My Menus

Apr 2, 2015

Makalah Ruang Lingkup Aqidah

MAKALAH AQIDAH AKHLAK
"RUANG LINGKUP AQIDAH"


DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014


BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah
Pokok dari segala pokok akidah adalah beriman kepada Allah SWT yang berpusat pada pengakuan terhadap eksistensi dan kemahaesaan-Nya. Keimanan kepada Allah ini merupakan keimanan yang menduduki peringkat pertama. Dari situ dengan sendirinya akan lahir keimanan pokok – pokok (rukun) iman yang lain. Sepanjang seorang itu beriman kepada Allah, niscaya ia akan beriman kepada para malaikat, kitab suci, para rasul, hari kiamat, ketentuan baik dan buruk sebab rukun iman yang disebutkan belakangan merupakan cabang dari keimanan kepada Allah ini.
 

Pengakuan terhadap kemahaesaan itu, Esa dalam segala-galanya, dan Esa dalam Dzat-Nya. Artinya tidak ada persamaannya dalam seluruh zat yang dikenal dalam ilmu fisika. Dia Maha Esa dalam sifat-sifatnya. Dia Maha Esa dalam wujud-Nya, artinya hanya Allah sajalah yang wajibul wujud, sedangkan yang lainnya hanyalah mumkinul wujud. Dia Maha Esa dalam menerima ibadah,mendengar doa manusia dan permohonan manusia untuk menyampaikan maksud dan kehendaknya. Dia Maha Esa dalam memberi hukum, artinya Dia-lah Pemberi Hukum Tertinggi. Dia tidak berserikat dengan sesuatu. Oleh karena itu, kalimat pengakuan Islam adalah La Ilaha Ilallah ( tidak ada Tuhan selain Allah).
 

Pengetahuan tentang keesaan Allah itu disebut ilmu tauhid. Mempelajari ilmu tauhid itu wajib bagi setiap muslim, sebagaimana firman Allah tentang perintah kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya bertauhid dalam Q.S. Al-Ikhlash : 1-4

Terjemahan:
Katakanlah “Dia-lah Allah yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu(2) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan(3) Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (4)”.
Dengan demikian, untuk mengetahui ruang lingkup akidah, kami mengemukakan dan membahas makalah tentang ruang lingkup akidah khususnya Iman kepada Allah SWT, Iman kepada Malaikat dan Iman kepada Kitab-kitab.


B.Rumusun Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok masalah dalam makalah ini yaitu:
1.Bagaimana akidah Islam tentang beriman kepada Allah SWT ?
2.Bagaimana akidah Islam tentang beriman kepada para Malaikat?
3.Bagaimana akidah Islam tentang beriman kepada Kitab-kitab Allah SWT ?


BAB II
PEMBAHASAN
A.Iman Kepada Allah
1.Tauhidullah
Esensi iman kepada Allah SWT. adalah Tauhid yaitu mengesakan-Nya, baik dalam Dzat, asma’ was-shiffaat, maupun af’al (perbuatan)-Nya. 
Secara sederhana Tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan atau tahapan yaitu: pertama Tauhid Rububiyah (mengimani Allah SWT. sebagai satu-satunya Rabb), kedua Tauhid Mulkiyah (mengimani Allah SWT. sebagai satu-satunya Malik), ketiga Tauhid Ilahiyah (mengimani Allah SWT. sebagai satu-satunya Ilah).

Penyederhanaan kedalam tiga tingkatan di atas didasarkan kepada firman Allah SWT dlm Q.S Al-Fatihah 1 :2 & 4           
Terjemahan:

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (2).
Terjemahan:

“Yang menguasai hari pembalasan” (4).
 

a.Tauhid Rububiyah
Secara etimologis kata “Rabb” sebenarnya mempunyai banyak arti, antara lain menumbuhkan, mengembangkan, mendidik, memelihara, memperbaiki, menanggung, mengumpulkan, mempersiapkan, memimpin, mengepalai, menyelesaikan suatu perkara memiliki dan lain-lain. Dengan pengertian di atas ayat Allah SWT: “Alhamdu lillahi rabbil’ alamin” bisa dipahami bahwa segala puji hanyalah untuk Allah Yang Mencipta, Memberi rezki, Memelihara, Mengelola dan Memiliki alam semesta.   
 

b.Tauhid Mulkiyah
Kata Malik yang berarti raja dan malik yang berarti memiliki, berakar dari akar kata yang sama yaitu ma-la-ka. Dalam pengertian bahasa seperti ini, Allah SWT. sebagai Rabb yang memiliki alam semesta (al-‘alamin) adalah Raja dari alam semesta tersebut, Dia bisa dan bebas melakukan apa saja yang di kehendakinya terhadap alam semesta tesebut. Dalam hal ini Allah swt adalah Malik (raja) dan alam semesta adalah Mamluk  (yang memiliki atau hamba). 
Banyak ditemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah swt adalah pemilik dan raja langit dan bumi dan seluruh isinya, antara lain dalam Q.S. Al-Baqarah 2: 107

 
Terjemahan:
“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.”(107).
Bila manusia mengimani bahwa Allah SWT. adalah satu-satunya raja yang menguasai alam semesta (bumi, langit, dan seluruh isinya) maka minimal harus mengakui bahwa Allah SWT. adalah pemimpin (wali), penguasa yang menentukan (hakim) dan yang menjadi tujuan (ghayah). Hal itu logis sebagai konsekuensi dari pengakuan bahwa Allah swt adalah raja.  


Ringkasnya tauhid mulkiyah adalah mengimani Allah SWT. sebagai satu- satunya malik  yang mencakup pengertian sebagai wali, hakim, dan ghayah. 

c.Tauhid Ilahiyah
Kata Ilah berakar dari kata a-la-ha (alif-lam-ha) yang mempunyai arti antara lain tenteram, tenang, lindungan, cinta, dan sembah (‘abada). Semua kata-kata ini relevan dengan sifat-sifat dan kekhususan dzat Allah SWT. seperti dinyatakan dalam Q.S. Ar-Ra’d 13:28 

Terjemahan:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.
Diantara makna Ilah di atas maka yang paling asasi adalah makna ‘abada(‘ain-ba-dal) yang mempunyai beberapa arti, antara lain: hamba sahaya(‘abdun), patuh dan tunduk (‘ibadah), yang mulia dan agung ( al-ma’bad), selalu mengikutinya (‘abada bih). Jika arti kata-kata ini diurutkan maka dia menjadi susunan kata yang sangat logis yaitu: bila seseorang menghambakan diri terhadap seseorang, maka ia akan mengikutinya, mengagumkannya, memuliakannya, mematuhi dan tunduk kepadanya serta bersedia    mengorbankan
kemerdekaannya. Dalam konteks ini “ al-ma’bud “ berarti yang memiliki, yang dipatuhi, dan yang diagungkan. Jadi tauhid ilahiyah adalah mengimani Allah SWT. sebagai satu-satunya Al-Ma’bud (yang disembah).
 

2.Metode Pembuktian Adanya Allah
Untuk membuktikan adanya Allah, Al-Qur’an menunjukkan suatu metode, yakni dengan menyelidiki hakikat kejadian manusia dan alam sekitar. Dalam membuktikan wujud Allah, Ibn Rusyd, seorang filosof muslim, memberikan dua cara:
 

Pertama, dalil al-inayah, intinya bahwa sesungguhnya kesempurnaan struktur susunan alam semesta ini menunjukkan adanya suatu tujuan tertentu pada alam. Tidaklah mungkin alam semesta yang dilihat itu terjadi secara kebetulan, tetapi pasti telah ditentukan tujuannya, bahwa alam adalah natijah dari hikmah ketuhanan yang sangat mendalam.

Kedua, dalil ikhtira’, intinya bahwa yang ada (maujud) yang dilihat adalah makhluk (dijadikan), terutama pada makhluk hidup, manusia sangat lemah untuk menciptakan walaupun hanya seekor binatang kecil.
Dalil tersebut memberikan bukti bahwa adanya alam semesta ini memberikan bukti keberadaan Tuhan yang telah menciptakan alam semesta tersebut. Oleh karena itu, Al-Qur’an banyak menyeru kepada manusia untuk memikirkan kejadian alam semesta dengan segala isinya.

3.Sifat-Sifat Allah
Sifat – sifat Allah yang paling dikenal ada delapan, yaitu:
a.Al-‘Alim artinya Allah mengetahui segala sesuatu.
b.Al-Qadir artinya Dia yang berkuasa atas segala sesuatu.
c.Al-Hayy artinya yang hidup adalah setiap yang mengetahui dan berkuasa
d.Al-murid artinya Dia pemilik kehendak dan tidak ada yang memaksa-Nya atas sesuatu dalam pekerjaan-Nya.
e.Al-mudrik artinya Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
f.Al-Qadim al Azaly artinya Dia abadi dan wujud-Nya tiada permulaan dan tiada akhir, karena wujud-Nya bersumber dari Dzat-Nya.
g.Al-Mutakallim artinya Dia kuasa membuat gelombang suara lalu berbicara dengan para Nabi. Ini tidak berarti Dia memiliki lisan, bibir dan kerongkongan.
h.Al-Shadiq artinya apa yang Dia katakan adalah kebenaran yang sebesar-besarnya dan realita yang ada.
 
B.Iman Kepada Malaikat
Kata malaikat merupakan jamak dari kata Arab malak yang berarti kekuatan. Jadi, malaikat adalah kekuatan – kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah SWT.
 
