernama Muhammad bin Hanafiyah, dan kedua putera-puteranya (mereke disebut Kaisaniyah yang dinisbahkan kepada Kaisan.

d.Syi’ah Isma’iliyah (sab’iyah)
Sekte Isma’iliyah merupakan bagian bagian dari sekte Imamiyah. Nama sekte ini dinisbatkan kepada Isma’il bin Ja’far al-Sadiq. Ia dalah imam keenam dalam aliran Imamiyah Dua belas dan imam berikutnya adalah Musa al-Kazim sebagai imam ketujuh. Namun aliran Isma’iliyah menetapkan bahwa imam ketujuh adalah anaknya yang bernama Isma’il. Mereka mengatakan bahwa hal itu berdasarkan nash dari ayahnya, Ja’far, tetapi Isma’il wafat mendahului ayahnya.

e.Syi’ah Gulat
Sekte Ghulat adalah sekte-sekte Syi’ah yang dianggap ekstrem dan sudah dianggap keluar dari Islam. Menurut Abdul Qahir bahwa sekte-sekte ini adalah golongan yang menuhankan para imam, menghalalkan yang diharamkan oleh syari’ah dan menggugurkan kewajiban fardu Syari’ah.

D.Pokok Pemikiran Teologi Syi’ah
Konsep Imamah merupakan persoalan mendasar dalam pandangan Syi’ah, karena Imamah sebagai bagian dari rukun iman mereka. Kepemimpinan Ali di akui oleh Syi’ah karena Ali memiliki hak atas kekhalifahan berdasarkan ketetapan Tuhan, dan telah menerima mandate yang istimewa tersebut dari nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, keistimewaan ali adalah dia memiliki otoritas spiritual yang melekat pada dirinya, dan kemudian beralih pada anak dab keturunannya yakni melalui Ali dan Fatimah binti Nabi Muhammad yang kemudian dikenal dengan istilah ahl al-bait.

Berbeda dengan sekte Syi’ah pada umumnya, Syi’ah Zaidiyah  berpendapat bahwa imamah itu tidak melalui nash dan wasiat dari imam yang mangkat kepada imam yang datang sesudahnya (bukan jabatan warisan). Konsep ‘Ismah juga menjadi salah satu poin penting pemikiran Syi’ah. Konsep ini sangat terkait dengan konsep imamah karena diterapkan terhadap para imam. ‘ismah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi Muhammad saw. telah di jamin oleh allah swt. Dari segala bentuk perbuatan salah atau lupa. Menariknya, Syi’ah Zaidiyah menolak prinsip tentang kesucian imam dari dosa yang besar dan dosa kecil, bagi mereka imam itu manusia biasa yang mungkin akan melakukan kesalahan. 

Syi’ah juga memiliki doktrin al-Raj’ah yaitu kembalinya imam ketengah masyarakat setelah lewat masa ghaib atau masa bersembunyi dari pandangan pengikutnya. Dalam keyakinan Syi’ah, imam al-Hasan al-‘Askari meninggalkan seorang putera yang berusia sekitar 4 atau 6 tahun, yang bergelar Imam Mahdi. Ia lari dan bersembunyi dalam lubang Sardab di rumah ayahnya di Irak setelah di nobatkan oleh ayahnya sebagai imam ke-12. Imam baru akan menampakkan diri lagi saat kiamat sudah semakin dekat.

Syi’ah Zaidiyah menolak ketidak hadiran imam, karena ahlul hal wa al-aqd hanya dapat memilih imam kalau seandainya calon imam itu ada di tengah mereka, atau menurut mereka kehadiran imam merupakan syarat umum. Oleh karena itu Zaidiyah tidak mengakui tentang keberadaan Imam Mahdi. Sebagai doktrinnya Syi’ah juga memiliki kesamaan dengan Mu’tazilah. Syi’ah dalam pandangan teologinya menolak paham bahwa Al-Qur’an itu qadim dan juga menolak paham melihat Tuhan di akhirat. Dan mengenai sifat Allah, Syi’ah meniadakan sifat dari zat Allah. Penetapan sifat menurutnya merupakan penyamaan dengan makhluk.

Selain itu, Syi’ah juga menganut paham taqiyyah yaitu menyembunyikan identitas aqidah sebagai penjagaan diri dari musuh. Taqiyah ini menurut mereka merupakan salah satu prinsip utama agama yang tidak boleh ditinggalkan, bahkan mereka memandang wajib melakukan taqiyah.  
Pada umumnya bangunan teologi kaum Syi’ah, mengandung prinsip ajaran yang dikenal dengan lima rukun iman yaitu:
1.Prinsip tauhid, yaitu kepercayaan akan keesaan Tuhan.
2.Prisip al-Nubuwah, yakni percaya kepada kenabian Nabi Muhammad saw.
3.Prinsip al-Ma’ad, yakni keimanan akan hari kebangkitan.
4.Prinsip al-‘Adl, yakni keimanan akan keadilan Allah.
5.Prinsip Imamah, yaitu percaya kepada Imam. 

Dalam hal keimana ini, tampak Syi’ah tidak menyebutkan butir-butir kepercayaan kepada para malaikat, kitab, dan qada-qadar seperti yang terdapat dalam prinsip keimanan masyarakat sunni. Meski demikian, bukan berarti mereka tidak percaya kepada malaikat atau kitab-kitab, tetapi komponen itu bukan sistematika yang dirumuskan menjadi prinsip rukun iman tersebut. Perbedaan seputar rumusan rukun iman sebagai prinsip dasar aqidah dalam islam tidak mengherankan sebab bangunan rukun iman secara rinci sebagaimana diyakini selama ini dirumuskan kemudian. 