Iman kepada malaikat maksudnya meyakini adanya malaikat walaupun  tidak dapat melihat mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka dulunya menampakkan wujudnya kepada Nabi dan Rasul dalam bentuk manusia laki-laki. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya. Mereka tak pernah berdosa. Tak seorangpun mengetahui jumlah pasti dari malaikat. Hanya Allah saja  yang mengetahui jumlahnya.
 

1.Sifat-Sifat Malaikat
Menurut ketetapan Al-Qur’an, malaikat-malaikat itu adalah alam gaib, bukan alam benda. Sifat dan keadaan malaikta itu anatara lain:
a.Diciptakan dari nur (cahaya). Seperti yang diberitakan dalam sebuah hadis  “ Malaikat-malaikat itu dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua.” (H.R. Muslim)
b.Taat dan berbakti kepada Allah, apapun yang diperintahkan-Nya selalu dikerjakan.
c.Dapat menjelma atau berubah bentuknya, seperti manusia.
d.Selalu bersujud kepada Allah.
e.Senantiasa bertasbih, menyucikan Allah.
f.Tidak merasa letih untuk menyembah Allah.
g.Tidak sombong (takabur).
h.Member salam kepada ahli surga.
i.Memohon ampunan untuk orang-orang beriman.
j.Malaikat tidak berjenis laki-laki atau permpuan.
k.Tidak memiliki hawa nafsu, tidak makan, minum, tidur.
l.Tidak mati sebelum datangnya kiamat.

2.Nama dan Tugas Malaikat
Jumlah malaikat sangat banyak, tidak bisa diperkirakan. Sesama mereka juga ada perbedaan dan tingkatan-tingkatan, baik dalam kejadian maupun tugas, pangkat dan kedudukan. Dalam surat Fathir ayat 1 disebutkan bahwa ada Malaikat yang bersayap dua,tiga dan empat:  
Terjemahan:
“Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi. Yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Q.S Fathir :1)
 
Perbedaan jumlah sayap tersebut bisa saja berarti perbedaan kedudukan, pangkat atau perbedaan kemampuan dan kecepatan dalam menjalankan tugas. Sedangkan bagaimana bentuk saya Malaikat tersebut tentu saja kita tidak bisa mengetahuinya dan memang tidak perlu berusaha untuk menyelidikinya karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya Malaikat adalah makhluk gaib yang hakekatnya hanya Allah SWT  yang mengetahuinya.
 
Karena sangat banyaknya, tidak ada yang mengetahui jumlah malaikat seluruhnya, kecuali Allah sendiri yang mengetahinya. Namun dari sekian banyak malaikat, ada sepuluh malaikat yang harus diketahui sehubungan dengan tugas – tugas mereka. Kesepuluh malaikat yang wajib diketahui tersebut adalah:
a.Malaikat Jibril, disebut juga Ruhul Qudus atau Ruhul Amin. Ia merupakan kepala para malaikat yang mempunyai tugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rasul sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw.
b.Malaikat Mikail, bertugas mengatur dan menyampaikan rezeki kepada seluruh makhluk Allah, termasuk juga mengatur hujan, angin, dan bintang-bintang.
c.Malaikat Israfil, tugasnya adalah meniup sangkakala (terompet) disaat manusia dibangkitkan dari kubur.
d.Malaikat Izrail, bertugas mencabut nyawa seluruh makhluk termasuk malaikat, manusia, jin, dan nyawanya sendiri.
e.Malaikat Raqib, tugasnya mencatat amal kebaikan yang dilakukan manusia sejak aqil balig selama hidupnya.
f.Malaikat Atid, tugasnya mencatat amal kejahatan manusia selama hidupnya.
g.Malaikat Munkar, tugasnya meMenurut Slameto proses ini berarti mennjaga alam kubur, sekaligus sebagai penanya kepada manusia di alam kubur.
h.Malaikat Nakir, tugasnya sama dengan Malaikat Munkar menanyakan manusia tentang 6 pokok permasalahan, yakni Tuhan,Agama, Nabi/Rasul, Kitab, Kiblat dan teman (saudara).
i.malaikat Malik, tugasnya menjaga pintu neraka tempat manusia menerima azab (siksa) karena kedurhakaanya (kejahatannya).
j.Malaikat Ridwan, tugasnya menjaga pintu surge tempat hamba Allah menerima balasan ketakwaannya.
 
C.Iman Kepada Kitab-Kitab 
Sebagai kelanjutan iman kepada malaikat, sebagai penghubung risalat ketuhanan kepada manusia ialah iman kepada isi risalat yang dibawa oleh malaikat kepada Rasul-rasul, untuk disampaikan kepada umum manusia. Risalat – risalat itu ialah kitab-kitab suci yang turun dari langit, mengandung ajaran Allah di bidang akidah, ibadat dan pokok – pokok halal dan haram. Karena itu islam menuntut supaya manusia iman kepada seluruh Kitab suci baik yang turun kepada Nabi Muhammad atau kepada nabi-nabi sebelumnya. Tidak ada keimanan tanpa percaya kepada Kitab-kitab suci.
 
Secara etimologis kata kitab adalah bentuk mashdar dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Setelah jadi mashdar berarti tulisan, atau yang ditulis. Bentuk jama’ dari kitab adalah kutub. 
 
Namun, yang dimaksud disini adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada para Rasul untuk diajarkan kepada manusia sebagai pedoman hidupnya. Adapun shuhuf (lembaran-lembaran) adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada rasul, tetapi tidak wajib disampaikan atau di ajarkan kepada manusia.
 
Adapun jumlahnya tidak ada yang mengetahui karena Allah sendiri yang mengetahui jumlah yang sebenarnya. Mengimani kitab-kitabNya merupakan rukun iman yang ketiga. Allah menurunkan kitab-kitab tersebut agar digunakan sebagai  pedoman atau pembimbing bagi seluruh umat manusia menuju jalan hidup yang benar dan diridhai Allah SWT, yaitu kebahagiaan serta keselamatan dunia an akhirat.
 
Kitab-kitab yang telah diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul-Nya yang wajib diketahui oleh umat islam, adalah:
1.Kitab Taurat 
Kitab Taurat, yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s pada kira-kira abad ke 12 SM di daerah Israil dan Mesir. Kitab taurat ini diturunkan dalam bahasa Ibrani. Isi pokok ajarannya adalah sepuluh firman Allah, yaitu:
a.Keharusan mengakui keesaan Allah.
b.Larangan menyembah patung dan berhala
c.Larangan menyebut Tuhan Allah SWT  dengan sia-sia.
d.Memuliakan hari sabtu.
e.Menghormati ayah ibu.
f.Larangan membununuh sesama manusia.
g.Larangan berbuat zina.
h.Larangan mencuri.
i.Larangan menjadi saksi palsu.
j.Larangan berkeinginan memiliki hak orang lain.
 
2.Kitab Zabur 
Kitab zabur, yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s pada kira-kira abad ke 10 SM di daerah Israil. Isi pokok kitab Zabur anatara lain, Mazmur 146:
a.Besarkan olehmu akan Allah. Hai jiwaku pujilah Allah
b.Maka aku akan memuji Allah seumur hidupku dan aku akan menyanyikan puji-pujian kepada Tuhanku selama aku ada.
c.Janganlah  kamu percaya kepada raja-raja atau anak-anak Adam yang tiada mempunyai pertolongan
 
3.Kita Injil
Kitab Injil, diturunkan kepada Nabi Isa a.s. di daerah Yerussalem pada permulaan abad pertama. Kata Injil berasal dari bahasa Ibrani yang artinya kabar gembira, maksudnya berita akan datangnya utusan Allah, Muhammad SAW untuk seluruh alam.
 
Kitab injil yang asli memuat keterangan-keterangan yang benar dan nyata, yaitu perintah – perintah Allah SWT, kepada umat manusia untuk memahasucikan Allah serta melarang menyekutukannya dengan benda atau makhluk lainnya.

4.Al-Qur’an
Kitab Al-Qur’an, yang diturunkan kepada Nabi  Muhammad SAW, di daerah Mekah dan di Madinah pada abad ke 6M. kandungan pokok Al-Qur’an menurut ulama Al-Azhar, adalah:
a.Akidah
b.Akhlak
c.Dorongan dan bimbingan akan hikmah-hikmah alami.
d.Kisah-kisah umat terdahulu
e.Janji baik serta ancaman buruk yang dating dari Allah
f.Hukum – hukum ibadah dan muamalah
Selain menurunkan kitab-kitab tersebut diatas, Allah juga menurunkan shuhuf (lembaran) kepada para nabi terdahulu, yakni:
1.Nabi Adam a.s. menerima 10 shuhuf
2.Nabi Syits a.s. menerima 50 shuhuf
3.Nabi Idris menerima 30 shuhuf
4.Nabi Ibrahim a.s. menerima 10 shuhuf
5.Nabi Musa a.s menerima 10 shuhuf
BAB II 
KESIMPULAN
Esensi iman kepada Allah SWT adalah Tauhid yaitu mengesakan-Nya, baik dalam zat, asma’ was-shiffaat, maupun af’al (perbuatan)-Nya.
 
Secara sederhana Tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan atau tahapan yaitu: pertama Tauhid Rububiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Rabb), kedua Tauhid Mulkiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Malik), ketiga Tauhid Ilahiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Ilah).
Kata malaikat merupakan jamak dari kata Arab malak yang berarti kekuatan. Jadi, malaikat adalah kekuatan – kekuatan yang patu pada ketentuan dan perintah Allah SWT.
 
Iman kepada malaikat maksudnya meyakini adanya malaikat walaupun kita tidak dapat melihat mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah salah satu makhluk ciptaan Allah. Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka dulunya menampakkan wujudnya kepada Nabi dan Rasul dalam bentuk manusia laki-laki. Mereka menyembah Allah dan selalu taat kepada-Nya.
 
Secara etimologis kata kitab adalah bentuk mashdar dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Setelah jadi mashdar berarti tulisan, atau yang ditulis. Bentuk jama’ dari kitab adalah kutub.
Namun, yang dimaksud disini adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada para Rasul untuk diajarkan kepada manusia sebagai pedoman hidupnya. Adapun shuhuf (lembaran-lembaran) adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada rasul, tetapi tidak wajib disampaikan atau di ajarkan kepada manusia.


DAFTAR PUSTAKA
Alihbasa. Akidah dan Syariah Islam. CetIII; Jakarta: Bumi Aksara, 1997.
Ilyas, Yunahar. Kuliah Aqidah Islam. Cet.VIII; Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam,2004.
Kusnadi. Akidah Islam dalam Konteks Ilmiah Populer. CetI;Jakarta: Amzah,2007.
Makarim, Nasir. Mendalami Dasar-Dasar Akidah Islam. Cet. I; RajaGrafindo Persada,1997.
Rozak, Abdul. Akidah Akhlak. Bandung: Pustaka Setia, 2014.

Islam Masa Nabi Muhammad di Madinah

MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM
"ISLAM MASA NABI MUHAMMAD SAW. DI MADINAH"

DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2015


  
BAB 1
PENDAHULUAN

A.Latar belakang

Materi ini akan membawa Anda bertamasya menuju suatu perjalanan Rasullullah SAW. Pada saat beliau melaksanakan hijrah ke Madinah. Perjalanan ini bukanlah suatu jalan yang gampang. Sebab salah satu hal yang membuat Rasulullah SAW. Akan dibunuh oleh masyarakat mekkah, apabila Rasulullah ditangkap oleh tentara-tentara Jahiliah.
 

Rasulullah SAW. berhijrah dari Mekkah ke Madinah bersama salah satu sahabat beliau yang bernama Abu Bakar. Mereka sempat bermalam di Gua Tsur selama tiga hari tiga malam, karena suasana pada saat itu tidak aman. Tapi pada saat beliau sampai di Madinah, beliau disambut meriah oleh masyarakat setempat.
Dalam makalah ini penulis mencoba menguraikan sedikit tentang bagaimana Proses Hijrah Nabi Muhammad SAW. Ke Madinah, Langkah-Langkah Dakwah Nabi Muhammad saw. di Madinah, dan Hambatan dan Rintangan Dakwah Nabi Muhammad saw. Pada saat berada di Mekah.
 

B. Rumusan Masalah 
1.Bagaimana Proses Hijrah Nabi Muhammad SAW. Ke Madinah?
2.Bagaimana Langkah-Langkah Dakwah Nabi Muhammad saw. di Madinah.?
3.Bagaimana Hambatan dan Rintangan Dakwah Nabi Muhammad saw. Pada saat.?
 

C.Tujuan 
Tujuan penulisan makalah ini adalah:Untuk Proses Hijrah Nabi Muhammad SAW. Ke Madinah, Langkah-Langkah Dakwah Nabi Muhammad saw. di Madinah dan Hambatan dan Rintangan Dakwah Nabi Muhammad saw. Pada saat di Madinah.


BAB II
PEMBAHASAN

A.Proses Hijrah Nabi Muhammad SAW. Ke Madinah 
Rencana hijrah Rasulullah diawali karena adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Pembunuhan itu direncanakan melibatkan semua suku. Setiap suku diwakili oleh seorang pemudanya yang terkuat. Rencana pembun uhan itu terdengar oleh Nabi SAW, sehingga ia merencanakan hijrah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar diminta mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk 2 ekor unta. Sementara Ali bin Abi Thalib diminta untuk menggantikan Nabi SAW menempati tempat tidurnya agar kaum Quraisy mengira bahwa Nabi SAW masih tidur. Pada malam hari yang direncanakan, di tengah malam buta Nabi SAW keluar dari rumahnya tanpa diketahui oleh para pengepung dari kalangan kaum Quraisy. Nabi SAW menemui Abu Bakar yang telah siap menunggu. Mereka berdua keluar dari Mekah menuju sebuah Gua Tsur, kira-kira 3 mil sebelah selatan Kota Mekah. Mereka bersembunyi di gua itu selama 3 hari 3 malam menunggu keadaan aman.1
 

Pada malam ke-4, setelah usaha orang Quraisy mulai menurun karena mengira Nabi SAW sudah sampai di Yatsrib, keluarlah Nabi SAW dan Abu Bakar dari persembunyiannya. Pada waktu itu Abdullah bin Uraiqit yang diperintahkan oleh Abu Bakar pun tiba dengan membawa 2 ekor unta yang memang telah dipersiapkan sebelumnya.
 

B.Langkah-Langkah Dakwah Nabi Muhammad saw. di Madinah
Adapun langkah-langkah Nabi Muhammad saw. ketika tiba di Madinah adalah sebagai berikut:

1.Membangun Masjid
Langkah  pertama yang dilakukan Nabi Muhammad saw. setibanya di Madinah adalah membangun masjid. Masjid pertama dibangunnya di Quba pada sebuah tanah milik kedua anak yatim, yaitu Sahl dan Suhail. Tanah tersebut dibeli oleh Nabi selain untuk pembangunan masjid, juga untuk tempat tinggal. Masjid inilah yang dikenal kemudian dengan nama Masjid Nabawi.
 

Dengan dibangunnya masjid ini, umat Islam tidak merasa takut lagi untuk melaksanakan sholat dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Mereka tidak takut lagi dikejar-kejar oleh orang-orang musyrik dan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam. Sejak saat itulah pelaksanaan sholat telah terumuskan dengan baik dan sempurna. Panggilan untuk melaksanakan sholat juga telah dikumandangkan. Orang yang pertama kali mengumandangkan panggilan sholat atau azan adalah Bilal bin Rabah. Dia diberi kepercayaan untuk melaksanakan azan karena memiliki suara yang sangat bagus dan merdu. Dari hari ke hari masjid Madinah menjadi ramai karena terus didatangi oleh para jamaah yang akan melaksanakan sholat berjamaah bersama Nabi Muhammad saw.
 

Berdirinya masjid tersebut bukan saja merupakan tonggak berdirinya masyarakat Islam, juga merupakan titik awal pembangunan kota. Jalan-jalan raya di sekitar masjid dengan sendirinya tertata rapi, sehingga lama-kelamaan tempat itu menjadi pusat kota dan pusat perdagangan serta pemukiman. Nabi Muhammad saw. sendiri sangat besar perhatiannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan sarana jalan dan jembatan. Beliau bersama-sama umat Islam membangun jembatan-jembatan yang menghubungkan antara satu lembah dengan lembah yang lain sehingga masyarakat setempat dapat berhubungan dengan masyarakat lainnya.
 

2.Menciptakan Persaudaraan Islam
Muhajirin (emigrant) dating ke madinah dengan tangan kosong dan meninggalkan harta miliknya di mekah. Mereka tidak memiliki sumber pendapatan dan hidup amat miskin serta kelaparan. Oleh karena itu, Nabi mendirikan suatu fakta persaudaraan antara kaum muhajirin dan anshar (penolong), dan menurut kesepakatan tersebut mereka menjadi saudara dalam kepercayaan. Beliau mengajak mereka “Marilah kita semua menjadi saudara dalam kepercayaan”. Kesepakatan ini akhirnyamengubah ikatan timbal balik menjadi suatu ikatan darahdan persaudaraan yang sebenarnya. Dan dengan demikian timbullah persaudaraan yang murni antara kaum Anshar dan Muhajirin yang mengikat semua orang muslimmenjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan kuat bagaikan karang.
 

Pihak Anshar memperlihatkan persaudaraan seagamanya pada pihak Muhajirin pahak Muhajirin adalah pedagang dan Anshar adalah petani, jadi ketika mereka membentuk persaudaraan baru ini, persaudaraan tersebut sangat menguntungkan kedua belah pihak. Kedua belah pihak bekerja keras mengolah tanah dan berdagang di pasar dan dapat memperoleh hidup yang cukupan tanpa tergantung pada hasil pekerjaan orang lain.
 

3.Perjanjian Dengan Orang Yahudi
Langkah selanjutnya yang dilakukan Nabi Muhammad saw. adalah bermusyawarah dengan para sahabat, baik Muhajirin maupun Anshar unuk merumuskan pokok-pokok pemikiran yang akan dijadikan undang-undang. Rancangan ini memuat aturan yang berkenaan dengan orang-orang Muhajirin, Anshar, dan masyarakat Yahudi yang sedia hidup berdampingan secara damai dengan umat Islam. Undang-undang ini kemudian dikenal sebagai sebuah Piagam Madinah yang ditulis pada tahun 623 M atau tahun ke-2 H.
 

Piagam tersebut berbunyi:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Ini adalah sebuah piagam yang diberikan oleh Muhammad pada orang beriman (Muslim) Quraisy, Yathrib, dan Orang-orang yang mengikuti mereka, Mereka membentuk satu Ummah menghadapi semua orang lainnya. Semua orang beriman yang taat akan bangkit sebagai satu orang melawan siapapun yang berontak, atau yang berusaha untuk melakukan ketidakadilan, agresi, atau dosa, atau menyebarkan permusuhan timbal balik diantara orang beriman, bahkan kalau orang itu adalah salah seorang dari anak laki-laki mereka. Setiap orang Yahudi yang mengikuti kami, tanpa perbedaan. Tidak ada pokok perselisihan diantara kamu yang tidak dapat diputuskan menurut hokum Allah dan diputuskan oleh Nabi Muhammad untuk memperoleh keadilan.” 
 