E.Kesesatan Dan Penyimpangan Syiah
Adapun kesesatan dan penyimpangan syi’ah adalah sebagai berikut :
1.Syiah memandang imam itu ma’shum (orang suci)
2.Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/ pemerintahan (imamah) adalah rukun agama.
3.Syiah menolak hadits yang diriwatkan oleh Ahlul Bait.
4.Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman.
5.Syiah menghalalkan nikahmut’ah (kawin kontrak) yang sudah dihamkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.
6.Para imam dianggap ma’shu,itu bertentangan dengan islam, karena yang ma’shum hanyalah nabi. Bahkan syiah sendiri sampai kemudian membatasi kewengan imam setelah kasus imam Khomeini yang cenderung menuruti kehendak hawa nafsunya hingga akan mengakibatkan hancurnya rakyat Iran karena tetap diharuskan berperang dengan Irak, maka kemudian dibatasilah wewenang imam.
7.Syiah menggunakan senjata taqiyyah yaitu berbohonh, dengan cara menampakkan sesuat yang berbeda yang sebenarnyauntuk mengelabui.

Syiah telah terang-teranagan memporak-porandakan ajaran islam dan umat islam sejak adanya anggapan bahwa yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallamadalah Ali binAbi thalib. Anggapan itu bukan sekadar tak mengakui kekhalifahan Abu bakar Ash-shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, tetapi sampai mengkafirkan ara sahabat yang yang termasuk dijamin masuk surga oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam itu. Bahkan lebih dari itu, syiah menganggap yang menjadi khalifah Ali binAbi thalib serta keturunanya sampai 12 orang yang disebut imam dan dianggap ma’shum terpelihara dari kesalahan-hesalahan.

Menurut sesorang Ulama Syi’ah al-Mufid dalam kitab Awail al-Maqalat, menyatakan bahwa Alqur’an yang ada saat ini tidak orisinil. Alqur’an sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangn.

Penyimpangan oleh gejala kafir- mengkafirkan ini kemudian menjadi lembaran hitam sejarah Islam dan mewarnai penyebarannya ke berbagai daerah di dunia, termasuk di Indonesia. Hari ini, Syiah di Indonesia dianggap kelompok sempalan atau bid’ah (heretical), dan pengganggu keamanan. Banyak buku-buku tentang Syiah di Indonesia dilarang, dan pengikutnya dianggap sesat. Sebagian besar ulama Sunni yang banyak diikuti oleh umat Islam di Indonesia menjelaskan sembilan persoalan mengapa Syiah dilarang dan ditentang penerapannya di Indonesia; yakni pemahaman kelompok ini terhadap al Quran, Sunnah dan Hadits, ijma, Rukun Islam dan Rukun Iman, imamah, Ahlul Bait, sahabat Nabi, at Taqiyah, dan nikah Muth’ah.

Meski demikian, ada sebagian pendapat mazhab ini dipraktekan dalam kehidupan kaum Sunni di Indonesia, misalnya tidak sah talak jika tidak dipersaksikan oleh dua orang. Dalam konteks historis, tidak terlalu banyak data-data sejarah menyangkut kedatangan dan peran aliran Syiah di Indonesia. Dalam masyarakat Indonesia, Syiah merupakan salah satu dilema dalam kehidupan beragama. Di satu sisi ulama- ulama Syiah menjadi pionir bagi proses Islamisasi di berbagai daerah. Di sisi lain Syiah merupakan pemahaman keagamaan yang sulit ditelusuri dalam kehidupan keagamaan masyarakat Muslim Indonesia hari ini. Kini, warisan pemahaman Syiah, salah satunya, hanya dapat dilacak dalam tradisi masyarakat pantai barat Sumatra; masyarakat Pariaman. 

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari penjelasan yang dijelaskan pada bab pembahasan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai golongan syi’ah, yaitu antara lain sebagai berikut:
1.Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syi’ah Ali adalah pendukung atau pembela Ali.  
Syi’ah Mu’awiyah adalah pendukung Mu’awiyah. Pada zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman kata Syi’ah dalam arti nama kelompok orang Islam belum dikenal. Kalau pada waktu pemilihan kholifah ke-tiga ada yang mendukung Ali, tetapi setelah ummat Islam memutuskan memilih Utsman bin Affan, maka orang-orang yang tadinya mendukung Ali, akhirnya berbai’at kepada Utsman termasuk Ali. Jadi, belum terbentuk secara faktual kelompok ummat Islam bernama Syi’ah.

2.Pendapat mengenai awal mula lahirnya Syi’ah  yaitu:
a.Sebagian menganggap Syi’ah lahir langsung setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshar di Balai Pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Pada saat itu muncul suara dari Bani Hasyim dan sejumlah kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi ‘Ali bin Abi Thalib. Sebagian yang lain menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan atau pada masa awal kepemimpinan ‘Ali bin Abi Thalib.

b.Pendapat yang paling populer adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan Khalifah ‘Ali dengan pihak pemberontak Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Shiffin, yang lazim disebut sebagai peristiwa tahkîm atau arbitrasi. Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan ‘Ali memberontak terhadap kepemimpinannya dan keluar dari pasukan ‘Ali. Mereka ini disebut golongan Khawarij. Sebagian besar orang yang tetap setia terhadap khalifah disebut Syî’atu ‘Alî (pengikut ‘Ali).

B.Saran
Ajaran dalam Syi’ah amatlah banyak dan berbeda-beda, sehingga kita harus mencari dan mengetahui ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, dan tokoh-tokoh yang berdampak besar dalam golongan ini. Selain itu, di dalam aliran Syi’ah ini terdapat banyak  bagian-bagian dan perbedaan pendapat dalam bertahuid. Yang ditandai dengan munculnya beberapa sekte seperti Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaum Gulat.

Hal ini menuntut kita untuk selalu berhati-hati serta mengantisipasi atas adanya doktrin keras yang mungkin berkembang, atau bahkan telah begitu pesat dalam penyebarluasan ajarannya ke negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Indonesia. Salah satunya adalah menyatakan bahwa Ali Bin Abi Thalib  sangat utama di antara para Sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin. Bahkan yang lebih parah adalah yang memuja dan menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib bukan manusia biasa, melainkan jelmaan Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri.

Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita harus selalu cermat serta berhati-hati dalam meyakini dan mempelajari suatu aliran baik itu Syi’ah maupun aliran pemikiran yang lain. Selain itu, jangan sampai terlalu fanatik, karena fanatisme akan berdampak pada keburukan. Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Hartono.2010.Aliran dan Paham Sesat.Jakarta: Pustaka AL-Kautsar
Amin, Ma’ruf, dkk. 2013. Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah. Jakarta : MUI
Barsihannor MZ. 2013.Dialog Tiga Mazhab Besar Teologi Islam. Makassar: Alauddin University Press
Depertemen Agama RI. 1989. A-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Revisi. Semarang: CV. Putra Toha,
Fathoni, Muslih. 2002. paham mahdi syi’ah dan ahmadiyyah dalam perspektif.    Jakarta:PT. Raja grafindo 
persada
Ibrahim Madkour. 1995.Aliran dan Teori Filsafat Islam Cet. I; Jakarta: Sinar Grafika Offset.
Kamil al-hasyimi, Muhammad. 1989. hakikat akidah syi’ah (aqidus-syi’ah fil-mizan). Jakarta:PT. bulan bintang
Muhammad Abu Zahran. 1996.Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam. Jakarta: Logos     publishing House.
http://zulfata.blogspot.com/2014/12/makalah-ilmu-kalam-aliran-syiah.html
https://anasunni.wordpress.com/2014/12/17/makalah-ilmu-kalam-tokoh-ajaran-syiah/

Apr 4, 2015

Akhlak, Moral dan Etika

MAKALAH AQIDAH AKHLAK
"AKHLAK, MORAL DAN ETIKA"



DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014


 BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sejarah agama menunjukkan bahwa kebahagiaan yang ingin di capai dengan menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik. Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesahan Tuhan, ibadah yang dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya kebahagian tersebut .

Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadapnya adalah pangkalan yang menentukan corak hidup manusia. Akhlak, moral atau susila adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai utlak kebaikan.Hidup susila dan tiap-tiap perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah kesadaran menentang kesadaran itu. Akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah membedakan hal-hal yang haram, hak dan batil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun dia bisa melakukan.Itulah hal yang khusus manusiawi.Dalam dunia hewan tidak ada hal yang baik dan buruk atau patut tidak patut,karena hanya manusialah yang mengerti dirinya sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatannya itu, sebelum, selam dan sesudah pekerjaan itu dilakukan.Sehingga sebagai subjek yang mengalami perbuatannya,dia biasa dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya itu .

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok masalah dalam makalah ini yaitu:
1.Apakah pengertian akhlak, etika dan moral ?
2.Bagaimana perbedaan akhlah,etika dan moral ?
3.Bagaimana pandangan para ulama tentang akhlak,etika dan moral ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Akhlak, Moral dan Etika
1.Pengertian Akhlak
Akhlak adalah lafaz yang berasal dari bahasa arab merupakan bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, parangai, tingkah laku, atau tabi’at. Berasal dari akar kata khalaq yang berarti menciptakan, yang seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq artinya yang diciptakan, dan khalq artinya ciptaan.

Akhlak di artikan sebagai perilaku, budi pekerti, sopan santun, dan tingkah laku sehari-hari. Hal tersebut, mengisyaratkan bahwa dalam kata akhlak tercakup pengertian terwujudnya keterpaduan antara kehendak khaliq (Tuhan atau Allah) dengan perilaku makhluk (Hamba atau manusia). Dengan kata lain, perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlaq yang hakiki manakala tindakan, perilaku, dan sifat-sifat didasarkan pada kehendak al-khaliq yaitu: allah rabbul alamin.

Dari pengertian tersebut, memberi informasi bahwa akhlaq, selain merupakan tata aturan atau norma-norma perilaku tentang hubungan antara sesama manusia, juga merupakan norma yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhan yang maha pencipta, bahkan mengatur hubungan dengan alam sekitarnya.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
Terjemahan:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam 68 :4) 
Demikian juga hadis Nabi Muhammad SAW
Terjemahan:
“Aku diutus untuk menyempurnakan perangai (budi pekerti) yang mulia.” (H.R. Ahmad)  
Jadi, secara umum akhlak diartikan sebagai perilaku, budi pekerti, sopan santun, dan tingkah laku sehari-hari.


2.Pengertian Etika
Dari segi etimologi etika berasal dari bahasa yunani, ethos yang berarti watak, kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Sedangkan etika menurut filsafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Pada dasarnya,etika membahasa tentang tingkah laku manusia.

Etika adalah sebuah pengetahuan yang berhubungan dengan budi pekerti atau aturan-aturan yang normatif tentang tingkah laku, sifat dan perbuatan manusia yang berhubungan dengan nilai-nilai yang baik dan yang buruk atau sifat-sifat yang terpuji dan yang tercela, yang berasal dari individu dalam pergaulanya dangan masyarakat dan alam lingkungan sekitarnya. 

Etika merupakan nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang dari kultur atau budaya masyarakat, yang mungkin dipengaruhi oleh nilai-nilai ajaran agama yang teraplikasi dalam masyarakat itu, sehingga etika yang dikembangkan adalah yang bersumber atau berdasarkan ajaran agama. Etika tersebut menjadi etika agama. 

3.Pengertian Moral
Moral berasal dari bahasa latin yakni mores kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai susila. Moral adalah hal-hal yang sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.

Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu, tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama.

Moral terdiri atas moral agama dan moral sekunder. Moral agama adalah moral yang berorientasi pada ajaran agama yang dianut atau dipercaya. Sedangkan moral sekunder adalah moral yang tidak berdasarkan pada ajaran agama dan hanya bersifat duniawi semata, tidak mengenal kepercayaan kepada tuhan dan kehidupan akhirat. Mereka benar-benar hanya mendasarkan kehidupannya dengan nilai-nilai yang logis yang bersifat empiris. 

Iman adalah satu kekuatan yang memelihara umat manusia dari nilai-nilai rendah, dan alat yang menggerakkan manusia untuk meningkatakan nilai luhur dan moral yang bersih.Itulah sebabnya, Allah berseru kepada seseorang kepada kebajikan dan menghendaki seseorang membenci kejahatan. Dia menegaskan bahwa hal ini merupakan syarat utama bagi keimanannya.    