C.Hambatan dan Rintangan Dakwah Nabi Muhammad saw.
Pada umumnya, orang kafir Quraisy tidak senang menerima kehadiran agama Islam di tengah-tengah kehidupan mereka. Para tokoh masyarakatnya mulai menyebarkan isu yang tidak benar mengenai ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. sehingga banyak masyarakat yang terpengaruh oleh isu-isu yang menimbulkan fitnah tersebut. 
 

Salah seorang tokoh masyarakat Quraisy yang selalu menghalangi gerakan dakwah Nabi Muhammad saw. adalah Abu Lahab. Ia mulai menghasut masyarakat Arab Quraisy supaya membenci Nabi Muhammad saw. dan Islam. Bahkan Abu Thalib, paman Nabi yang memelihara dan mengasuhnya sejak kecil juga dihasut untuk melarang Nabi Muhammad saw. agar tidak menyebarkan ajaran Islam. Ia mendapat ancaman dan dipaksa untuk memenuhi keinginan masyarakat Quraisy tersebut.
 

Orang-orang kafir Quraisy tidak berani berhadapan langsung dengan Nabi Muhammad saw. untuk memintanya agar meninggalkan kegiatan dakwah karena mereka masih memandang posisi sosial pamannya, yaitu Abu Thalib. Tetapi mereka berani mengambil tindakan terhadap keluarga dan para sahabat Nabi.
 

Melihat usaha pendekatan Abu Thalib gagal dan agama Islam terus memperoleh pengikut, Abu Jahal dan Abu Sufyan mendatangi Abu Thalib kembali sambil mengancam. Mereka berkata: “Hai Abu Thalib, kamu sudah tua, kamu harus mampu menjaga dirimu jangan membela Muhammad. Kalau hal itu dilakukan terus maka keluarga kita akan pecah.” Tetapi ancaman itu juga tidak berhasil. Hal itu disebabkan karena tekad kuat Nabi Muhammad saw. sudah bulat untuk terus melaksanakan dakwah Islam kepada masyarakat Mekkah meskipun ia harus bertaruh nyawa.
 

Mendengar ancaman dan tekanan itu, Abu Thalib menjawab dengan suara lantang: “Hai orang kasar, silakan dan berbuatlah sesukamu. Aku tidak takut!” Kemudian Abu Thalib mengundang keluarga Bani Hasyim untuk meminta bantuan dan menjaga Muhammad saw. dari ancaman dan penganiayaan kafir Quraisy.
 

Setelah gagal melakukan tekanan kepada Nabi Muhammad saw. dan Abu Thalib, pemimpin Quraisy mengutus Uthbah Ibnu Rabi’ah untuk membujuk Nabi Muhammad saw. agar menghentikan dakwahnya. Untuk itu, ia menawarkan beberapa pilihan kepada Nabi Muhammad saw. Lalu ia berkata: “Hai Muhammad, bila kamu menginginkan harta kekayaan, saya sanggup menyediakan untukmu. Bila kamu menginginkan pangkat yang tinggi, saya sanggup mengangkatmu menjadi raja, dan bila kamu menginginkan wanita cantik, saya sanggup mencarikannya untukmu. Tetapi dengan syarat kamu mau menghentikan kegiatan dakwahmu.”
 

Mendengar tawaran itu, Nabi Muhammad saw. menjawab dengan tegas melalui surah as-Sajadah ayat 1-37. Demi mendengar firman itu, Uthbah tertunduk malu dan hati kecilnya membenarkan ajaran Nabi Muhammad saw. Kemudian ia kembali ke kaumnya dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Kemudian ia menganjurkan kepada masyarakat Quraisy dan kawan-kawannya untuk menerima ajakan Muhammad saw. 
Hambatan, gangguan, dan ancaman terus berlangsung dilakukan masyarakat kafir Quraisy terhadap umat Islam hingga akhirnya umat Islam diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw. untuk hijrah ke Habsyi (Etheopia). Hal penting yang dapat ditarik dari pelajaran di atas adalah bahwa apapun resiko yang akan dihadapi masyarakat muslim dalam berjuang menegakkan kebenaran dan penyiaran nilai-nilai keislaman, harus dihadapi dengan keteguhan jiwa, kesabaran, dan tawakal. Selain itu juga harus diupayakan cara-cara terbaik dalam menyebarkan ajaran Islam sehingga tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dapat berhasil dengan baik. Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang baik. Beliau tetap tabah, sabar, tekun, dan berjiwa besar dalam menyebarkan ajaran Islam yang diterimanya. Beliau tidak terkecoh dalam kedudukan, pangkat, harta, dan wanita atau kehormatan duniawi lainnya.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Rasulullah hijrah ke Madinah karena adanya perjanjian antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yatsrib yaitu suku Aus dan Khazraj saat di Mekkah yang terdengar sampai ke kaum Quraisy hingga Kaum Quraisy pun merencanakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Pembunuhan itu direncanakan. Langkah  pertama yang dilakukan Nabi Muhammad saw. setibanya di Madinah adalah membangun masjid. Masjid pertama dibangunnya di Quba pada sebuah tanah milik kedua anak yatim, yaitu Sahl dan Suhail. Tanah tersebut dibeli oleh Nabi selain untuk pembangunan masjid, juga untuk tempat tinggal. Masjid inilah yang dikenal kemudian dengan nama Masjid Nabawi. Nabi mendirikan suatu fakta persaudaraan antara kaum muhajirin dan anshar (penolong), dan menurut kesepakatan tersebut mereka menjadi saudara dalam kepercayaan. Beliau mengajak mereka “Marilah kita semua menjadi saudara dalam kepercayaan”.

DAFTAR PUSTAKA
http://sejarahnabimuhammaddimadinah.blogspot.com/
Rahman, afzalur, Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin militer , Bumi Aksara, Jakarta:1991, hal 257
Rahman, afzalur, Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin militer , Amzah, 2002, hal 271

Apr 1, 2015

Makalah Guru dalam Pendidikan Islam

MAKALAH 
ETIKA DAN PENGEMBANGAN PROFESI KEGURUAN
"GURU DALAM PENDIDIKAN ISLAM"




DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru merupakan sosok yang sangat berpengarug dalam dunia pendidikan. Guru merupakan tumpuan para peserta didik dalam menerima materi pelajaran, namun bukan hanya itu guru memiliki berbagai tugas dan tanggung jawab yang harus dipenuhinya sehinga dapat dikatakan sebagai seorang guru yang profesional.
 
Seorang guru yang profesional harus mampu memenuhi perannya sebagai seorang guru yang bukanhanya sebagai pengajar tapi lebih dari itu, antara lain sebagai pendidik, penasehat, pengayom, motivator dan lain sebagainya. Peran guru bagi peserta didiknya akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan peserta didik, walaupun hal tersebut tidak sepenuhnya menjadi faktor utama.
 
Dalam islam guru merupakan seorang yang bukan hanya sebagai pengajar tapi juga sebagai seseorang yang sangat dihormati. Guru bukan hanya seorang yang memiliki gelar akademik yang diperoleh dari jenjang pendidikan ternama, akan tetapi dalam lingkup pendidikan islam seorang yang dapat memberikan contoh sesuai dengan syariat islam yang berlaku maka seorang juga disebut sebagai seorang guru.
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang tugas dan tanggung jawab guru dan beberapa hal yang berkaitan dengan hal tersebut.
 
B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut :
1. Mengetahui makna guru dalam pendidikan islam.
2. Mengetahui peran guru dalam pendidikan islam.

 BAB II
PEMBAHASAN
A.Guru Dalam Pendidikan Islam
Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian. Sebab orang yang pandai berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru yang profesional yang harus mengusai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui pendidikan tertentu atau pendidikan prajabatan . Guru adalah figur seorang pemimpin. Ia adalah sosok arsitektur yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik. Guru mempunyai kekuasaan untuk membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Orang tua merupakan orang yang paling bertanggung jawab dalam proses pendidikan anak dan perkembangannya. Anak merupakan amanah bagi kedua orang tua agar mereka merawat dan mendidiknya. Dalam pandangan Islam orang tua mempunyai kewajiban untuk memelihara dan memenuhi kebutuhan fisik yang dibutuhkan oleh anak. Di samping itu, orang tua juga mempunyai kewajiban bersifat spiritual untuk mendidik anaknya, agar menjadi anak yang saleh.

Jadi orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anaknya. Persoalan yang timbul adalah bagaimana kalau orang tua tidak mempunyai kemampuan untuk merawat dan mendidik anaknya sendiri secara maksimal? Siapa yang mesti menjadi tangan panjang orang tua dalam proses pendidikan anaknya? Secara singkat jawabnya adalah guru. Guru merupakan tangan panjang orang tua yang mempunyai tanggung jawab untuk menggantikan posisi orang tua.

Ada beberapa alasan guru menggantikan posisi orang tua dalam tangung jawab akan pendidikan anak. Alasan tersebut antara lain:
Pertama, alasan ekonomi artinya keterbatasan kemampuan finansial memaksa orang tua untuk menyerahkan anak-anaknya pada seorang guru. Sebaliknya orang tua mempunyai kemampuan untuk bekerja mencari nafkah sebagai bekal penghidupannya.
Kedua, kemampuan keilmuan. Ilmu pengetahuan yang berkembang demikian cepat dan pesat memaksa semua orang tua untuk menyerahkan pendidikan anak-anaknya pada lembaga pendidikan. Orang tua tidak mempunyai daya dan kemampuan untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat, sebagai bekal bagi pendidikan anak-anaknya. Sehingga akhirnya gurulah orang yang bertanggung jawab menggantikan peran orang tua dalam pendidikan anak-anaknya.

Istilah yang dipergunakan untuk memaknai seorang guru sangat banyak. Kadang menggunakan istilah murabbiy, atau mu’allim, atau mursyid, atau mu’adib dan mudarris. Masing-masing istilah ini sebenarnya mengandung pengertian dan makna sendiri-sendiri. Oleh karena itu, guru dalam perspektif Islam mestinya harus dapat melakukan tugas-tugas sebagai murabbiy, mu’allim, mursyid, mu’adib dan mudarris.Sebagai murabbiy guru berkewajiban untuk mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya agar tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakatnya dan alam sekitarnya.

Sebagai muallim guru dituntut mampu menjelaskan hakekat ilmu yang diajarkannya dan menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya dan berusaha membangkitkan peserta didik untuk mengamalkannya. Sebab ilmu berasal dari ilm yang berarti menangkap hakekat sesuatu.
Tugas guru sebagai mursyid artinya dia mampu menularkan penghayatan akhlak dan kepribadiannya kepada peserta didiknya baik yang berupa etos ibadah, etos kerja, etos belajar maupun dedikasinya yang serba lillahi ta’ala (mengharap semata-mata ridlo Allah).

Sebagai muadib artinya seorang guru adalah orang yang beradab serta mempunyai peran dan fungsi untuk membangun peradaban yang berkualitas dalam masyarakatnya.
Sedang sebagai mudarris artinya guru mampu mencerdaskan peserta didiknya, menghilangkan ketidaktahuan, menghilangkan kebodohan dan melatih keterampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemam-puannya.
Tugas sebagai seorang guru yang harus dilaksanakan bagi anak didiknya semestinya merupakan tugas kombinasi dari tugas murabbiy, mu’allim, mursyid, mu’adib dan mudarris. Hal ini sesuai dengan pendapat Imam Al Ghozali dalam ihya ulumuddin (55-58). 

Dalam salah satu penjelasannya Imam Al Ghozali mengatakan sebagai berikut:
Artinya: Mengasihi anak didiknya dengan memperlakukan mereka sebagai anaknya sendiri, Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya saya bagi kamu semua seperti bapak terhadap anaknya”, dan dengan tujuan menyelamatkan mereka dari api neraka, dan hal ini lebih penting dari penyelamatan orang tua atas anaknya dari api duniawi, oleh sebab itu haknya guru itu lebih utama dari hak kedua orang tua. 

Hal ini menunjukkan bahwa guru dalam perspektif Islam menempati posisi yang sangat mulia dan terhormat. Sebagaimana digambarkan oleh Imam Al Ghozali tersebut, jika orang tua cenderung menyelamatkan anak-anaknya dari api duniawi, maka guru dengan tugas-tugas pendidikan dan pengajarannya dapat menyelamatkan anak didiknya dari api neraka.

B.Peran Guru dalam Pendidikan Islam
Al-Qur’an tidak mengemukakan secara eksplisit ayat-ayat tentang pendidik inklusif guru, namun Al-Qur’an menegaskan kepada setiap pribadi muslim agar mewaspadai diri dan keluarganya agar tidak tersentuh oleh api neraka (QS. Al-zariat (66): 6 ). Jika pada ayat tersebut ditekankan perlinya kewaspadaan orang beriman terhadap diri sendiri dan keluarganya, maka dapat dipahami setiap orang beriman adalah pendidik. Sehubungan dengan itu maka tugas pendidik identik dengan tugas para rasul, yakni tazkiyah dan ta’lim. 

Tazkiyah yang berarti mensucikan fisik, fikir, jiwa dan qalb ( hati ) peserta didik, berusaha mengembangkan dan mendekat hanya kepada Allah SWT, seraya menjaga fitrahnya dari segala kemungkinan yang dapat merusak. Sedangkan ta’lim menyampaikan (mentransfer) ilmu pengetahuan. Adapun syari’at Allah kepada peserta didik untuk dipahami dan diaplikasikan dalam perilaku dalam kehidupan. Dua tugas tersebut disimpulkan dalam firman Allah SWT dalam Al-Qur’an.
Terjemahan :
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata ( QS. Ali Imran (3): 164
Dari dua tugas utama pendidik menurut firman Allah dalam surat ‘Ali ‘Imran tersebut, diketahui bahwa sifat pendidik secara umum adalah bersih jiwa, raga dan memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang luas (‘alim).

1.Bersih jiwa, raga dan matang dalam berpikir
Tanpa memiliki jiwa, raga yang bersih, ( suci ) dan pikiran mampu mensucikan jiwa raga peserta didik, mengembangkannya dan menjaga keutuhan fitrahnya, karena orang tidak mempunyai sesuatu mustahil bisa memberikan sesuatu kepada orang lain. Di antara rincian sifat-sifat itu adalah : ikhlas, adil, sabar, konsisten ( istiqomah ), dan bersemangat.

2.Ikhlas
Yang dimaksud Ikhlas adalah bahwa pendidik dalam melaksanakan tugasnya didorong oleh niat yang tulus dan kemauan yang kuat mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan. Hal ini menjadi pendidik untuk mewujudkan luaran yang berkualitas dalam ke’aliman dan kesalehannya. Tampaknya keikhlasa inilah yang menjadi roh keberhasilan pendidikan.

3.Adil
Yang dimaksud dengan adil dalam kaitan ini adalah sikap tidak pilih kasih terhadap peserta didik atau tidak melebihkan sebagian mereka atas yang lain kecuali bila sesuai dengan haknya. Ketidakadilan pendidik akan mengurangi wibawanya dan sangat mempengaruhi keberhasilan tugasnya. Ayat yang menunjukkan perlunya guru sebagai pendidik berlaku adil di antaranya firman Allah.
Terjemahan:
15. Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah[1343] sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya Berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)". 

4.Sabar
Sabar yakni bisa dan mampu mengendalikan diri, tidak emosi dan tidak putus asa. Perbedaan intelegensi, sikap dan karakter peserta didik menuntut kesabaran dan kreativitas pendidik untuk mengatasinya. Di antara ayat yang menunjukkan perlunya kesabaran. Dalam firman Allah.
Terjemahan:
24. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka.
5.Istiqomah (konsisten )
Istiqomah atau konsisten diartikan dengan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan. Ketidaksesuaian ucapan dan perbuatan seorang guru sebagai pendidik memberikan kesan negative kepada peserta didik.

Tugas utama pendidik inklusif guru menurut konsep pendidikan islam adalah :
1.Untuk melahirkan insan – insan yang berjiwa takwa, yakni insan yang hidupnya semata-mata untuk mengabdi ( menyembah ) kepada Allah SWT. Firman Allah :  
Terjemahan:
56.Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. Al-Zariyat).
2.Untuk melahirkan insan – insan yang bekerja sebagai khalifah fi al-ard ( duta Allah ). Mereka bekerja sepanjang masa untuk membangun syari’at Allah. Allah SWT. Berfirman:
Terjemahan:
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(Al-Baqarah)

Istilah lain yang lazim dipergunakan untuk pendidik ialah guru. kedua istilah  tersebut bersesuaian artinya. Bedanya ialah istilah guru seringkali dipakai di lingkungan pendidikan formal, sedangkan pendidik dipakaidi lingkungan pendidikan formal dan non formal.
Orang yang pertama bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan anak adalah orang tua ( ibu bapak ), berdasarkan hubungan kodrati ( hubungan darah ) yang secara langsung bertanggung jawab bagi anak-anaknya. Oleh karena kemampuan orang tua dari segi pengalaman dan pengetahuan maupun waktu terbatas, maka merka menyerahkan sebagian tanggung jawab kepada orang lain yang memiliki potensi untuk melaksanakan tugas pendidik.
Para ahli pendidik islam sepakat bahwa tugas guru ialah mendidik. Mendidik mengandung makna yang amat luas. Mendidik dapat diartikan dalam bentuk mengajar , atau dalam bentuk memberikan dorongan, memujii, menghukum, member contoh, membiasakan dan lain-lain (Ahmad Tafsir,1992).
A.G Soejono dan Ahmad Tafsir ( 1992 ), merinci tugas pendidik ( termasuk guru ) sebagai berikut :
1.wajib menemukan pembawaan yang ada pada anak-anak didik dengan berbagai cara seperti observasi , wawancara, melalui pergaulan, angket, dan sebagainya;
2.Berusaha menolong anak didik mengembangkan pembawaan yang baik dan menekan perkembangan pembawaan yang buruk agar tidak berkembang;
3.memperlihatkan kepada anak didik tuga orang dewasa dengan cara memperkenalkan berbagai bidang keahlian, dan keterampila agar anak didik memilihnya dengan tepat;
4.mengadakan evaluasi setiap waktu untuk mengetahui apakh perkembangan anak didik berjalan dengan baik;
5.memberikan bimbingan dan penyuluhan tatkala anak didik menemui kesulitan dalam mengembangkan potensinya;
Guru sebagai pendidik memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar yang mengharuskan paling tidak harus memiliki tiga kualifikasi dasar yaitu menguasai materi, antusiasme, dan kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik. Seorang guru harus mengajar hanya berlandaskan cinta sesama manusia tanpa memandang status social ekonomi , agama, kebangsaan dan sebagainya. Misi utama guru mempersiapkan anak didik sebagai individu yang bertanggung jawab dan mandiri, bukan menjadikannya manja dan menjadi beban masyarakat. Pencerdasan harus berangkat dari pandangan filosofis guru bahwa anak didik adalah individu yang memiliki beberapa kemampuan dan keterampilan. 