Rasulullah saw. Telah menerangkan dengan baik sekali, bahwa manakala keyakinan dan keimanan tertanam dengan kukuh, maka moral akan berkembang dengan subur. Dan manakala karakter moral begitu rendah, maka dengan sendirinya iman akan rendah.

Seseorang yang melakukan berbagai bentuk ibadah ( shalat ) tanpa mengetahui artinya hanyalah orang-orang yang tidak memahami makna ibadah. Sehingga, orang tersebut tidak akan mampu meningkatkan dirinya. Bahkan, anak kecil sekalipun dapat meniru gerakan-gerakan shalat dan bisa mengucapkan bacaan-bacaan selama shalat berlangsung.Kadang, seorang aktor dapat melakukan shalat dengan khusyu’ dan dapat melakukan gerakan-gerakan shalat . Tetapi, tetapi gerakan-gerakan tersebut tidak akan menguntungkan bagi keimanan atau tidak memenuhi sasarannya. Hanya satu cara melakukan shalat atau ibadah yang tidak akan memberikan akibat yang salah , yaitu karakter moral yang tinggi (akhlak).

Usamah menyatakan, “kami tengah duduk-duduk bersama rasulullah saw, begitu heningnya sehingga tak seorang pun berusa untuk membuka pembicaraan. Tidak beberapa lama, seseorang telah datang dan bertanya: diantara hamba allah, siapakah gerangan yang paling dikasihi, ya rasulullah? Rasulullah saw menjawab, “seseorang yang mempunyai watak moral (akhlak) terbaik!” (ibnu hiban)

Yang dimaksud dengan moral ialah sesuatu yang sesuai dengan ide-ide umum tentang tindakan manusia, yang baik dan wajar, sesuai dengan ukuran tindakan yang diterima umum, meliputi kesatuan sosial atau ligkungan tertentu. Dengan demikian, jelaslah persamaan antara etika dan moral. 

Posisi moralitas tidak seperti halnya kesenangan atau kemewahan. Tetapi moralitas adalah nama dari suatu prinsip hidup, dan agama harus memiliki dan menjaganya. Islam telah menyebutkan satu demi satu semua kebijakan dan prinsip-prinsip moral, disamping telah menganjurkan para pengikutnya untuk menjadikan moral sebagai bagian dari kehidupannya. 

B.Perbedaan Akhlak, Etika dan Moral
Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat jika masyarakat menganggap suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai perbuatan itu. Dengan demikian standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi. 

Dalam pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari. Inilah yang menjadi misi diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya :
“ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.” (Hadits riwayat Ahmad)
Secara umum dapat dikatakan bahwa akhlak yang baik pada dasarnya adalah akumulasi dari aqidah dan syari’at yang bersatu secara utuh dalam diri seseorang. Apabila aqidah telah mendorong pelaksanaan syari’at akan lahir akhlak yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syari’at Islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah. 

Akhlak manusia memang sangat berpengaruh bagi diri kita untuk kedepanya, jika akhlak kita jelek, maka kita akan jadi orang yang jelek di masyarakat, dan sebaliknya juga, jika kita baik, maka secara otomatis kita akan di perhitungkan dan disegani di masyarakat. Istilah akhlak, etika dan moral sering digunakan dalam konotasi yang sama dalam percakapan sehari-hari, sehingga seolah-olah tak ada bedanya. Padahal ketiga istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda-beda. Hal ini dapat dimaklumi karena ketiganya mempunyai obyek yang sama, yakni baik dan buruk. Perlu dibedakan antara akhlak sebagai perilaku, yang sudah dipaparkan di atas, dan akhlak sebagai ilmu.

Akhlak sebagai ilmu dapat dianalogikan dengan etika sebagai ilmu yang pembahasannya menjadi isu filsafat. Salah satu pengertian ilmu filsafat yang cukup mewakili adalah ungkapan Ahmad Amin yang mengatakan bahwa ilmu akhlak ialah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia didalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan melakukan apa-apa yang harus diperbuat. Pengertian di atas hampir tidak ada bedanya dengan pengertian etika, sehingga kadang-kadang disamakan antara ilmu akhlak dan etika. Namun jika diteliti secara seksama, maka sebenarnya antara keduanya mempunyai segi-segi perbedaan. Sedangkan pada etika dan moral yang membedakan adalah pada tolok ukurnya. Jika dalam etika untuk menentukan nilai perbuatan manusia (baik atau buruk) dengan tolok ukur akal pikiran maka dalam pembahasan moral tolok ukurnya adalah norma-norma yang hidup dalam masyarakat, yang dapat berupa adat istiadat, agama dan aturan-aturan tertentu. 

Inti pengertian di atas adalah harus ada seperangkat nilai yang mengatur manusia untuk berbuat sesuatu untuk mencapai tujuan, yaitu kebaikan tertinggi (summon banum) yang dalam teori etika tolok ukurnya adalah akal pikiran secara universal tanpa memandang ia hidup di mana dan kapan, serta memeluk agama apa. Sedangkan dalam akhlak (dalam hal ini adalah akhlak Islam) merupakan seperangkat nilai untuk menentukan baik dan buruk tolok ukurnya adalah al-Qur’an dan al-Sunnah. Bagi umat Islam al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan way of life untuk mengatur segala perilakunya, sehingga segala perilakunya tidak boleh lepas dari keduanya. Hal ini tidak berarti manusia tidak bebas memilih yang dalam pembahasan akhlak atau etika merupakan unsur utama yang harus dipertimbangkan karena suatu perbuatan dapat dinilai itu harus ada kebebasan. 