Dalam pendidikan islam, pendidik memliki arti dan peranan yang sangat penting. Hal ini disebabkan ia memiiki tanggung jawab dan menentukan arah pendidikan. Oleh karena itu, islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmupengetahuan dan berprofesi sebagai guru atau pendidik. Islam mengangkat derajat mereka dan memuliakan mereka melebihi dari seorang islam lainnya yang tidak berilmu pengetahuan dan bukan pendidik.
Allah SWT berfirman
Terjemahan:
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Rasulullah bersabda : 

“sesungguhnya Allah Yang Maha Esa, para malaikat-Nya, penghuni-penghuni langit-Nya, termasuk semut dalam lubangnya dan ikan-ikan di dalam laut, akan mendo’akan keselamatn bagi orang-orang yang mengajar manusia kepada kebaikan”( HR. Tirmizi )

Agar guru sebagai pendidik berhasil dalam melaksanakn tugas dan tanggung jawab yang diamanatkan kepadanya, Allah SWT member petunjuk sebagaimana firman-NYA dalam ( QS. Al—Muddatsir(74):1-7)
Terjemahan:
1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
4. dan pakaianmu bersihkanlah,
5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih    banyak .
7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. 

Orang yang berilmu memiliki peranan yang mulia , keutamaan yang agung dan kedudukan yang tinggi. Karena itu, para pendidik sebaiknya menyadari makna tersebut dan meletakkannya di pelupuk mata dan lubuk hati mereka. Sebab apa yang merka persembahkan di jalan ilmu akan meninggikan pamor mereka, dan manfaatnya akan kembali kepada diri dan umat mereka.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dokumen-dokumen syariat, pernyataan ulama salaf dan kata-kata para ahli hikmah banyak mengungkapkan keutamaan ilmu, para penyandang ilmu dan penyebar ilmu di tengah-tengah manusia.

Allah berfirman:
Terjemahan:
9.(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.Selanjutnya Allah berfirman: 
Terjemahan:
28. dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama ( Orang) berilmu pengetahuan. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah
Ibnu abbas berkomentar, “ ulama itu seratus derajat di atas kaum beriman, jarak antara dua derajat itu adalah seratus tahun ( perjalanan). Karena itu alangkah mulianya profesi mengajar itu dan alangkah agungnya kemuliaan dan urgensinya.
 
Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dalan Ahmad yaihu, ( 2002 )mengemukakan sejumlah tugas yang menjadi tanggung jawab yang harus diemban oleh seorang guru sebagai berikut:
1)Senantiasa bertakwa dalam setiap keadaan;
2)Akrab dengan Al-Qur’an dan membacanya dengan perenungan (tadabbur) dan kontemplasi (ta’aqqul);
3)Senantiasa berdzikir;
4)Senantiasa menambah ilmu pengetahuan dan berdo’a ( ya Allah tambahkanlah ilmu kepadaku)
5)Ikhlas;
6)Keteladanan;
7)Melaksanakan amanah ilmiah;
8)Menghormati ulama
9)Menjauhi tempat-tempat yang meragukan
10)Memenuhi hak teman-teman;
11)Saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan;
12)Memiliki visi memperbaiki kualitas diri;
13)Budi pekerti mulia;
14)Tawadhu;dll

Agar seorang guru cakap dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru, maka ia harus melengkapi diri dengan beberapa kompetensi. Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru antara lain, kompetensi pribadi dan sosial dan kompetensi profesional dalam dua belas item yaitu:
1.Guru menghayati serta mengamalkan nilai hidup (termasuk nilai moral dan keimanan).
2.Guru hendaknya bertindak jujur dan bertanggung jawab.
3.Guru mampu berperan sebagai pemimpin baik dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
4.Guru bersikap bersahabat dan terampil berkomunikasi dengan siapapun demi tujuan yang baik.
5.Guru mampu berperan serta aktif dalam pelestarian dan pengembangan budaya masyarakatnya.
6.Guru tidak kehilangan prinsip hidup dan nilai yang diyakininya dalam persahabatan dengan siapapun.
7.Guru bersedia ikut berperan dalam berbagai kegaiatan sosial baik dalam lingkungan kesejawatannya atau lingkungan masyarakat pada umumnya.
8.Guru adalah pribadi yang bermental sehat dan stabil.
9.Guru tampil secara pantas dan rapi.
10.Guru mampu berbuat kreatif dengan penuh perhitungan.
11.Guru hendaknya mampu bertindak tepat waktu dalam janji dan melaksanakan tugas-tugasnya dan relasi sosial dan relasi profesionalnya.
12.Guru hendaknya dapat menggunakan waktu luangnya di luar tuntutan tugas keguruannya secara bijaksana dan produktif.

Tanggungjawab yang harus diemban oleh guru pada umumnya, khususnya guru agama dengan fungsinya yang meliputi :
1.Tanggung jawab moral,
2.Tanggung jawab dalam bidang penddikan,
3.Tanggung jawab dalam bidang kemasyarakatan,
4.Tanggung jawab dalam bidang keilmuan. 
Demikianlah sejumlah kewajiban-kewajiban yang, menjadi amanah dan tanggung jawab guru yang cukup berat tetapi maha mulia.

BAB III
PENUTUP 
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelesan sebelumnya tentang tugas dan tanggung jawab guru dalam pendidikan islam maka dapat kami simpulkan :
1.Makna guru dalam pendidikan islam orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.
2.Peran guru dalam pendidikan islam sangat beragam diantaranya murabbiy, mu’allim, mursyid, mu’adib dan mudarris, hal ini sesuai dengan dalil dalam Al-Qur’an seperti yang terdapat dalam QS. Ali imran.

DAFTAR PUSTAKA
A. Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Departemen Agam RI, 2014, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: yayasan penyelenggara dan Penterjemah al-Qur’an.
Getteng, Abd. Rahman, 2009, Menuju Guru Profesional dan Ber-Etika, Yogyakarta: Grha Guru.
Hamalik, Oemar, 2006, Pendidikan Guru berdasarkan Kedekatan Kompetensi, Jakarta: Bumi Aksara.
Samana. 1994. Principles and Methods of Teaching, Yogyakarta: Kanisius.
Http://MuhammadHafidz.blogspot./guru_dan_profesinya_dalam_persfektif_islam.2014.

Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat

 MAKALAH FILSAFAT
"PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP FILSAFAT"


 DI SUSUN OLEH:
SAMSUL BAHRI
20700113033



JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang 
Banyak sekali orang yang tidak mengetahui apa itu filsafat, baik orang yang hidupnya di lingkungan pendidikan, maupun yang jauh dari pendidikan, seperti di pedesaan maupun di perkotaan. Padahal mereka sadari sebenarnya mereka dekat dengan filsafat dan mereka juga pernah berfilsafat. Dalam menjalani kehidupan ini kita sering mengandalkan filsafat, tetapi terkadang kita tidak menyadari bahwa yang kita lakukan itu merupakan sebuah filsafat.

Kita sering merenung, berfikir apa yang hendak kita capai dan kita raih apabila kita lulus kuliah nanti, dalam perenungan itu kita banyak sekali muncul pertanyaan-pertanyaan dan pilihan-pilihan sebagai alternatif  jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul, begitu pula untuk hal-hal yang lain yang didalamnya memerlukan pemikiran-pemikiran secara mendalam. Apabila kita terus mencari dan terus mencari jawaban dari pertanyaan tadi dengan berbagai metode sampai kiranya kita dapat menemukan kebenaran, maka akan lahir sebuah pengetahuan bagi kita. Begitu pula dengan pendidikan, yang melatar belakangi pendidikan adalah ide-ide yang lahir dari filsafat yang tentu saja semua itu perlu proses untuk menemukannya. Dari gambaran sederhana tersebut dapat kita ketahui bahwa filsafat itu merupakan tindakan memikirkan, merenungkan segala sesuatu secara mendalam sampai keakar-akarnya.

Segala sesuatu yang kita kenal selama ini tidaklah lahir begitu saja, nama suatu benda, hewan, manusia, dan lain-lain saja mengandung filsafat dibaliknya. Termasuk pula segala ilmu pengetahuan yang jumlahnya mungkin susah untuk dihitung yang bertebaran dimuka bumi ini lahir dari sebuah proses panjang yang dinamakan filsafat.

Semua itu mendorong manusia untuk memikirkan kembali pengertian tentang kebenaran. Sebab setiap terjadi perubahan dalam peradaban akan berpengaruh terhadap sistem nilai yang berlaku, karena antara perubahan peradaban dengan cara berfikir manusia terdapat hubungan timbal balik.

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
1.Apa pengertian filsafat tersebut?
2.Apa pengertian filsafat pendidikan?
3.Bagaimana ruang lingkup filsafat?
4.Bagaimana hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan?
5.Bagaimana hubungan filsafat dengan fakultas tarbiyah?

C.Tujuan                                                                                                           
Berdasarkan rumusan masalah di atas, makalah ini bertujuan sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui pengertian filsafat tersebut.
2.Untuk mengetahui filsafat pendidikan
3.Untuk mengetahui ruang lingkup filsafat.
4.Untuk mengetahui hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan
5.Untuk mengetahui hubungan filsafat dengan fakultas tarbiyah.