Untuk membedakan secara tegas antara akhlak (etika islam) dengan etika filsafat, yaitu bahwa :
1.Etika islam mengajarkan dan menuntun manusia pada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk.
2.Etika islam menetapkan bahwa sumber moral, ukuran baik buruknya perbuatan didasarkan kepada ajaran Allah AWT. (Al-Qur’an) dan ajaran Rasul-Nya (sunnah)
3.Etika islam bersifat universal dan komprehensif, dapat diterima oleh seluruh umat manusia di segala waktu dan tempat.
4.Dengan rumus-rumus yang praktis dan tepat dengan fitrah (naluri) dan akal pikiran manusia, Etika islam dapat dijadikan peman oleh seluruh manusia.
5.Etika islam mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur dan meluruskan perbuatan manusia di bawah pancaran sinar petunjuk Allah AWT. Menuju keridaan-Nya, sehingga selamatlah manusia dari pikiran-pikiran dan perbuatan-perbuatan yang keliru dan menyesatkan.

C.Pandangan Para Ulama
1.Akhlak

Menurut Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya Ulum al-Din, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Ibrahim Anis dalam kitab al-Mu’jam al-Wasith, Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dengannya timbul bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Abdul Karim Zaidan dalam kitab Ushul al-Da’wah, Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam jiwa, dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatan baik dan buruk, untuk kemudian memilih melakukan ataupun meninggalkannya.

Menurut Ahmad Amin Akhlak ialah membiasakan kehendak. Ini berarti bahwa kehendak itu apabila dibiasakan terhadap sesuatu maka kebiasaan itu akan dapat membentuk akhlak. Contohnya, bila membiasakan kehendak untuk memberi, maka akan melahirkan akhlak dermawan ataupun kepedulian sosial. 

Menurut Ibnu Maskawaih salah seorang filosuf  Islam, akhlak adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukankegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan (sebelumnya).

2.Etika
Al- Ghozali melihat sumber kebaikan pada manusia bersumber pada kebersihan rohaninya dan rasa akrabnya (taqorrub) terhadap Tuhan. Beliau juga menganggap Tuhan adalah Pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan kebaikan bagi sekalian alam. Ini sangat bertentangan dengan anggapan filsafat klasik Yunani yang menganggap Tuhan sebagai kebaikan tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu pendekatan diri dari manusia .

Menurut beliau, bahwa manusia sebisa mungkin berusaha untuk meniru perangai dan sifat–sifat ketuhanan seperti pengasih, penyayang, pengampun, dan sifat – sifat yang disukai Tuhan, seperti sabar, jujur, taqwa, zuhud, ikhlas, beridiologi, dan sebagainya .

Didalam ihya’ beliau menjelaskan ketika seseorang beradu argument, maka harus bertujuan mencari kebenaran. Sehingga apabila kebenaran itu berada atau datang dari lawan debatnya, maka ia harus bersyukur atas apa yang telah dilakukan lawannya, yaitu memberitahu kesalahannya dalam memahami suatu ilmu, tidak boleh menggap lawan debatnya sebagai musuh bahkan dianggap sebagai orang yang telah menunjukkan dirinya dari jalan yang salah .

3.Pengertian Moral
Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah keyakinan serta sikap batin dan
bukan hanya sekedar penyesuaian dengan beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum Negara, hukum agama dan hukum-hukum istiadat .

Moral merupakan tindakan manusia yang bercorak khusus yang didasarkan kepada pengertiannya mengenai baik dan buruk. Morallah yang membedakan manusia dengan makhluk tuhan yang lainnya dan menempatkan pada posisi yang baik diatas makhluk lain .

Moral adalah realitas dari kepribadian pada umumnya bukan hasil dari perkembangan pribadi semata. Namun moral merupakan tindakan atau tingkah laku seseorang. Moral tidaklah bisa dipisahkan dari kehidupan beragama. Di dalam agama Islam perkataan moral sangat identik dengan akhlak .

Moral merupakan norma yang bersifat kesadaran atau keinsyafan terhadap suatu kewajiban melakukan sesuatu atau suatu keharusan untuk meninggalkan perbuatan – perbuatan tertentu yang dinilai masyarakat dapat melanggar norma-norma .

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Akhlak adalah lafaz yang berasal dari bahasa arab merupakan bentuk jamak
dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, parangai, tingkah laku, atau tabi’at. Berasal dari akar kata khalaq yang berarti menciptakan, yang seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluq artinya yang diciptakan, dan khalq artinya ciptaan.  Akhlak di artikan sebagai perilaku, budi pekerti, sopan santun, dan tingkah laku sehari-hari.

Etika adalah sebuah pengetahuan yang berhubungan dengan budi pekerti atau aturan-aturan yang normatif tentang tingkah laku, sifat dan perbuatan manusia yang berhubungan dengan nilai-nilai yang baik dan yang buruk atau sifat-sifat yang terpuji dan yang tercela, yang berasal dari individu dalam pergaulanya dangan masyarakat dan alam lingkungan sekitarnya.

Moral berasal dari bahasa latin yakni mores kata jamak dari mos yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai susila. Moral adalah hal-hal yang sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.

Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik dan buruk akhlak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat jika masyarakat menganggap suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai perbuatan itu. Dengan demikian standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi.

Menurut Imam Al Ghozali dalam kitab Ihya Ulum al-Din, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat menimbulkan perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Al- Ghozali melihat sumber kebaikan pada manusia bersumber pada kebersihan rohaninya dan rasa akrabnya (taqorrub) terhadap Tuhan. Beliau juga menganggap Tuhan adalah Pencipta yang aktif berkuasa, yang sangat memelihara dan menyebarkan kebaikan bagi sekalian alam. Ini sangat bertentangan dengan anggapan filsafat klasik Yunani yang menganggap Tuhan sebagai kebaikan tertinggi, tetapi pasif menanti, hanya menunggu pendekatan diri dari manusia.

Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah keyakinan serta sikap batin dan
bukan hanya sekedar penyesuaian dengan beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum Negara, hukum agama dan hukum-hukum istiadat

DAFTAR PUSTAKA
Ambo Asse,Akhlak al-Kariemah,Dar al-Hikmah Wa al-Ulum:Makassar,2003
Departemen keagamaan, al-qur’an terjemahan
Komari dan sunarsih, Akhlak Anak Islam, LP3Q, Makassar, 2006
Kumaidi,dkk,Aqidah Akhlak, AKIK PUSAKA:Ciwaringin,2008
Muhammad al-ghazaliy,Karakter Muslim:Bandung,1987
Syekh Mahmud Syaltut,Akidah dan Syari’ah Islam,BINA AKSARA:Jakarta,1985
Yusuf al-Qardhawy dan al-iman wal Hayat,Iman dan Kehidupan,PT Bulan Bintang:Jakarta,1993

Apr 3, 2015

Akhlak Terpuji (Akhlakul Mahmudah)

MAKALAH AQIDAH AKHLAK
"AKHLAK TERPUJI (AKHLAKUL MAHMUDAH)"




DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Akhlak merupakan sifat yang tumbuh dan menyatu di dalam diri seseorang. Dari sifat yang ada itulah terpancar sikap dan tingkah laku perbuatan seseorang, seperti sifat sabar, kasih sayang, atau malah sebaliknya pemarah, benci karena dendam, iri dan dengki, sehingga memutuskan hubungan silaturahmi.
 
Bagi seorang muslim, akhlak yang terbaik ialah seperti yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW karena sifat-sifat dan perangai yang terdapat pada dirinya adalah sifat-sifat yang terpuji dan merupakan uswatun hasanah (contoh teladan) terbaik bagi seluruh kaum Muslimin.
 
Dalam Ajaran islam adalah ajaran yang bersumber pada wahyu Allah, Al-Qur’an dalam penjabarannya terdapat pada hadis Nabi Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam Islam mendapat perhatian yang sangat besar. Berdasarkan bahasa, akhlak berarti sifat atau tabiat. Berdasarkan istilah, akhlak berarti kumpulan sifat yg dimiliki oleh seseorang yang melahirkan perbuatan baik dan buruk.
 
Sesungguhnya banyak manusia yang memahami bahwa akhlak terpuji itu hanyalah khusus dalam berhubungan dengan sesama makhluk saja dan tidak berkaitan dengan hubungan kepada penciptaNya. Tetapi ini adalah pemahaman yang pendek, karena sesungguhnya akhlak terpuji sebagaiman terjadi pada hubungan sesama makhluk, juga terjadi dalam berhubungan dengan Allah
 
Akhlak yang baik dan mulia akan mengantarkan kedudukan seseorang pada posisi yang terhormat dan tinggi. Atas dasar itulah kami menyusun makalah ini, agar sebagai makhluk Allah, tidak tersesat dalam menjalani hidup, dan dapat menjadikan Rasulullah sebagai idola, karena sesungguhanya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik.

B.RUMUSAN MASALAH
1.Apa Definisi Tentang Akhlak Terpuji (aklakul mahmudah)?
2.Bagamana Akhlak yang berhubungan dengan Allah?
3.Bagamana akhlak terhadap diri sendiri?
4.Bagaimana akhlak terhadap keluarga?
5.Bagaimana akhlak terhadap masyarakat?
6.Bagaimana akhlak terhadap alam?


BAB II
PEMBAHASAN
A.Akhlak Terpuji (akhlakul mahmudah)
Akhlak terpuji (akhlakul mahmudah) merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Tanda yang di,anifestasikan ke dalam perbuatan sehari-hari dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-quran dan Al – hadis. Ahlakul mahmudah dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu
1.Akhlak yang berhubungan dengan Allah
2.Akhlah terhadap diri sendiri,
3.Akhlak terhadap keluarga,
4.Akhlak terhadap masyarakat dan
5.Akhlak terhadap alam. 

B.Akhlak yang berhubungan dengan Allah
1.Menauhidkan Allah

Salah satu bentuk akhlakul mahmudah adalah menauhidkan Allah. Yang dimaksud menauhidkan Allah adalah mempertegas keesaan Allah, atau mengakui bahwa tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dzat, Sifat, Afal dan Asma Allah.
 
Sebagai konsokuensi dari pembenaran terhadap Allah adalah seseorang meyakini dan membelanNya, berjihad dengan-Nya dan di jalan-Nya, dimana tidak ada lagi keraguan dan syubhat (keracunan). Jika seseorang berakhlak maka sangat memungkinkan baginya untuk membantah syubhat apapun yang dilontarkan oleh orang-orang yang menenntang Allah, baik dari kalangan  kaum muslimin yang mengadakan bid’ah di dalam agama Allah yang bukan dari ajaran-Nya.
 
Sesungguhnya kaidah yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar satu-satunya diterima dan diri Allah SWT. Untuk hamba – hambaNya yang merupakan satu – satunya jalan menuju kepadaNya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah, tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbgai perselisihan sumber semua kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta kabar gembira yang dibawa oleh para rasul dan para nabi adalah Ibadah hanya kepada Allah SWT.
 
Bertauhid dalam semua keinginannya terhadap Allah SWT, bertauhid dalam urusan penciptaan, perintah-Nya dan seluruh asma (nama-nama) dan sifat-sifatNya. Allah SWT berfirman :
 
Terjemahan :
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginyaطMaka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-nahl 16:36).

2.Takwa Kepada Allah
Kalimat “ittaqullah” (bertakwalah kepada Allah) jika diterjemahkan secara harfiyah akan menjadi ‘jauhilah Allah Atau hindarkanlah dirimu dari Allah’. Ulama-ulama berpendapat bahwa sesungguhnya bahwa terdapat astu kata yang tersirat antara ‘hindarilah’ dan ‘Allah”. Kata yang tersirat itu siksa atau hukuman. Dengan demikian, yang dimaksud dengan menghindari Allah adalah menghindari siksa atau hukuman-Nya.
 
Syekh Muhammad Abduh yang pendapatnya ditulis oleh muridnya, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, menyatakan dalam tafsir Al-Manar, bahwa menghindari siksa Tuhan dan sanksi-sanksi hukum yang ditetapkan-Nya dapat dicapai dengan menghindarkan diri dari segala apa yang dilarang-Nya dan menjalankan seluruh perintah-Nya.hal ini dapat tercapai melalui rasa takut dari siksaan yang akan menimpa serta takut kepada yang menimpakan siksaan itu (Allah SWT). Rasa takut tersebut pada mulanya muncul dari keyakinan tentang adanya siksaan, sehingga seseorang yang bertakwa adalah yang menjaga dirinya dari terkena siksaan. Untuk itu, harus memiliki pandangan dan kesadaran yang tinngi dalam memahami dan menghayati sebab-sebab yang dapat menimbulkan siksaan itu.
 