D.Manfaat
Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.Sebagai bahan masukan bagi pembaca untuk menambah pengetahuan tentang pengertian filsafat tersebut.
2.Dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi masyarakat untuk bisa mengetahui cabang-cabang filsafat dan aliran-aliran dalam filsafat.
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Filsafat dan Definisi Filsafat 
Secara epistimologis, istilah “filsafat”, yang merupakan padanan kata falsafah (bahasa arab) dan philosophy (Bahasa inggris) berasal dari bahasa yunani (Philosophia). Kata Philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata philos dan sophia. Kata philos berarti kekasih, bisa juga berarti sahabat. Adapun sophia berarti kebijaksanaan atau kearifan, bisa juga berarti pengetahuan. Jadi, secara harfiah Philosophia berarti yang mencintai kebijaksanaan atau sahabat pengetahuan. Oleh karena istilah Philosophia telah di-indonesiakan menjadi “filsafat”, seyogyanya ajektivanya ialah "filsafati" dan bukan “filosofis”. Apabila mengacu kepada orangnya, kata yang tepat digunakan ialah “filsuf” dan bukan “filosof“. Kecuali bila digunakan kata “filosofi” dan bukan “filsafat”, maka ajektivanya yang tepat ialah "filosofis". sedangkan yang rnengacu kepada orangnya ialah kata “filosof”.1
 

Menurut tradisi kuno, istilah Philosophia digunakan pertama kali oleh Pythagoras (sekitar abad ke-6 SM). Ketika diajukan pertanyaan apakah ia seorang yang bijaksana, dengan rendah hati Pythagoras menjawab bahwa ia hanyalah “phiilosophos”, yakni orang yang mencinrai pengetahuan. Akan tetapi, kebenaran kisah itu sangat diragukan karena pribadi dan kegiatan Pythagoras telah bercampur dengan berbagai legenda: bahkan, tahun kelahiran dan kematiannya pun tak diketahui dengan pasti. Yang jelas, pada masa Sokrates dan Plato. istilah Philosophia dan phiilosophos sudah cukup populer.2
 

Untuk memahami apa sebenarnya filsatat itu, tentu saja tidak cukup hanya mengetahui asal usul dan arti istilah yang digunakan, melainkan juga harus memperhatikan konsep dan definisi yang diberikan oleh para filsuf menurut pemahaman mereka masing-masing. Perlu pula dikatakan bahwa konsep dan definisi diberikan oleh para filsuf itu tidak sama. Bahkan, dapat dikatakan bahwa setiap filsuf memiliki konsep dan membuat definisi yang berbeda dengan filsuf lainnya. Karena itu, ada yang mengatakan bahwa jumlah konsep dan definisi filsafat adalah sebanyak jumlah filsuf itu sendiri.4
 

Berikut ini, akan diketengahkan beberapa konsep dan definisi yang kiranya memadai untuk memberi gambaran lebih jelas tentang apakah filsafat itu.5 
Para filsuf pra-Sokratik mempertanyakan tentang awal atau asal mula alam dan berusaha menjawabnya dengan menggunakan logos atau rasio tanpa meminta bantuan (mitos). Oleh sebab itu, bagi mereka, filsafat adalah ilmu yang berupaya untuk memahami hakikat alam dan realitas ada dengan mengandalkan akal budi.
Plato memiliki berbagai gagasan tentang tilsafat. Antara lain, Plato pernah
mengatakan bahwa filsafat adalah “ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni”. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada.
 

Aristoteles (murid Plato) juga rnemiliki beberapa gagasan mengenai filsafat. Antara lain, ia mengatakan bahwa filsafat adalah “ilmu pengetahuan yang senantiasa berupaya mencari prinsip-prinsip dan penyebab-penyebab dari realitas ada”. Ia pun mengatakan bahwa filsatat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari "peri ada selaku peri ada" (being as being) atau "peri ada sebagaimana adanya" (being us such).
Rene Descartes, filsuf Prancis yang termasyhur dengan argumen je pense, donc je suis, atau dalam bahasa Latin cogito ergo sum  (“aku berpikir maka aku ada”). mengatakan bahwa filsalat adalah “himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam, dan manusia”.
 

Bagi William James, filsuf Amerika yang terkenal sebagai tokoh pragmatisme dan pluralisme, filsafat adalah suatu upaya yang luar biasa hebat untuk berpikir yang jelas dan terang. R.F. Beerling, yang pernah menjadi guru besar filsafat di Universitas lndonesia, dalam bukunya Filsafat Dewasa Ini mengatakan bahwa filsafat "memajukan pertanyaan tentang kenyataan seluruhnya atau tentang hakikat, asas, prinsip dari kenyataan". Beerling juga mengatakan bahwa filsafat adalah suatu usaha untuk mencapai radix, atau akar kenyataan dunia wujud, juga akar pemgetahuan tentang diri sendiri.7
 

Konsep atau gagasan dan definisi filsafat yang begitu banyak tidak perlu membingungkan, bahkan sebaliknya justru menunjukkan betapa luasnya samudera filsafat itu sehingga tidak terbatasi oleh sejumlah batasan yang akan mempersempit ruang gerak filsafat. Perbedaarr-perbedaan itu sendiri merupakan suatu keharusan bagi filsafat sebab kesamaan dan kesatuan pemikiran serta pandangan justru akan mematikan dan menguburkan filsafat untuk selama-lamanya.8
 
B.Pengertian Filsafat Pendidikan 
Dalam arti yang sangat luas, dapatlah dikatakan bahwa filsafat pendidikan ialah pemikiran-pemikiran filsafati tentang pendidikan. Ada yang mengatakan bahwa lilsafat pendidikan ialah filsafat tentang proses pendidikan, dan ada pula yang mengatakan bahwa filsafat pendidikan ialah filsafat tentang disiplin ilmu pendidikan (the philosophy of the discipline of education). Filsafat tentang proses pendidikan bersangkut-paut dengan cita-cita, bentuk, metode, atau hasil dari proses pendidikan. Adapun filsafat tentang disiplin ilmu pendidikan bersifat metadisipliner, dalam arti bersangkut paut dengan konsep-konsep, ide-ide, dan metode-metode disiplin ilmu pendidikan. Secara historis, filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh para filsuf, seperti Aristoteles, Augustinus, dan Locke, adalah filsafat tentang proses pendidikan sebagai bagian dari sistem filsafat mereka dalam konteks teori-teori etika, politik, epistemologi, dan metafisika yang mereka anut. Adapun filsafat pendidikan yang dikembangkan akhir-akhir ini, oleh pengaruh filsafat analitik, merupakan filsafat tentang disiplin ilmu pendidikan dalam konteks dasar-dasar pendidikan ( foundations of education) yang dihubungkan dengan bagian-bagian lain dalam disiplin ilmu pendidikan, yaitu sejarah pendidikan, psikologi pendidikan, dan sosiologi pendidikan.9

Ada beberapa aliran filsafat yang begitu mempengaruhi perkembangan filsafat pendidikan sampai saat ini.  
Beberapa aliran yang sangat penting akan dibicarakan secara singkat berikut ini.10
Filsafat analitik tidak mengetengahkan dan membahas proposisi-proposisi substantif ataupun persoalan-persoalan faktual dan normatif tentang pendidikan. Filsafat pendidikan analitik menganalisis sefta menguraikan istilah-istilah dan konsep-konsep pendidikan seperti pengajaran (teaching), kemampuan (ability), pendidikan (education). dan sebagainya, serta mengecam dan mengklarifikasi berbagai slogan pendidikan seperti "ajarlah anak-anak dan bukan mata pelajaran" (teach childrent, not subjects). Alat-alat yang digunakan oleh filsafat analitik untuk melaksanakan tugasnya adalah logika dan linguistik serta teknik-teknik analisis yang berbeda antara seorang filsuf dan filsuf lain.
 

Progresivisme berpendapat bahwa pendidikan bukan sekedar mentransfer pengetahuan kepada anak didik, melainkan melatih kemampuan dan keterampilan berpikir dengan memberi rangsangan yang tepat. John Dewey (tokoh pragmatis-me), yang temasuk dalam golongan progresivisme, menyatakan bahwa sekolah adalah institusi sosial dan pendidikan itu sendiri adalah suatu proses sosial. Selanjutnya, pendidikan adalah proses kehidupan (process of living), bukan sebagai persiapan untuk masa depan. Pendidikan adalah proses kehidupan itu sendiri, maka kebutuhan individual anak didik harus lebih diutamakan, bukan subject-oriented.
 

Eksistensialisme menyatakan bahwa yang menjadi tujuan utama pendidikan bukan agar anak didik dibantu mempelajari bagaimana menanggulangi masalah-masalah eksistensial mereka melainkan agar dapat mengalami secara penuh eksistensi mereka. Para pendidik eksistensialis akan mengukur hasil pendidikan bukan semata-mata pada apa yang telah dipelajari dan diketahui oleh si anak didik, tetapi yang lebih penting ialah apa yang mampu mereka ketahui dan alami. Para pendidik eksistensialis menolak pendidikan dengan sistem indoktrinasi. Rekonstruksionisme terutama merupakan reformasi sosial yang menghendaki renaisans sivilisasi modem. Parapendidik rekonstruksionalis melihat bahwa pendidikan dan reformasi sosial itu sesungguhnya sama. Mereka memandang kurikulum sebagai “problern-contered”.

C.Ruang Lingkup Filsafat 
Filsafat merupakan sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang baisanya diterima secara kritis atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap terhadap kepercayaan da sikap yang sangat kita junjung tinggi. Adapun menurut pendapat para ahli tentang ruang lingku filsafat:11
1.Tentang hal mengerti, syarat-syaratnya dan metode-metodenya.
2.Tentang ada dan tidak ada.
3.Tentang alam, dunia dan seisinya.
4.Menentukan apa yang baik dan apa yang buruk.
5.Hakikat manusia dan hubungannya dengan sesama makhluk lainnya.
6.Tuhan tidak dikecualikan.
 