3.Dzikrullah
Allah SWT berfirman :
Terjemahan :
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [QS. Ar-Rad 13:28]

4.Tawakal
Tawakal mempunyai hubungan yang sangat erat dengan pemahaman manusia akan takdir, ridha, ikhtiar, saba, dan doa. Tawakal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah SWT, untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah kemudaratan, baik menyangkut urusan dunia maupun urusan akhirat. 
Allah berfirman :
 
Terjemahan :
“Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Dari umar bin khattab r.a, beliau berkata,”saya mendengar Rasulullah SAW berkata, “jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor buirung, pagi-pagi ia keluar dari (sangkarnya) dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari”.

Mewujudkan tawakkal bukan berarti meniadakan ikhtiar atau mengesampingkan usaha. Takdir Allah SWT dan sunnatullah terhadap makhluknya terkait erat dengan ikhtiar makhluk itu sendiri sebab Allah SWT yang telah memerintahkan hambaNya untuk berihktiar dan pada saat yang sama dia juga memerintahkan hambaNya untuk bertawal.

C.Akhlak Pada Diri Sendiri
1.Sabar

Sabar adalah tahan menderita dan menerima cobaan dengan rida hati serta menyerahkan diri kepada Allah setelah berusaha. Selain itu, sabar bukan hanya bersabar terhadap ujian dan musibah, tetapi juga dalam hal ketaatan kepada Allah.
 
Sabar terbagi tiga macam yaitu :
a.Sabar karena taat kepada Allah SWT, artinya sabar untuk tetap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan senantiasa meningkatkan ketakwaan kepadaNya.
b.Sabar karena maksiat, artinya bersabar diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama. Untuk itu, sangat dibutuhkan kesabaran dan kekuatan dalam menahan hawa nafsu.
c.Sabar karena musibah, artinya sabar pada saat ditimpa kemalangan, ujian, serta cobaan dari Allah.

2.Syukur
Syukur merupakan sikap diman seseorang tidak menggunakan nikmat yang diberiakan oleh Allah untuk melakukan maksiat kepada-Nya. Bentuk syukur ini ditandai dengan menggunakan segala nikmat atau rexeki  karunia Allah tersebut untuk melakukan ketaatan kepadaNya dan memanfaatkan kearah kebajikan, bukan menyalurkan ke jalan maksiat atau kejahatan.
Nikmat yang diberikanAllah itu cukup banyak dan tidak mampu dihitung. Allah berfirman :
 
Terjemahan :
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (Q.S. ibrahim : 34)

3.Amanah
Amanah merupakan sikap yang harus dimiliki oleh umat islam, yang merupan salah satu bentuk akhlak karimah. Pengertian amanah menurut arti bahasa ialah ketulusan hati, kepercayaan (tsiqah), atau kejujuran. Amanah merupakan kebalikan dari khianat.

4.Benar (Ash-Shidqu)
Ash-Shidqu merupakan salah satu akhlak mahmudah, yang berarti benar, jujur. Maksudnya adalah berlaku benar dan jujur, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.

Benar dalam perkataan adalah mengatakan keadaan yang sebenarnya, tidak mengada-ngada dan tidak pula menyembunyikannya. Lain halnya apabila yang disembunyikan itu bersifat rahasia atau bertujuan menjaga nama baik seseorang. Sedangkan benar dalam perbuatan ialah mengerjakan sesuatu sesuai dengan petunjuk agama. Apa yang boleh dikerjakan menurut perintah agama, berarti itu benar.kemudian, apa yang tidak boleh dikerjakan sesuai dengan larangan agama, berarti tidak benar.

5.Menepati Janji
Dalam islam janji adalah utang, dan utang harus dibayar (ditepati). Janji adalah suatu ketepatan yang dibuat dan disepakati oleh seseorang untuk orang lain atau dirinya sendiri untuk dilaksanakan sesui dengan ketetapannya. Biarpun janji itu yang dibuat sendiri tetapi tidak terlepas darinya, melainkan mesti ditepati dan ditunaikan. Menepati Janji ialah menunaikan dengan sempurna apa – apa yang dijanjikan baik berupa kontrak maupun apa saja yang telah disepakati.

Perjanjian terbagi atas dua yaitu :
a.Perjanjian dengan Allah

Allah telah mengambil perjanjian dari hamba-Nya secara keseluruhan agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukannya  dengan sesuatu apapun karena dia adalah Rabb sekaligus pencipta mereka.
Sebab Allah swt. telah berfirman dalam kitab-Nya:
 
Terjemahan :
“dan ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam daritulang sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “bukankah Aku ini Rabb kalian?” mereka menjawab:”benar kami bersaksi”. (QS. Al-A’raf:172)

b.Perjanjian dengan hamba Allah
Termasuk didalamnya perjanjian-perjanjian yang dibuat untuk antara sesama manusia. Allah telah berfirman:
Terjemahan :
“dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti di minta pertanggung jawaban”. (QS. Al-Isra’ : 34)

Seseorang yang telah berjanji dan tidak menepatinya maka dia telah mengatakan apa yang tidak dia kerjakan. Sebagai contoh, engkau mengatakan kepada seseorang: “saya berjanji kepadamu tidak akan menceritakan rahasia antara kita berdua kepada siapa pun”kemudian engkau ingkari dan engkau mengabarkannya kepada orang lain. Ini termasuk mengatakan apa yang tidak engkau kerjakan.

D.Akhlak Terhadap Keluarga
1.Berbakti Kepada Orang Tua
Dalam Al-Quran dan Al-Hadis, permsalahan berbakti kepada orang tua senantiasa dikaitkan dengan keimanan kepada Allah, sedangkan masalah durhaka terhadap keduanya selalu dikaitkan dengan berbuat syirik terhadap-Nya. Tak heran bila sebagian ulama menyimpulkan bahwa keimanan seseorang tidak akan berarti selama dia tidak berbakti kepada kedua orang tuanya dan tidak ada bakti kepada keduanya selama dia tiodak beriman kepada Allah.

Secara naluri, orang tua rela mati mengorbankan segal sesuatu untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya dan anak mendapat kenikmatan serta perlindungan sempurna dari kedua orang tuanya. Seorang anak selalu merepotkan dan menyita perhatian orang tuanay. Tatkala kedua orang tua menginjak masa tua, merekapun tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya. Berbuat kepada kedua orang tua menjadi keputusan mutlak dari Allah SWT dan ibadah yang menempati urutan yang kedua setelah beribadah kepada Allah SWT.

Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempunyai jasa tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sepanjang masa sehingga tidak aneh bila hak-haknya juga besar. Seorang anak wajib mencintai, menghormati dan memelihara orangtua. Walaupun musyrik atau berlainan agama, keduanya berhak diberi kebaikan dan pemeliharaan, bukan menaati dan mengikuti kemusyrikan atau agamanya.

Allah SWT berfirman :
Terjemahan :
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS> luqman : 13)

2.Bersikap Baik pada Saudara
Agama islam memerintahkan agar berbuat baik kepada saudara atau kerabat, sesudah menunaikan kewajiban kepada Allah dan Ibu-Bapak. Hidup rukun dan damai dengan saudara dapat tercapai, apabila hubungan tetap terjalin dengan saling pengertian dan saling menolong. Hubungan persaudaraan lebih berkesan dan lebih dekat, apabila masing – masing pihak saling menghargai atau saling bersikap baik.
Agama Islam mengutamakan yang l;ebih dekat. Allah berfirman :
 
Terjemahan :
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauhdan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”

E.Akhlak Terhadap Masyarakat
1.Berbuat Baik Kepada Tetangga
Tetangga merupakan orang yang palin dekat. Dekat bukan karena pertalian darah atau pertalian persaudaraan. Bahkan, mungkin tidak seagama. Dekat di sini adalah orang yang tinggal berdekatan dengan rumah. Ada atsar yang menunjukkan bahwa tetangga adalah empat puluh rumah (yang berada di sekitar rumah) dari setiap penjuru mata angin. Apabila ada khabar yang benar (tentang penafsiran tetangga) dari Rasulullah, itulah yang dipakai, namun apabila tidak, hal ini dikembalikan kepada urf (adat kebiasaan), yaitu kebiasaan orang-orang menetapkan seorang sebagai tetangga.

Para ulama membagi tetanggga menjadi tiga macam yaitu :
a.Tetangga muslim yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan. Tetangga semacam ini mempunyai tiga hak yaitu sebagai tetangga, hak Islam dan hak keberadaan.
b.Tetangga muslim saja. Tetangga ini hanya memiliki dua hak yaitu sebagai tetangga dan hak Islam.
c.Tetangga kafir. Tetangga ini hanya memili satu hak yaitu sebagai tetangga saja.

2.Suka Menolong Orang Lain
Dalam hidup setiap mukmin pasti memerlukan pertolongan orang lain. Adakalanya karena sengsara dalam hidup, penderitaan batin atau kegelisahan jiwa dan adakalanya karena sedih setelah mendapat musibah. Orang mukmin akan bergerak hatinya apabila melihat orang lain tertimpa kerusakan untuk menolong merekasesuai dengan kemampuannya. Apabila tidak ada bantuab berupa benda, dapat dibantu dengan nasihat atau kata-kata yang dapat menghibur hatinya. Bahkan, sewaktu-waktu bantuan jasapun lebih diharapkan daripada bantuan-bantuan lainnya.

F.Akhlak Terhadap Alam
1. Memelihara dan Menyayangi Hewan
Betapa banyak binatang yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Ada yang memanfaatkan tenaganya, air susunya, madunya, dagingnya, dan sebagainya. Oleh karena itu perlunya memelihara dan menyayangi binatang tersebut. Sampai-sampai apabila hendak menyembelih binatang ternak, hendaklah menggunakan pisau yang sangat tajam supaya binatang ternak tidak lama merasakan sakit.

Allah SWT menciptakan binatang untunk kepentingan manusia, dan juga menunjukan kekuasaan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT :
 
Terjemahan :
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. An-Nuur : 45)

2.Memelihara Dan Menyayangi Tumbuh-Tumbuhan

Alam dan isinya diciptakan oleh Allah SWT untuk dimanfaatkan oleh manusia. Tumbuhan merupakan bagian dari alam yang merupakan anugrah dari Allah, bukan hany untuk kehidupan manusia, namun juga untuk kehidupan binatang-binatang. Sebagian besar makanan manusia dan hewan berasal dari tumbuh-tumbuhan. 
 
Terjemahan :
Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. (QS. Thaaha : 53)

BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Akhlak terpuji (akhlakul mahmudah) merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman. Tanda yang di,anifestasikan ke dalam perbuatan sehari-hari dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-quran dan Al – hadis. Ahlakul mahmudah dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu
1.Akhlak yang berhubungan dengan Allah
2.Akhlah terhadap diri sendiri,
3.Akhlak terhadap keluarga,
4.Akhlak terhadap masyarakat dan
5.Akhlak terhadap alam.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, DR> Rosihon, M.Ag. 2008. Akidah Akhlak. Bandung : Pustaka Setia
A.Zainuddin dan Muhammad Jamhari.1999. Muamalah dan Akhlak. Bandung: Pustaka Setia Hamzah, Jacub.1978.Ethika Islam. Jakarata : Pulicita
M. Ali Hasan.1987.Tuntunan Akhlak. Jakarta : Bulan Bintang
Muhammad, Asy-Syaikh bin Shalih Al-‘Utsaimin. 2010.Akhlak-Akhlak Mulia. Surakarta : Pustaka Al-Afiyah
M.Quraish Shibab.2010. Tafsir Al-Quran Al-Karim Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu. Bandung: Pustaka Setia