Adapun ruang lingkup filsafat adalah segala sesuatu lapangan pikiran manusia yang amat luat. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar, benar ada (nyata), baik material konkrit maupuan nonmaterial abstrak (tidak terlihat). Jadi obyek filsafat itu tidak terbatas. Objek pemikiran filsafat yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan mausia, alam semesta dan alam sekitarnya adalah juga objek pemikiran filsafat pendidikan.12

D.Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan
Pandangan filsafat pendidikan sama pernaannya dengan landasan filosofis yang menjiwai seluruk kebijaksanaan pelaksanaan pendidikan. Antara filsafat dan pendidikan terdapat kaitan yang sangat erat. Filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra tersebut. Formula tentang hakekat dan martabat manusa serta masyarakat terutama di Indonesia dilandasi oleh filsafat yagn dianus bangsa Indonesia dilandasi oleh fislafat yagn dianus bangsa Indonesia yaitu Pancasila.Pancasila merupakan sumber dari segala gagasan mengenai wujud manusia dan masyarakat yang dianggap baik, sumber dari egama sumber yang menadi pangkal serta muara dari setiap keputusan dan tindakan dalam pendidikan dan pembelajaran.13
 

Filsafat mengadakan tinjauan yang luas mengani realita, maka dikupaslan antara lain pandangan dunia dan pandangan hidup. Konsep-konsep mengenai ini dapat menjadi landasan penyusunan konsep tujuan dan metodologi pendidik. Disamping itu, pengalaman pendidik dalam menuntut pertumbuhan danperkembangan anak akan berhubungan dan berkenalan dengan realita. Semuanya itu dapat disampaikan kepada filsafat untuk dijadikan bahan-bahan pertimbangan dan tinjauan untuk memperkembangkan diri. Hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut :14
1.Filsafat mempuyai objek lebih luas, sifatnya universal. Sedangkan filsafat pendidikan objeknya terbatas dalam dunia filsafat pendidikan saja.
2.Filsafat hendak memberikan pengetahuan/ pendiidkan atau pemahaman yang lebih mendalam dan menunjukkan sebab-sebab, tetapi yang tak begitu mendalam.
3.Filsafat memberikan sintesis kepada filsafat pendidikan yang khusus, mempersatukan dan mengkoordinasikannya.
4.Lapangan filsafat mungkin sama dengan lapangan filsafat pendidikan tetapi sudut pandangannya berlainan.
 

Dalam menerapkan filsafat pendidikan, seoran guru sebagai pendidik dia mengharapkan dan mempunyai hak bahwa ahli-ahli filsafat pendidikan menunjukkan dirinya pda masalah pendiidkan pad aumumnya serta bagaimana masalah itu mengganggu yang menyangkut masalah perumusan tujuan, kurikulum, organisasi sekolah dan sebagainya. Dan para pendidik juga mengahrapkan dari ahli filsafat pendiidkan suatu klasifikasi dari uraian lebih lanjut dari konsep, argumen dirinya literatur pendidikan terutam adalam kotraversi pendidikan sistem-sistem, pengjuian kopetensi minimal dan kesamaan kesepakatan pendidikan.15
 

Brubacher (1950) mengemukakan tentang hubungan antara filsafat dengan filsafat pendidikan, dalam hal ini pendidikan : bahwa filsafat tidak hanya melahirkan sains atau pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat merupakan kegiatan berpikir manusia yang berusaha untuk mencapai kebijakan dankearifan. Sedangkan filsafat pendidikan merupakan ilmu ayng pad ahakekantya jawab dari pertanyaa-pertanyaan yagn timbul dalam lapangan pendidkan. Oleh karen aberisfat filosofis, dengan sendirinya filsafat pendidikan ini hakekatnya adalah penerapan dari suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan.16

E.Hubungan Filsafat dengan Filsafat Fakultas Tarbiyah
Filsafat pendidikan merupakan salah satu ilmu terapan, adalah cabang ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada bidang pendidikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup dan penghidupan manusia pada umumnya dan manusia yang berpredikat pendidik atau guru khususnya.17
Fakultas tarbiyah adalah merupakan bagian dari lembaga pendidikan, filsafat yang menjadi landasan pendidikannya adalah ajaran islam. Dengan demikian filsafat pendidikan islam merupakan landasan pokok dari program fakultas tarbiyah, dikarenakan secara realita fakultas tarbiyah adalah suatu lembaga pendidikan yang dinafasi oleh ajaran islam.18

Karena fungsi filsafat sangat penting dalam pendiddikan , maka fakultas tarbiyah sebagai fakultas yang mencetak atau memproduksi calon pendidik, maka dalam fakultas tarbiyah mata kuliah filsafat pendidikan merupakan MKDK ( Mata Kuliah Dasar Khusus ) yang wajib diikuti oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Tarbiyah. Sesuai dengan namanya tarbiyah yang berarti pendidikan. Sebagai pendidik, meraka diharapkan dapat membantu dalam memecahkan problema-problema yang ada dalam pendidikan islam.19

Fakultas Tarbiyah pada dasarnya mengembangkan pendidikan Agama Islam yang bertujuan:20a)Membentuk manusia muslim Indonesia yang berciri intelektualitas di tengah-tengah kehidupan yang sejahtera yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang mempunyai integritas kejujuran dan intelektual serta keahlian dalam satu atau lebih dalam ilmu Tarbiyah.
b)Menghasilkan ahli pendidikan yang sesuai dengan profesionalitas yang mampu berpikir inovatif dalam mengembangkan pendidikan keilmuan di bidang pendidikan Islam dan Pendidikan umum, serta mampu menerapkan pengembangannya serta mengkomunikasikan ide-ide dan nilai-nilai pendidikan nasional dalam menghadapi perubahan social dan memimpin modernisasi.
Fakultas tarbiyah yang berkecimpung dalam masalah kependidikan dengan problema-problemanya, maka keberadaan filsafat pendidikan tidak bisa diabaikan dan karenanya sangat perlu dipelajari dan diperdalami. Menurut Woodsidge dalam Barnadib (1994:16) mempelajari dan memperdalam filsafat pendidikan khususnya bagi mereka yang bergelut dengan ilmu pengetahuan dan keguruan, yang mempunyai bebrapa alasan:21
Munculnya problem pendidikan dari masa ke masa yang menjadi perhatian para ahli (experts) masing masing. Pendidikan merupakan uasaha manusia meningkatkan kesejateraaan lahir dan batin suatu bangsa dan masyarakat. Buah pikiran seorang ahli yang bercorak dan bergagasan berlandaskan filsafat seringkali mempengaruhi aihli piker yang lain.22
a)dengan mempelajari filsafat pendidikan akan memiliki wawasan yang luas dan didapat secara eksperimental dan empiric. Karenanya filsafat pendidikan merupakan bekal dalam meninjau pendidikan problemanya secara kritis.
b)memepelajari filsafat juga mempengaruhi tuntutan intelektual dan akademik hal dikarenakan filsafat meletakkan landasan berfikir logis, sistematis, kritis dan teratur, karenanya berfilsafat pendidikan diharapkan memenuhi kemamapuan semacam itu sehingga berpengaruh pada pembentikan pribadi. Pendidik yang baik, dan dengan mempelajarinya akan memiliki sikap optimisme dan motivasi serta menggembirakan.
Hubungan filsafat pendidikan dengan program fakultas tarbiyah merupakan hubungan yang sangat erat dan mempunyai nilai relevansi yang tnggi. Hal ini disebabkan keberadaan filsafat pendidikan akan membantu memecahkan persoalan pendidikan islam dan dapat memebentuk kepribadian pendidik, anak didik atau calon pendidik dan semua yang terlibat dalam dunia pendidikan, sehingga nalurinya diharapkan tercipta manusia yang beriman, bertaqwa dan berbudi luhur serta berketermpilan memang dapat terwujud, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.23

BAB III
PENUTUP 
A.Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1.Filsafat adalah ilmu yang menggambarkan usaha manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran atau kenyataan baik yang mengenai diri sendiri maupun segala sesuatu yang dijadikan objeknya.
2.Pendidikan adalah usaha sadar, terencana, sistematis dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi-potensi bawaan manusia, memberi sifat dan kecakapan, sesuai dengan tujuan pendidikan.
3.Ruang lingkup filsafat yaitu: Merumuskan secara tegas sifat hakiki pendidikan, dan hakikat manusia sebagai subjek dan objek pendidikan.
4.Hubungan antara filsafat, pendidikan dan manusia secara singkat adalah sebagai berikut; filsafat digunakan untuk mencari hakekat manusia, sehingga diketahui apa saja yang ada dalam diri manusia. Hasil kajian dalam filsafat tersebut oleh pendidikan dikembangkan dan dijadikannya (potensi) nyata berdasarkan esensi keberadaan manusia.
5.Hubungan filsafat pendidikan dengan program fakultas tarbiyah merupakan hubungan yang sangat erat dan mempunyai nilai relevansi yang tnggi.

DAFTAR PUSTAKA
file:///H:/Document/pengertian-filsafat-dan-hubungan.html
Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat (Yokyakarta: Kanisius, 1995), hlm. 82
R.F. Berling, Filsafat Dewasa Ini (Jakarta: P.N. Balai Pustaka, 1966),
Suriasumantri, S. Jujun. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996),